Daur-II • 297

Khilafah Para Titah

Di antara manusia-manusia selama beratus-ratus bangunan sejarah peradaban, ummat manusia di Zaman Now inilah yang paling tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa mereka serius mengurusi manusia. Kemajuan harta bendanya canggih, pembangunan peralatan fisiknya dahsyat, tetapi sukar menemukan gejala bahwa mereka peduli kepada manusia.

Tidak peduli, atau memang tidak mengerti dan tidak merasa punya keperluan untuk mengerti manusia dalam konteks infinitas ruang dan keabadian waktunya. Yang mereka maksud dengan manusia dan peradaban hanyalah animasi kartun instan dan sesaat. Mereka berderap beramai-ramai penuh riang gembira menuju jurang. Mereka sangat sibuk menggagas kehancuran. Kemudian muncul generasi berikutnya belajar, bersekolah dan merancang kehancuran berikutnya.

Manusia-manusia yang paling terpelajar, bekerjasama dengan yang paling punya uang, sangat sibuk berjuang agar bisa memanjat naik panggung yang disorot oleh spotlight sejarah, kemudian berebut mikrofon. Per lima tahun. Begitu menapakkan kakinya di panggung, mereka bergerak-gerak mengarang koreografi artifisial, membusungkan dada, membengkakkan kepala, dan merasa sedang menikmati sukses. Kemudian berebut mikrofon untuk meneriakkan halusinasi dan memekikkan khayalan-khayalan.

Mungkin karena itu maka Mbah Markesot berpesan kepada anak cucunya agar belajar menjadi “janin” dan menapaki hidup dari Do. Janin yang tidak punya kemampuan untuk membiakkan sel-selnya sendiri, memperkembangkan dan mengevolusikan fisiknya hingga ke penggelembungan ruang-ruang kesadaran intelektual, sebagai bagian yang paling kasar dari kosmos spiritual.

Janin yang kemudian menjadi bayi. Bayi keluar dari Rahim Ibunya dan belum mengetahui siapa sebenarnya yang berinisiatif dan mendorongnya keluar melewati lubang sakral itu ke hamparan dunia yang penuh khayal dan kebodohan. Sang Ibu juga hanya merespons. Ibu hanya mengejan untuk membantu si bayi keluar. Juga tanpa kesadaran bahwa pelaku keluarnya bayi itu bukanlah si bayi itu sendiri.

Tarmihim tertawa sendiri. Andaikan Markesot ditanya: “Kalau memang kita tercampak dan hidup di semesta khayalan, digerak-gerakkan atau sedikit menggerak-gerakkan diri sebagai gumpalan hologram, menuruti qadla qadar sistem animasi dan dinamika ijtihad simulasi-simulasi takdir, nasib dan ajal – bisakah kita menjadi bukan makhluk animasi ka-annani ka-annaka ka-annahu ka-annahum ka-annana?”

Markesot sudah bisa diduga jawabannya: “Sangat segera kita akan bergerak menuju tahap kedua dari rentang keabadian. Kita tidak bisa membawa 99% barang-barang dan sukses-sukses yang secara sangat dungu kita himpun selama di babak pertama, diongkosi dengan pertengkaran, perebutan, saling menghancurkan, saling menghina dan memusnahkan di antara kita.”

“Memasuki semester berikutnya yang kita bawa hanya presisi makrifat kita atas diri kita sendiri. Sekarang kita menjadi bagian dari peradaban Zaman Now yang tidak mengerti perbedaan substansial antara Basyar, ‘Alamin, Nas, Insan, Abdullah atau Ibadullah, serta dengan Titah atau Khalifah. Bahkan sebelum berita para Nabi tiba, manusia di Pulau Jawa sudah merumuskan dirinya adalah Titah, yang di pundaknya terpanggul Khilafah. Tetapi semakin Zaman Now semakin tidak ada manajemen ilmu tentang itu. Sehingga tidak berlangsung pula ketepatan kemanusiaan dalam membangun Negara, Bangsa, kebudayaan dan peradaban”.

“Di puncak kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini mungkinkah ada satu saja manusia dewasa yang tidak tahu pernyataan Tuhan ini: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan Khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’“. [1] (Al-Baqarah: 30)

“Mungkinkah ada kaum terpelajar yang tidak mengerti bahwa Khalifah adalah pelaku atau subjek Khilafah?”

Tarmihim tertawa lagi. “Cak Sot, kayaknya kita perlu memohon Abu Nawas untuk datang ke Negeri ini…”, katanya.

Markesot tersenyum. “Ini pasti soal radikalisme pisau dan alat kelamin…”, katanya.

Yogya, 11 Desember 2017