Kesadaran Semut di Tengah Bangunan Pendidikan Kita

“Kalau engkau ingin lebih membangun kehancuran di masa depan dirimu, masyarakatmu, bangsa, dan negerimu, serta ummat kekhalifahanmu, tutuplah pintu masa silam dan simpan ia di ruang hampa kegelapan sampai ke relung ketiadaan. Toh, innallaha khobirun bimaa ta’maluun. Allah Maha mengabarkan apa pun yang kita lakukan”, pesan Mbah Nun pada suatu ketika.

Apa yang telah disampaikan Mbah Nun tersebut terasa syarat akan makna. Meskipun kedengarannya (mungkin) sangat klise, akan tetapi kedua pilihan tersebut sangatlah mendasar dan cukup vital. Membangun kehancuran, ataukah turut mengupayakan untuk sedikit mengulur waktu kehancuran yang sudah pasti akan dihadirkan. Lebih tepatnya, mungkin bukan mengulur kehancuran. Karena bagaimana pun, tak ada yang mampu mencegah jika Sang Penguasa sudah berkehendak. Pun tak ada yang mampu mempercepat, jika kun-Nya belum juga dikumandangkan. Akan tetapi, setidaknya kita tidak ikut cawe-cawe untuk memancing kehendak-Nya menurunkan kehancuran bagi kita. Dan jika memang harus terjadi kehancuran, biarlah itu memang murni karena kehendak-Nya. Bukan karena ulah kita yang mengundang murka-Nya.

Berguru Pada Semut

Seolah kita diajak menyusuri lorong waktu. Mengembara ke masa lalu. Menapak tilasi apa yang telah dilakukan sosok semut, juga cicak pada Ibrahim, kekasih-Nya itu. Meneladani semut yang dengan kesadaran akan ke-tidakberdayaan-nya, masih saja tetap berupaya membahasakan cintanya pada Ibrahim, kekasih-Nya. Ia membawa setetes demi setetes air untuk sekedar mendinginkan kulit kekasih dari belaian api.

Ataukah mencontoh cicak. Meskipun tiupannya tak ada bandingannya dengan kobaran api, tetapi niatnya untuk memperbesar kobaran tersebut jauh lebih besar dibandingkan bara api itu sendiri. Dan seketika itu mampu memboyongnya pada barisan para pembangkang Nabi, yang mendurhakai Nabi Ibrahim, utusan Ilahi. Sekali lagi, meskipun toh yang kita lakukan sangat kecil nilainya, setidaknya langkah kita tersebut sedikit lebih memperjelas di mana posisi kita. Berpihak pada kehancuran, ataukah yang sebaliknya.

Sementara itu, dalam dimensi waktu yang terpaut sangat jauh, di seberang sana ada seorang gadis yang nampaknya telah belajar banyak pada kisah si semut. Lalu ia mencoba meneladani kesetiaan dan ketulusan semut tersebut. Meskipun sadar masih belum banyak yang bisa ia lakukan, tetapi itu semua justru tak menghalangi azzam-nya untuk terus mencoba berbuat. Mencoba berbuat untuk menghimpun manfaat. Terus saja belajar berjuang menghimpun, menabung, menanam kebaikan demi kebaikan. Agar sewaktu-waktu, jika ada yang membutuhkan, bisa langsung memetik dan merasakan buahnnya. Syukur-syukur juga bersedia turut menanam kembali biji buahnya. Sehingga estafet pohon-pohon kebaikan tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan rindangnya. Memayungi dan meneduhkan siapa saja yang ada di sekitarnya.

Jannatul Maiyah (JM) Relegi yang berasal dari Blitar tersebut merasa ada sesuatu yang mengganjal terkait pendidikan anak-anak di kampung halamannya. Terlebih anak-anak yang sekolah di desa tersebut, Wonotirto. Bagaimana tidak mengusik ketenangannya, jika mereka yang berada di tingkat ke-5 Sekolah Dasar tersebut tidak sedikit yang masih belum mahir membaca dan menulis. Bisa membaca, tapi masih belum paham akan apa yang dibacanya. Sedang untuk membuka masa silam sebagaimana yang telah dipesankan Mbah Nun di awal tadi, tidak bisa dipungkiri, kita pun sangat membutuhkan ilmu baca tulis.

Baca tulis, seperangkat alat, sejodoh fasilitas yang harus kita upayakan untuk membaca tanda-tanda kehidupan yang telah dibentangkan-Nya di keluasan semesta. Tentu yang dimaksud di sini bukan sekedar mampu membaca rangkaian alfabet yang menjelma menjadi aksara, lalu menghadirkan makna untuk difahami pembaca saja. Lebih dari itu, yang dimaksud di sini adalah membaca apa pun saja. Membaca untuk mencoba memahami segala sandi yang ada di bumi ini. Lalu dituliskan kembali, sebagai wasilah untuk berbagi pemahaman, bertukar pikiran. Disinauni bersama, sebagai salah satu ijtihad untuk mencari kebenaran. Lalu mengambil setiap kebaikan darinya. Dan belajar mengolahnya menjadi keindahan. Sehingga yang terpancar bukan hanya kebenaran yang tak baik, apalagi sampai mengabaikan keindahannya, melainkan kebenaran yang baik dan juga indah.

Bagaimanapun, keindahan lah puncak dari itu semua. Kebenaran yang diletakkan sesuai dengan tempatnya, diposisikan pada koordinat yang pas, akan melahirkan kebaikan. Sedang kepiawaian menyajikannya akan menghantarkan pada keindahan. Bisa jadi langkah inilah yang kemudian akan semakin mendekatkan kita pada Sang Maha. Bukankah Dia lah puncak dari segala keindahan yang ada? Lalu, adakah jalan untuk menuju Puncak Keindahan selain mencoba menapaki tangga demi tangga keindahan?

Sudah berapa banyak pemandangan hari ini yang dipertontonkan pada kita. Tentang bagaimana nilai-nilai kebenaran yang tidak ditempatkan pada jalurnya. Tidak pada tempatnya. Alih-alih memancarkan nilai estetikanya, malah semakin memperkeruh suasana. Dalam dunia pendidikan, misalnya. Sebut saja pendidikan anak-anak SD di kampung gadis yang bermimpi mempunyai rumah baca Padhangmbulan itu tadi. Di sana, kemampuan akademis anak-anak yang sekolah di kampung, dengan mereka yang mengenyam pendidikan di kota sangatlah berbeda. Padahal, jika berkaca pada sistem pendidikan yang diterapkan, sebenarnya sama saja. Hal ini lah yang kemudian menyeretnya untuk keluar dari zona nyaman. Memutar otak, bagaimana kiranya ia bisa membawa peran layaknya sosok semut dalam kisah Nabi Ibrahim. Mencoba berbuat semampu yang ia bisa, untuk tidak semakin membiarkan anak-anak itu tenggelam dalam kesenjangan pendidikan yang kian kentara.

Urun Sebuah Batu Bata

Keresahannya itu, kemudian disuarakan pada Cak Dil dan juga Bapak Guru. Sosok orang tua yang selalu mengayomi meski secara biologis, tak ada ikatan keluarga di antara mereka. Melihat semangat berbagi gadis yang bermimpi mempunyai Rumah Baca Padhangmbulan tersebut, baik Bapak Guru maupun Cak Dil sangat mengapresiasi. Beliau sangat senang. Di tengah kehidupan orang-orang yang individualis dan matrealis, masih ada anak muda yang peduli dan mau berbagi.

Layaknya sosok orang tua kepada anaknya, dengan penuh kehangatan, baik Cak Dil maupun Bapak Guru langsung memberikan pengarahan. Membagikan sedikit ilmu dan pengetahuannya guna membantu terlaksananya program gadis desa tersebut. Memberdayakan masjid untuk membantu menumbuhkan minat baca tulis pada anak-anak kampung itu. Tentu harapannya bukan sekedar mahir membaca teks saja, tetapi juga mampu membaca konteks. Piawai membaca diri, lingkungan, juga setiap permasalahan yang tengah dihadapinya.

Cak Dil menyarankan agar pembelajaran tersebut disesuaikan dengan lingkungan mereka. Disesuaikan dengan hal-hal yang dekat dengan mereka. Agar mereka pun bisa dengan mudah menerima apa yang disampaikan. Tidak seperti sistem pendidikan kita hari ini, yang terkesan seperti memaksakan. “Anak desa kok disuruh mempelajari pesawat.” Begitu kurang lebih tutur Cak Dil kala itu. Bukannya melarang anak desa untuk mempelajari pesawat. Akan tetapi, untuk ukuran anak desa yang sama sekali belum pernah melihat pesawat, tentu akan sangat kesulitan mempelajarinya.

Sekali lagi, ini bukan berarti mereka menyalahkan program pemerintah begitu saja. Bukan pula melawan sistem pendidikan yang ada. Mereka sangat paham, bahwa sistem yang ada tentu dibuat dengan berdasarkan berbagai pertimbangan yang sudah sangat matang. Bisa jadi, sistem yang ada memang benar adanya. Hanya saja, belum baik jika diterapkan di daerah yang lainnya. Mengingat Indonesia meliputi daerah yang sangat luas dengan berbagai karakter setiap daerah yang berbeda. Tentu hal ini tidak menutup kemungkinan jika sistem yang sama akan mengundang reaksi yang berbeda pula.

Akan sangat melelahkan, jika kita hanya meneriaki pemerintah untuk membuat sistem yang tepat bagi masing-masing daerah. Mengingat tidak sedikit pula tanggungan dan juga permasalahan yang tengah diperjuangkan pemerintah kita tersebut. Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan? Sebagaimana pesan Mbah Nun yang kerap kali beliau sampaikan dalam setiap Maiyahan. Bahwa yang saat ini perlu dan bisa kita lakukan adalah memperkuat masing-masing daerah kita. Jika masing-masing daerah sudah kuat, tentu bangunan negara kita pun juga akan menjadi kuat. Entah dalam bidang apa pun itu. Tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Jika sistem pendidikan masing-masing daerah sudah kuat, ini bisa menjadi tiang-tiang yang akan sangat membantu menguatkan bangunan pendidikan bangsa kita.

Sekali lagi, kesadaran seperti ini lah yang masih diupayakan untuk tetap dijaga oleh gadis itu. Kesadaran layaknya seekor semut yang berpihak tidak pada kehancuran. Terus berupaya semampu yang ia bisa, berbagi manfaat untuk sekitarnya. Perjalanan kurang lebih 3,5 jam Malang–Blitar, dua minggu sekali pun ia lakoni bersama seorang teman gadisnya. Untuk sekedar berbagi, berusaha menemani anak-anak desanya untuk belajar. Melalui pendidikan TPQ yang memang sudah ada, mereka mencoba menginovasinya. Memberikan sedikit sentuhan yang belum pernah ada sebelumnya di sana. Syukur-syukur bisa turut memperkuat pendidikan yang ada. Sedikit demi sedikit belajar menggenapi kekurangan ‘bangunan’ yang ada. Meski hanya dengan sebuah batu bata.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image