Keseimbangan Dinamis-Realistis Silmul Islam dan Islamus Silmi

Reportase Pengajian Padhangmbulan, Selasa 11 April 2017

23 tahun usia Padhangmbulan. Usia yang secara biologis menjadi gerbang untuk memasuki kematangan-kematangan. Namun, selama 23 tahun itu “penampilan” Padhangmbulan yang sederhana dan tidak ada cuatan kemegahan, atau menurut Cak Nun pengajian kok mbembet, justru menyimpan kematangan dan kedalaman.

Saya merasakannya ketika Selasa, 11 April 2017, Cak Nun tidak hadir di Padhangmbulan, dan jamaah tetap setia, duduk bersila, mengarungi keluasan dan kedalaman ilmu.

Antara Islam, Silmu, dan Kaffah

Cak Yus menyampaikan tema pengajian Padhangmbulan malam itu adalah diam sejenak, thuma’ninah, mengendapkan diri, menakar dan merenungi kembali kandungan As-Silmu. Diperlukan pendalaman, penguatan, pergeseseran sudut pandang agar pemahaman As-Silmu terus loading, mengendap, mengakar dalam kesadaran kita.

Padhangmbulan April 2017

Jeda sejenak ini bukan untuk benar-benar berhenti — melalui sikap thuma’ninah itu kita sedang memacu gerak-percepatan tertentu, baik terkait dengan As-Silmu maupun benih-benih ilmu yang ditabur di Kebun Maiyah, agar terus bergetar dan mengalir sesuai kapasitas sel kehidupan kita masing-masing.

Cak Fuad kembali memaparkan posisi “koordinat” Al-Islam dan As-Silmu. Yang masih samar-samar kini menjadi gamblang, lebih ngeh, lebih utuh. Kata As-Silmu yang tercantum pada surat Al Baqarah 208, Udkhuluu fissilmi kaaffah… kerap diterjemahkan, “Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” Yang patut dicermati pada ayat tersebut adalah mengapa digunakan kata As-Silmu, bukan Al-Islam? Walaupun antara Islam dan silmu memiliki akar kata yang sama, tidakkah dalam susunan ayat tersebut menyimpan cakrawala keilmuan yang patut ditadabburi?

Menjadi lebih gamblang ketika Cak Fuad berangkat dari pengertian kaffah untuk menyelami kandungan As-Silmu. Disampaikan oleh beliau, kaffah menunjukkan totalitas yang utuh. Masuklah kamu sekalian ke dalam Islam secara menyeluruh. Masuklah ke dalam ketaatan kepada Allah secara total, masuklah ke dalam kedamaian dan perdamaian—tanpa perselisihan, tanpa peperangan (duunal harbi). Udkhuluu jamii’an, masuklah kalian semua secara bersama-sama atau berjamaah, demikian Cak Fuad njlentrehno pengertian kaffah.

Merujuk pada pemaparan tersebut, kaffah memiliki dua kandungan pengertian. Pertama, memandu kita agar memasuki ruang kesadaran silmu, baik sebagai rumah perdamaian dan komitmen ketaatan kepada Allah. Kedua, masuklah secara berjamaah, bersama-sama, bukan masuk sebagai atau secara golongan, kelompok, bendera, madzhab.

Menyelami Samudera Silmu

Mulai gamblang — Islam adalah serupa baju yang terstruktur dan silmu adalah kandungan atau muatan nilai-nilai. Antara ajaran Islam yang terstruktur dan kandungan nilainya tidak bisa dipisah atau dijalankan secara berat sebelah. Keduanya harus bertemu dalam keseimbangan.

Nilai-nilai Islam itu, menurut Cak Fuad, harus kita masuki secara total. Tapi, apa mungkin kita yang sarat kelemahan dan keterbatasan ini bisa memasukinya secara total dan utuh? Ada dua sudut pandang untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, memasuki silmu secara total atau kaffah bisa diupayakan secara teoritis (al-‘ilmu). Ittaqullaaha haqqa tuqaatih (QS. Ali Imron: 102). Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Surat ini bekerja dalam lingkup dan konteks teoritis keilmuan.

Kedua, memasuki silmu melalui praktek (al-‘amal atau al-tathbiq). Pada lingkup dan konteks ini sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan kelemahan dan keterbatasan diri. Panduannya adalah ittaqullaah mastatho’tum (QS. At-Taghobun: 16). Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah sesuai kemampuanmu. Maka, bersama keterbatasan dan kelemahan ini, kita memasuki As-Silmu secara mastatho’tum, sesuai kesanggupan maksimal kita.

Pada aktualisasi praktek ini kita akan berhadapan dengan samudera kebaikan yang membentang dan mendalam—kandungan As-Silmu itu sendiri—yang kita tidak akan sangup mengarungi dan menyelaminya secara total menyeluruh. Cak Fuad menyarankan, temukanlah amal kebaikan yang sesuai (al-munaasib) dengan dirimu, yang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan maksimalmu. Amal sholih yang sesuai dengan ke-disini-an dan ke-kini-an kita.

Apa makna semua itu? Setiap orang sejatinya akan dan sedang berjuang untuk menemukan lalu menyelami nilai-nilai As-Silmu sesuai thariqah dirinya yang paling aktual. Simulasi profesi dan pekerjaan diuraikan oleh Cak Fuad. Mulai pekerjaan seorang tukang becak, satpam, mahasiswa, dosen hingga situasi yang diselimuti talbis. Meninggalkan ibadah muamalah yang menjadi amanah dan tanggung jawab seseorang untuk mengejar shalat berjamaah di awal waktu, pada kadar dan konteks tertentu, kerap dimuati talbis. Padahal, melalui ibadah muamalah itu seseorang memiliki kemungkinan akan dibukakan pintu oleh Allah untuk menyelami nilai-nilai As-Silmu.

Padhangmbulan April 2017

Problematika yang dihadapi nyaris sama: ibadah mahdloh dan ibadah muamalah dijalani secara tidak seimbang, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu kadar kualitas kaffah itu sendiri. Sedangkan, nilai-nilai As-Silmu mengejawantah di pusat keseimbangan itu.

Diceritakan oleh Cak Fuad, dua orang satpam sering meninggalkan pos jaga di perumahan untuk mengerjakan shalat shubuh berjamaah di masjid. Alasannya “saya juga ingin masuk surga”. Namun, meninggalkan “ibadah” menjaga lingkungan perumahan demi menggapai surga itu menjadi “rezeki” bagi maling yang sedang mengincar. Terjadilah pencurian. Cerita yang akurat untuk menggambarkan ketidakseimbangan. Egoisme formalisme adalah hijab yang menghalangi As-Silmu.

Setiap orang memiliki thariqah ibadahnya masing-masing. Dan malam itu koordinat keseimbangan antara Al-Islam dan As-Silmu bertambah terang. Cak Fuad menutup sesi pertama dengan mengajak jamaah melakukan simulasi kasus. Beberapa fakta dipaparkan. Ngantuk saat di kantor karena semalam suntuk mengerjakan shalat tahajjud. Berangkat shalat Jumat menjumpai orang luka parah karena ditabrak truk. Kisah tukang sol sepatu yang mengumpulkan sangu untuk naik haji tapi tidak jadi berangkat. Uang itu diberikan kepada anak yatim yang kelaparan dan ibunya sakit keras. Seorang alim mendengar rasan-rasan malaikat. Hanya sedikit mereka yang menjadi haji mabrur. Dari yang sedikit itu tukang sol sepatu salah satunya.

Dialektika Islam dan Silmu

Cak Yus paham benar. Suasana perlu kembali direfresh. Mbak Yuli, Mbak Nia dan putri almarhum Mas Zainul melantunkan lagu-lagu shalawat.

Kiai Muzammil memulai sesi berikutnya dengan bercerita orang Madura tidak takut pada apapun dan siapapun kecuali kepada dua pihak—kiai dan ABRI. Suasana semakin merdeka ketika jamaah melepas tawa bebas.

Menurut Kiai yang cukup kental logat maduranya ini, Maiyah menjadi pionir yang membahas silmi sesuai konteks nilainya yang mendasar. Kita tidak mungkin membatasi tafsir apalagi membatasi tadabur karena kalimah Allah tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi.

Kiai Muzamil menampilkan kisah seorang kekasih Allah yang merasa dirinya sangat hina, penuh dosa dan tidak pantas menghadap Allah menjelang kematiannya. Sang kekasih berpesan agar jenazahnya dibakar saja, supaya abunya bisa diterbangkan angin. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Melalui dialog yang melibatkan sang kekasih, malaikat dan Allah terungkap bahwa rasa rendah dan hina di hadapan Allah justru mengangkat derajat seorang hamba. Dosa sang kekasih diampuni Allah.

Saya menangkap dialektika paradoksal yang sengaja dihadirkan oleh Kiai Muzamil melalui kisah tersebut untuk menyelami kedalaman As-Silmu. Cak Nun kerap menyampaikan bahwa hidup bukan semata garis linier yang membelah kiri dan kanan. Hidup adalah getaran yang mengalir, aliran yang bergetar. Dialektika paradoksal menjadi salah satu wataknya: rendah yang meninggi, tinggi yang merendah. Bumi yang melangit, langit yang membumi. Islam yang men-silmu, silmu yang meng-Islam.

Kiai Muzamil juga mengisahkan seorang pembunuh yang menghabisi 100 nyawa manusia. Kisah yang diambil dari hadist shahih itu juga menampilkan keluasan dan kedalaman As-Silmu.

“Masuklah ke dalam silmi. Jangan terjebak dengan formalisme baju!” saran Kiai Muzamil. Jamaah kembali diingatkan apa tujuan (ghoyah) apa sarana (wasilah). Sholat bukan tujuan, tapi cara untuk menyapa Allah. Kunci-kunci ilmu Maiyah seperti uhsul dan furu’, akar, batang, cabang, daun dan buah diuraikan kembali.

Seperti sudah ditata sedemikian rupa oleh Allah, malam itu, jamaah Maiyah lagi-lagi memperoleh anugerah pendalaman ilmu silmi melalui kisah pengalaman aktual dari seorang jamaah yang bergaul dengan Cak Nun sejak tahun 80-an. Beliau adalah Bapak Legowo Qodri. Duduk di samping Pak Legowo, saya mendapat bocoran cerita yang akan beliau sampaikan. Saya tidak bisa menyangkal lagi—cerita pengalaman Pak Qodri tentang Cak Nun pada tahun 1985-an itu mempercantik mozaik tema silmi. Allah memang sedang terlibat dengan detail-detail dialog malam itu.

Tidak ketinggalan Cak Hamad menuturkan pengalamannya saat berjumpa teman-teman jamaah penggiat simpul maiyah. Pada kadar dan konteks tertentu pengajian Padhangmbulan adalah pengajian ekstrim. Desa Mentoro yang relatif terpencil, kondisi jalan yang beberapa puluh tahun lalu berdebu bagai padang sahara, akses transportasi yang sulit—namun semua itu tidak menghalangi jamaah untuk setia hadir setiap malam tanggal lima belas bulan qomariyah.

Cak Hamad menuturkan, ibarat bangunan, Cak Fuad dan Cak Nun menjadi pondasi bagi keberlangsungan majelis ilmu Padhangmbulan. Atau ibarat makanan, Padhangmbulan adalah hidangan dari langit. Ilmu yang sudah dipelajari di Padhangmbulan hendaknya dipraktekkan sesuai kemampuan jamaah masing-masing.

Islam yang Men-silmu dan Silmu yang Meng-Islam

Usai Cak Hamad menyampaikan beberapa poin tentang pengajian Padhangmbulan, sesi tanya jawab dibuka. Cak Yus memandunya. Bambang Aprianto jamaah dari Surabaya menanyakan simbolisasi pohon yang akarnya sangat kuat dan cabang-cabangnya menjulang ke langit.

Kiai Muzamil merespon pertanyaan itu dengan menekankan kembali kunci ilmu Maiyah, seperti ghoyah dan wasilah, wadah dan isi. Tidak perlu bertengkar dan mempertengkarkan baju sebagaimana kerap dialami oleh egoisme kelompok pembimbing ibadah haji. Berhadapan dengan Allah tidak ada lagi bendera atau baju identitas kelompok dan organisasi. Semua ditanggalkan lalu memakai satu pakaian ihrom yang sama.

Padhangmbulan April 2017

Terkait dengan simbolisasi pohon, Kiai Muzamil mencermati sistematika berpikir fiqih yang terpenggal satu sama lain. Aqidah, syariah dan akhlaq adalah sebuah kotak yang tidak usah saling terhubung. Akibatnya adalah aqidah tidak nyambung dengan syariat, syariat tidak nyambung dengan akhlaq.

Orang menyumbang masjid memakai uang hasil korupsi. Shalat menggunakan baju curian. Umroh tiap bulan tapi korupsi jalan terus. Campur aduk itu, menurut Kiai Muzamil, merupakan konsekwensi logis dari kandungan nilai fiqih yang tidak saling terhubung. Maka, fiqih muzamili menawarkan cara pandang baru terkait najis dan hadas. Ada najis material (najis mukhoffah atau ringan, najis mutawasithoh atau sedang, najis mugholladhoh atau berat; najis fungsional (bagaimana uang atau sarana beribadah itu diperoleh); najis spiritual (bagaimana sikap hati ketika menjalani ibadah).

Terkait simbol pohon itu Cak Fuad merujuk pada surat Ibrahim ayat 24 – 25. Pohon yang dipakai simbol itu menunjukkan sebuah sistem yang terstruktur. Islam adalah sistem yang struktur itu. Secara legal formal Islam adalah sistem lima rukun Islam seperti yang dijelaskan oleh dialog Nabi Muhammad dan malaikat Jibril.

Adapun silmi adalah definisi subtansial. Apa itu? Cak Fuad menukil hadits Rasulullah dari Abdullah bin Amr: “Muslim adalah orang menyelamatkan kaum muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang terlarang untuk dilakukannya. Mukmin (orang yang beriman) adalah orang yang memberikan keamanan bagi orang lain atas darah dan harta mereka.”

Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i itu menjelaskan kandungan nilai Islam—yang tak lain adalah silmu itu sendiri. Jadi, Islam adalah sistem struktural formal. Silmu adalah sistem struktural substansial.

Pengajian Padhangmbulan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Cak Fuad. Malam itu saya menyaksikan dua kematangan: kesetiaan jamaah yang tegak istiqamah menata hati dan menjernihkan pikiran; serta pemahaman yang lebih matang, seimbang dan gamblang antara Islam dan silmu. (Achmad Saifullah Syahid)

Padhangmbulan yang sederhana dan tidak ada cuatan kemegahan, atau menurut Cak Nun pengajian kok mbembet, justru menyimpan kematangan dan kedalaman.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image