CakNun.com
Daur-II196

Kesembronoan Ilmu

Salah satu yang paling dominan dalam kehidupan ummat manusia, menurut Mbah Sot, termasuk pada Kaum Muslimin, adalah kesembronoan ilmu.

Seperti yang tadi diungkapkan oleh Pakde Brakodin. Ketika Allah berfirman “agar Kami mengetahui”, orang menyangka Allah punya kemungkinan untuk pernah tidak tahu. Tidak ada ingatan dan kesadaran tentang dialektika lipatan subjek-objek sebagaimana retorika seorang Bapak kepada tetangganya membahasakan anaknya dengan meletakkan diri pada posisi anaknya. Atau Guru kepada muridnya. Juga Tuhan kepada hamba-Nya.

Ketika Allah menyebut diri-Nya “Kami”, orang sembrono dan merasa lega menemukan Tuhan ternyata tidak Tunggal, tidak Satu, tidak Ahad, buktinya bilang “Kami”. Mereka menyuruh Tuhan bekerja sendiri, mengurusi hujan dan angin sendiri, menumbuhkan tanaman sendiri, mencabut nyawa sendiri, menggelombangkan lautan sendiri, mendetakkan jantung manusia sendiri, meletuskan gunung sendiri, dan menggoyangkan gempa bumi sendiri.

Manusia melarang Tuhan untuk menciptakan staf-staf-Nya, para pembantu-Nya, Malaikat-Malaikat-Nya. Kemudian tatkala Allah menginformasikan “Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. [1] (Al-Qiyamah: 23), mereka berpikir bahwa akan bisa melihat Allah dengan matanya yang di dunia ini mereka pakai berlebihan untuk melihat lembaran uang, gemerlap gedung-gedung, warna-warni teknologi, wajah perempuan yang mereka simpulkan itu adalah kecantikan.

Kesembronoan ilmu manusia membuat mereka merasa yakin sedang melihat cahaya, melihat api, melihat ombak dan gelombang, serta melihat sangat banyak hal yang pada hakikatnya bukan yang mereka rumuskan itu yang mereka lihat. Padahal ilmu Fisika, Biologi, Matematika, bahkan kegagahan IT mereka serasa telah tiba di puncak peradaban. Mungkin itu muatan tertawa Mbah Sot.

Lainnya

Aku Ingin Mencium Kaki Cak Nun

Aku Ingin Mencium Kaki Cak Nun

Apa yang perlu saya banggakan lagi Cak?! Ketika mendengar ceramah-ceramah jenengan, bukan saja kebanggaan ini saja yang hilang, bahkan kehormatan saya pun tercerai berai diberangus keburukan diri yang mulai tampak jelas ketika jenengan berorasi.

Pernyataan Yang Mengerikan

Pernyataan Yang Mengerikan

Sejak ketika usia 4 tahun saya mulai disuruh qiro`ah di depan umum, diajari oleh Ibu saya paket “Wa biHi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din”.