Kesadaran (Ber)Organisme

Sebuah kasus terjadi di kampus tempat saya dulu pernah berkuliah. Tiga orang mahasiswa meninggal dalam sebuah kegiatan yang diadakan oleh sebuah organisasi kampus. Kasus ini sempat menjadi perbincangan ramai, baik di dunia fana maupun dunia maya. Namun, seperti juga hiruk-pikuk lain di dunia maya, tak perlu waktu lama untuk kasus tersebut kemudian berganti dengan keramaian-keramaian lain. Itu tak perlu disesali. Dunia maya alias internet, khusunya medsos memang tidak memiliki titik fokus pembahasan, sehingga tolok ukur urgensi sebuah permasalahan sering jadi buram.

Saya menolak untuk segera melupakan kejadian terebut. Saya masih merasa perlu untuk membahasnya dengan segala keterbatasan sudut, jarak, dan sisi pandang yang saya miliki. Yang menjadi titik perhatian saya pada persoalan ini adalah justru ketika pasca kejadian, kemudian mereka yang merasa satu naungan atau satu bidang dengan organisasi yang berkasus tersebut buru-buru ramai menyerbu media massa, social media, atau apapun dengan klarifikasi-klarifikasi yang, maaf saja, lebih terdengar seerti penyangkalan. Aromanya itu menyeruak, walaupun berbungkus kata-kata, namun yang terbaui oleh kami yang, katakanlah, awam ini hanyalah; ”jangan usik organisasi kami, organisasi kami arus tetap ada”. Titik. Organisasi yang bersangkutan memang, sedang dalam masa pembekuan sebagai konsekwensi dari kasus tersebut, namun rasanya hal itu tetap terlalu ringan. Terlalu ringan.

Kegiatan yang memakan korban tersebut pun, walau konon diadakan untuk pembentukan mental anggotanya, namun ternyata mental baja itu tidak tampak ketika konfrensi pers yang masih bisa dilihat di situs YouTube. Mental macam apa ketika tiap ada pertanyaan yang sedikit ‘berbahaya’ saja, mikrofon lantas dihandle oleh pengacara? Tapi sudahlah, hal menyebalkan seerti itu cukup jadi uneg-uneg saya saja.

Organisasi dan Organisme

Organisasi ialah eksistensi bentuk wadag padat, dan organisme merupakan proses tumbuh kembang dan pelibatan iman. Inilah yang saya pilih untuk menjadi titik fokus pembahasan. Rasanya, dari kasus tersebut terpancar kesan bahwa eksistensi organisasi menjadi sangat penting. Eksistensi wadag padat menjadi jauh lebih penting daripada nyawa manusia sendiri.

Manusia kemudian menjadi objek, bukan subjek dari organisasi. Itu terjadi dari tingkat paling domestik; tubuh, hingga pada tataran hidup bernegara; masyarakat. Itu akan saya coba bahas sedikit demi sedikit.

Maka di sini adalah melegakan bagi saya ketika Maiyah memilih kata organisme ketimbang oreganisasi untuk (mungkin) mengidentifikasi dirinya. Dunia modern dibangun di atas berbagai macam organisasi yang mencoba menjawab tantangan zaman. Kita tidak bermaksud mengecilkan perananan dari setiap bentuk organisasi itu, namun satu hal yang sering terluput adalah bahwa organisasi dan fakta tetang diri organisasi tersebut tak bisa dipungkiri juga mewarisi pola pikir modernitas yang tentu terdapat kekurangan di dalamnya.

Organisme Maiyah tentu tidak lagi mewarisi mental organisasi modern seperti yang sudah-sudah, walau juga tidak benar-benar mengenyahkannya pada tingkat paling hina. Dalam organisme, segalannya dipandang sebagai satu kesatuan proses tumbuh kembang, seperti yang diutarakan oleh Mbah Nun bahwa Al-Qur`an sering mengambil perandaian dari pohon atau tumbuhan karena pada tataran itulah makhluk benar-benar berserah diri total pada kersaning gustinya. Tentu saja karena hal ini diaplikasikan oleh manuasia yang bertugas sebagai khalifah fil ard maka ada unsur kesadaran. Kesadaran untuk melibatkan Allah sebagai Rabbal ‘alamin (pemelihara alam semesta)

Pemilihan pohon sebagai pengandaian bahkan dijelaskan dengan gamblang dalam Al Qur`an surah Ibrahim ayat 24-27. Memang di situ, sejauh pemahaman saya tidak disebut organisasi atau organisme, tapi “perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik…” utak atik gathuk saya sebagai orang yang awam tafsir, “kalimah” bisa kita ambil makna sebagai pesan.

Maiyah  jelas memiliki pesan yang kuat dengan akar yang “akarnya teguh mencengkram bumi”; pembacaan situasi dunia, keteguhan prinsip, dengan cabang-cabang idealisme dan ragam bahasan kajian menjangkau langit sehingga pohon itu akan “memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Allah”. Buah-buah itu akan dipanen sesuai dengan pranoto mongso. Allah menentukan musim, manusia mencoba membaca musim.

Kesadaran tumbuh kembang, dan proses pelibatan dengan secara sadar Allah Rabbal ‘alamin beserta instrumen kekasaannya yang diluar pengetahuan objektif dan empiris kita itulah yang tidak dimiliki oleh organisasi-orgaisasi modern. Kecendrungan kesadaran organisasi modern yang tidak melibatkan sifat Allah sebagai Rabb pemelihara dan sebagai Khaliq pencipta juga tampak dalam bagaimana manusia modern mempersepsikan tubuh sebagai organisme terkecil, yang paling domestik.

Baru-baru ini misalnya ada peringatan International Women Day. Selalu selama bertahun-tahun pesan yang terus diulang adalah soal kuasa tubuh manusia, dalam hal ini perempuan terhadap tubuhnya. Dengan perspektif bahwa “tubuhku adalah milikku”. Permasalahannya adalah tubuh kita bukanlah benar-benar milik kita, bahkan kita tidak punya saham atas penciptaannya dan tidak punya kuasa apapun terhadap bagaimana dia bertumbuh. Memang adalah permasalahan sendiri ketika lingkungan sosial mencoba dengan keras mengontrol tubuh individu dengan norma-norma beku, tapi menggalakkan pesan ‘tubuhku adalah milikku’ saya rasa juga tidak menjawab persoalan tersebut (maaf para feminis).

Begitupun kalau kita menarik pembahasan pada tataran organisasi yang lebih besar semacam negara. Walau sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”, namun aplikasinya tidak benar-benar total juga. Bahkan selalu populer kalimat “jangan bawa Tuhan dalam berpolitik”, bukankah itu malah mengkhianati dasar negaranya sendiri? Dan tolong dibedakan juga antara melibatkan Tuhan dengan membawa Simbol Tuhan. Justru Allah sebagai Rabb, sebagai pemelihara harus selalu hadir sebagai nilai-nilai kebermanfaatan kepada rakyat. Kita sering luput soal ini.

Tentu di sini kita tidak berposisi mengecilkan satu untuk membesarkan satunya, menyalahkan untuk pembenaran. Adapun contoh kasus di awal tulisan ini anggaplah sebagai telaah dan gambaran studi kasus saja dari fenomena umum yang sedang dan sering terjadi. Sehingga kita bisa menarik garis pembeda antara organisasi yang sudah-sudah dengan Maiyah yang memilih kata organisme.

Organisme Sebagai Penangkal Mental Al-Wahn

Dalam sebah hadits riwayat Abu Dawud, kanjeng Rasulullah Muhammad Saw memperingatkan para sahabat mengenai Al-Wahn, maka bertanyalah para sahabat apakah Al-Wahn itu, dan Rasulullah menjawab “hubb dunya wa karohiyatul maut” yang biasa diartikan sebagai cinta dunia dan takut mati. Andai saya memiliki bekal kemampuan bahasa Arab yang mumpuni, sebenarnya menarik juga untuk menelusuri, apakah kata Al-Wahn itu berasal dari Arab atau bukan. Sebab fakta ceritanya para sahabat yang notabene orang Arab juga bertanya apa maksud kata itu.

Baik kita tinggalkan masalah bahasa. Mari kita coba kembali pada pembahasan mengenai organisme dan organisasi tadi. Kecendrungan yang selalu saya saksikan dalam organisasi modern adalah sikap mempertahankan bentuk yang saya artikan pribadi sebagai “takut mati” ini, bukan takut mati secara nyawa manusia, tapi minimal begini; takut kekurangan anggota, takut kehilangan eksistensi, takut tidak populer, taku terhadap hancurnya image dan ketakutan-ketakutan akan ‘kematian’ lain, sedang yang dicintai adalah ‘dunia’ jasad, kepadatan, bentuk, wadag.

Bagaimana dengan organisme? Dalam organisme, meminjam sifat-sifat pohon, daun yang jatuh tidaklah mengkhianati keberlangsungan hidup sang pohon, asal dia jatuh tepat presisi sesuai kehendak Rabbnya. Justru ketika sang daun jatuh, terdapat kemanfaatan sendiri terhadap perkembangan organisme itu. Maka selalu yang dicari oleh dan dalam kesadaran organisme adalah; berusaha sepresisi mungkin dengan kehendak Sang Maha Berkehendak.

Maiyah rasanya cukup sering mengalami perubahan-perubahan, transformasi bentuk, namun nilai ‘batang utama’ sampai sekarang masih kokoh dengan akar tegas menancap di bumi dan cabang-cabang terus tumbuh merambah langit cakrawala kebaruan. Maka memang berbeda bagaimana kesadaran organisme dengan organisasi memandang eksistensi. Bagi organisasi, para anggota harus berupaya sekeras mungkin mempertahankan hal tersebut, sedangkan bagi organisme hal tersebut diserahkan pada Sang Maha Pemelihara.

Kenapa hal ini menjadi meresahkan? Buat saya, karena ini justru bisa menghambat kita dari gapaian-gapaian yang bisa lebih progressive. Kalau baru bicara organisasi, kumpulan atau komunitas kecil sekelas kampus saja mental kita masih seperti itu, maka bagaiamana bila tiba saatnya kita perlu mempertanyakan dengan serius bentuk-betuk lain misalnya, negara.

Dalam Maiyah kita tidak tabu untuk membahas ini, tidak tabu bagi kita untuk memperbincangkan dan mendiskusikan apakah bentuk negara yang seperti ini masih akan diteruskan atau harus digelepung demi perubahan total. Itu kita lakukan tanpa sedikitpun kehilangan rasa nasionalisme. Mungkin pengartian nasionalismenya saja yang berbeda dengan yang lumrah. Maiyah bisa memiliki mental seperti itu, ya karena itu tadi, berusaha menjauhi mental Al-Wahn. ‘Kullu nafsin dzaiqotul maut’ mungkin memang berlaku bagi apapun yang pernah lahir, jadi istilah ini kurang tepat kalau disamakan dengan ‘valaar morghulis’ (eby men must die) di Game of Throne. Jangan pernah lahir tanpa memiliki bayangan akan kematian namun juga seperti lirik lagu Gladiator-nya PAS Band “jalan tuk mati jangan dicari, mengejar mimpi tak harus berlari. Singkat kata, dalam organisme kesadarannya adalah “Tidak takut mati dan juga tidak cari mati”.

Kesadaran Organisme dalam Berorganisasi

Apakah Maiyah siap untuk bubar? Nah pertanyaan macam ini saya tunggu untuk memberi contoh betapa banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai Maiyah sebagai organisme justru dengan pola pikir organisasi juga.

Pertanyaan itu saya sederajatkan dengan pertanyaan semacam misalnya; Bagaimana posisi Mbah Nun dalam Maiyah? Apa visi misi Maiyah? Atau apa aksi nyata Maiyah?

Sederajat maksud saya adalah ya seperti yang tadi saya katakan, masih membawa pola pikir organisasi modern. Seolah kita mesti memiliki AD/ART, cita-cita, visi-misi, dan lain sebagainya. Dan jujur saja, pertanyaan seperti ini makin sering saja terdengar.

Memahami kesadaran organisme, kita memang mesti ambil jarak dulu dari kelumrahan-kelumrahan organisasi yang biasa kita pakai. Tidak ada AD/ART, tidak ada pendaftaran, tidak ada kartu anggota, tidak ada simbol identitas, tidak ada visi-misi khusus. Tidak ada semua itu namun juga tidak menutup diri dari hal tersebut dan juga tidak berarti tidak berbuat apa-apa.

Kita yang telah terbiasa tergabung dalam bentuk organisasi modern akan sulit menerima hal seperti ini, padahal secara umum justru begitulah cara tubuh kita bekerja dan berbagai hal yang natural di alam semesta.

Kita tidak setiap detik dengan sadar memerintahkan jantung berdetak, kita tidak setiap hela menyeru pada paru-paru untuk bernafas, tidak pula kita sengajakan sel-sel bekerja dalam tubuh kita. Setia bagian dalam organisme bekerja dengan kesadaran masing-masing, sukarela dan sadar atau tidak menghidupi satu sama lain.

Dalam dunia kedokteran, dokter tidak bertugas menyambung tulang manusia yang patah. Tulang patah seiring waktu menyambung dengan sendirinya sesuai kerja sel-sel di dalamnya yang memang merasa perlu dengan persambungan-persambungan itu, yang bisa dilakukan dengan penuh kesadaran oleh si manusia atau dokter atau tabib hanyalah mengondisikan tulang yang patah itu sekondusif mungkin, melindunginya dari gangguan-gangguan yang akan menghambat persambungan patahan. Setelahnya adalah proses alam.

Dan sudah sering kita dengar istilah “kaum muslim itu seperti satu tubuh” nah begitulah cara kerja tubuh, organisme. Natural.

Kembali ke pertanyaan awal tadi, apakah Maiyah siap bubar? Maka pertanyaan itu hanya tepat ketika kita memahami Maiyah sebagai sesuatu yang padat. Tapi Maiyah tidak sepadat itu. Bubar dipecah-belahnya unsur-unsur yang memadat, maka pertanyaannya justru kapan Maiyah padat? Bagaimana kita bisa membayangkan bubarnya sesuatu yang tidak dipersatukan oleh pemadatan bentuk, tapi oleh batin. Bisakah anda menceraikan pertautan batin?

Jadi, ya, Maiyah tidak takut bubar karena dia tidak bisa bubar. Tolong jangan anggap ini sebagai penyangkalan seperti yang dilakukan oleh organisasi kampus yang saya contohkan di awal tulisan.

Justru ini adalah masukan bahwa sesungguhnya dalam organisasi modern seperti itu pun anda bisa juga membangun kesadaran organisme. Anda tak perlu takut bentuk wadag organisasi anda tidak ada kalau antar sel-sel di dalamnya sudah ternikahkan secara batin. Ketakutan terhadap terganggunya eksistensi organisasi anda justru adalah gambaran bahwa selama ini loyalitas yang dibangun di dalamnya sekedar semu. Dalam organisasi modern, loyalitas dan militansi terhadap kelompok, organisasi atau komunitas seperti sangat penting sehingga perlu dibentuk, bahkan direkayasa sedemikian rupa.

Ada satu artikel psikologi yang menjelaskan bahwa kebanyakan organisasi atau komunitas yang memerlukan loyalitas anggotanya akan memilih cara pendidikan penggemblengan mental yang keras. Itu adalah cara rekayasa alam bawah sadar, di mana ketika tubuh dan mental diperlakukan secara tidak mengenakkan maka otak akan mencari alasan kenapa dia mesti menerima hal tersebut. Reaksi awal umumnya manusia adalah marah, namun ketika dihadapkan pada kondisi dia tidak bisa berbuat apa-apa, maka pikiran lama-lama akan buntu sehingga menemukan pembenaran “saya menerima karena saya mencintai pihak yang melakukan ini pada saya”, lalu sosok pelaku itu akan dilekatkan pada komunitas dan organisasi. Pembaca yang budiman boleh melihat-lihat sekitar, bila ada organisasi macam ini tentu anggota-anggotanya sangat loyal dan sering membanggakan hal tersebut. Faktanya, hal itu hanyalah rekayasa alam bawah sadar. Begitu pula yang terjadi pada misalnya, pasangan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Apakah di Maiyah, kita para JM merasa mendapatkan pelatihan dan penggemblengan seperti itu? Apakah ada pendidikan dasar dengan materi, misal, ke-Maiyahan? Saya rasa tidak. Namun apakah kurang loyalitas dan militansi pada Maiyah? Toh ternyata tidak juga. Kenapa?

Jawabannya bisa sangat beragam, tapi karena terlanjur menulis ini, izinkan saya coba mereka-reka. Mungkin karena di dalam Maiyah, anda adalah Maiyah itu sendiri. Kita semua satu persatu, person to person, tiap individu adalah subjek, bukan objek. Bukan statistik data jumlah anggota. Kita diberi keleluasaan untuk ikut urun rembug menentukan tujuan Maiyah itu apa, posisi Mbah Nun itu siapa, apa yang mesti kita perbuat, dan lain sebagainya. Tentu tanpa perlu diingatkan, dengan menyertakan kewaspadaan dalam berpikir. Maka pula akan tidak tepat bila pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana sikap Maiyah terhadap ini-itu. Kenapa? Karena Maiyah memilih sikap, tepat ketika sikap itu diperlukan.

Dalam dunia persilatan, seorang pendekar memilih untuk menangkis atau menyerang ya ketika kebutan jurus sudah datang. Dalam era sekarang, banyak pihak yang merasa perlu bersikap ini-itu tanpa dihadapkan pada keperluan untuk bersikap. Kita memang perlu perencanaan, tapi pada kecepatan laju zaman seperti sekarang, kita juga harus siap untuk —meminjam istilah dari leluhur saya— “tiba masa tiba akal”. Sehingga tak perlu dibakukan yang tak baku. Jangan dibuat kaku sesuatu yang lentur, jangan dibuat lembek sesuatu yang perlu keras. Kalau saatnya perlu tegang ya tegang kalau sedang tidak dibutuhkan jangan tegang. Repot kita.

Bayangkan pada masa ini, seorang tetangga kawan saya tiba-tiba bikin acara pengajian kemudian menyampaikan, “Bapak-bapak dan ibu-ibu, ini kita lakukan untuk menangkal gerakan Wahabi”. Padahal orang di sekitar situ dengar Wahabi saja tidak pernah. Itu yang saya katakan menangkis tanpa ada yang menyerang, kan lucu.

Maka Maiyah bersikap, ketika memang perlu bersikap. Dengan begitu Maiyah punya waktu lebih untuk menarik nafas panjang, tidak gegabah, berusaha presisi membaca masalah sehingga tepat sasaran ketika memutuskan solusi. Itu berlaku dalam banyak hal, dalam banyak soal dan pertanyaan. Misal apakah Maiyah anti wahabi? Ataukah anti nasionalisme? Apakah Maiyah merupakan sikap tasawwuf? Atau bagaimana sikap Maiyah terhadap pemerintah? Atau pertanyaan apapun. Kita tidak keburu tergoda menjawab pertanyaan, namun membenahi dulu pemahaman-pemahaman mengenai hal-hal bersangkutan, mencoba berpikir fundamen, mengeja kembali alif ba ta dan alfabetnya segala hal tersebut. Bagi saya, itu salah satu implementasi jurus rakaat panjang. Waspada, karena keburu menuding golongan lain sebagai sumbu pendek bisa jadi adalah ciri sumbu pendek juga.

Setelah bertahun—tahun berjalan dengan pola seperti ini, Maiyah pun tidak lantas menjadi kumpulan yang bebas nilai bukan? Tidak lantas ditunggangi oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk menunggangi. Kita tidak boleh lupa, bahwa di sini ada pelibatan peran Sang Maha Penjaga. Baik, kalau itu dirasa terlalu spiritual, kita coba cari rasionalisasinya begini saja; Maiyah terlalu liar untuk ditunggangi oleh mereka yang tidak bisa menyeimbangi kecepatan lajunya. Maka seperti yang sudah coba saya sampaikan sebelumnya, Maiyah juga tidak anti terhadap bentuk organisasi yang lumrah. Bahkan kalau bisa, kita para JM ini turutlah membangun mental berorganisme pada kiprah kita masing-masing.

Taman Maiyah, Pepohonan yang Dipanggil Sang Nabi

Pemilihan kata organisme dalam tubuh Maiyah sekali lagi berarti kita semua adalah subjek. Itu berarti satu tanggung jawab untuk ikut menanam, menyemai, dan menyuburkan.

Itu pula yang sedang saya coba lakukan dengan membuat tulisan ini. Tulisan ini harap tidak dianggap sebagai sebuah upaya perumusan Maiyah. Untuk saya pribadi mungkin memang berlaku demikian, tapi tidak mesti untuk para pembaca. Setiap kita berhak untuk memetik dan memaknai Maiyah sesuai dengan kapasitas dan keperluan pencarian kita masing-masing.

Apa yang saya tulis di sini dan mungkin sebagian besar dari yang saya tuliskan mengenai Maiyah, selalu adalah pembacaan nuansa. Karena bagi saya Maiyah bukan sekedar majlis ilmu, di dalamnya ada nuansa. Kita manusia modern terlampau sering dibuat tumpul dalam meresapi nuansa. Kepekaan rasa kita sangat jarang dilatih untuk merasai gejala dan getar kehidupan.

Ditempatkannya perumpamaan pohon dalam Al-Qur`an justru pada surat Ibrahim, sepenangkapan saya juga adalah pengingat bahwa sikap organisme adalah sikap yang mendasar. Sebagaimana Ibrahim adalah bapaknya para Nabi, peletak dasar filsafat, seorang penanya ulung, Brahma, pencipta, inisiator. Dan di Maiyah kita memang lebih berkonsentrasi mencari pertanyaan daripada sekadar bersikap heroik menjawab ini-itu.

Dalam taman itu ada mata air, maka tugas kita bertanya sumber mata air tersebut sambil juga terus berkehiduan sewajarnya manusia. Duhai kewajaran, betapa langka saat ini.

Wajarnya dalam sebuah taman, ada air mengalir jernih dan organisme di dalamnya tumbuh. Sesekali daun-daun gugur, sesekali musim pohon berbuah. Serangga yang lalu lalang hinggap di kembang-kembang menghantarkan pembiakan serbuk sari, menumbuhkan kembang-kembang keindahan yang baru. Kebaruan. Keindahan.

Bukankah salah satu mukjizat Kanjeng Rasul adalah memanggil pohon agar mendekat padanya. Mampukah kita menjadi pohon, organisme yang sesuai kehendakNya itu agar suatu saat layak dipanggil mendekat oleh sang Manusia Teragung sepanjang zaman?