Kenduri Cinta, Kita Pancasila

Persoalan tata bahasa, Prokem dan liarnya saluran untuk menyampaikan hak-hak kreativitas, ide dan gagasan mencapai titik yang Konstitusi Umat Islam– disebut Ruwaibidhoh, yaitu tibanya Tahun-tahun penuh dengan Kebohongan. Siapa saja dan di manapun mereka tinggal, bisa saja berbicara, menyatakan hal apapun hingga banyak menawarkan apa yang menjadi standar kebaikan, yang hari ini dibutuhkan oleh masyarakat, tokoh masyarakat, juga negara. Hingga siapa saja yang dikategorikan termasuk golongan buruk dan baik. Tentang siapa saja yang layak memegang hak istilah di dalam konsep ummat Islam.

Bahkan membedakan apa arti “Saya”, “Kami”, atau “kita” tidak cetho. Agar sungguh-sungguh menuntaskan pemahaman pengertian kata saja sulit, apalagi harus diminta untuk menjelaskan dengan pemindahan personalitas atau subjek kata tersebut ke dalam konteks “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Boleh saja jika ditanya, bedanya dengan “Kita Indonesia Kita Pancasila”, hak dari bangsa Indonesia adalah meminta penjelasannya, setidaknya narasinya harus jangkep.

Tentang khilafah, itu adalah Hak mutlak miliknya Hizbut Tahrir. Secara umum, diketahui yang paling berhak menyebut kalangan mana yang dikategorikan Syirik dan Bid’ah. Efeknya yang tidak masuk kelompok ini, akan menjadi objek untuk dinilai dan dikelompokkan ke dalam kategori tersebut. Ada pula paham Wahabi yang populer mengkritisi persoalan perilaku nabi dan keluarganya. Maka yang tidak sepaham, harus rela setidaknya menjadi bahan obrolan dalam setiap mekanisme dakwahnya.

Sayangnya warga Nahdliyin untuk hari ini adalah yang merasa paling disinggung. Karena klaim kalangan Nahdliyin adalah yang memiliki kesan dengan apa yang kita kenal Pluralisme dan Toleran. Maka dalam setiap agenda yang harus memilih antara benar dan salah akan disandarkan pada standar atas klaim besar pada konsep Islam yang memang lagi in. Sekiranya semuanya sudah dibagi rata tentang siapa saja pemegang klaim nilai-nilai dalam Islam, tentu ada bagian lain yang menjalankan rutinitas untuk memberikan pemahaman, cara pandang, dan berpikir atas semua fenomena tersebut.

Pancasila Khilafah, Pancasila Toleran

Era tahun 2000 banyak komunitas bermunculan, mereka berkumpul membahas banyak hal. Berdialog tentang tema apapun. Bisa persoalan kebangsaan atau kasuistik dan tidak jenuh mencari terobosan terbaik tentang kendala yang spesifik di bidangnya. Zaman media, tampaknya mengubah pola komunitas ini ke arah media alternatif. Kalau anda pernah hidup di kampus-kampus besar, ada banyak ruang publik di mana sering digagas media perdebatan antara Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Hisbut Tahrir. Di tempat lain, mereka kalangan muda ini, saling beradu pikiran di forum akademik atau semacamnya. Memang sekarang ini terasa hilang dari peredaran. Maklum saja, hilangnya ruang perdebatan ini digantikan dengan pengusiran, caci maki dan arogansi.

Saat banyak perdebatan tentang siapa yang paling berhak menyebut dirinya Pancasila-is, muncul slogan yang menurut Cak Nun tidak tuntas tentang mengapa gegabah menyebut “Saya Indonesia, Saya Pancasila”. Semboyan yang terbaca arogan, yang dalam konteks ide lebih menonjolkan totaliter. Pemakaian kata “saya” dalam hal Pancasila bahkan lebih memprihatinkan daripada slogan Khilafah milik Hisbut Tahrir. Semestinya dengan memperluas bahwa Pancaslia adalah pelindung Negeri ini. Tanah yang di dalamnya sangat banyak perbedaan suku, bahasa dan agama.

Perbedaan pandangan tentang cara membangun negara saja sangat melimpah. Sebutan “kami” jika disematkan saja juga masih belum memenuhi batas minimal tentang Bhinneka Tunggal Ika. ‘Kami’ identik dengan Batak saja, identik dengan Ambon saja, Jawa atau sunda dan seterusnya. Kami sebagai muslim adalah Ummat Islam yang mengaku tentang cinta kepada Nabi Muhammad dan hanya menyatakan kepatuhan dan mengabdi kepada “Tuhan Yang Maha Esa”. Di mana konsep “Esa” tentu diambil dari pengenalan Islam di dalam khasanah Al-Qur`an. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tentu juga dikenalkan oleh Islam dengan konsep manusia itu harus beradab.

Maka Pancasila harus setidaknya memakai kata “Kami Indonesia, Kami Pancasila”, dan Bhineka Tunggal Ika terpenuhi standar minimalnya. Semua suku, etnis dari Pulau Papua hingga Sumatera terwakili. Konsep “Kami” yang homogen akan menjadi bagian persatuan dengan “Kita” yang heterogen. Pancasila yang dianggap pelindung bagi orang-orang yang sedang khawatir akan dianggap tidak Pancasila sangat buruk bagi keutuhan bangsa ini. Bahwa ancaman bangkitnya PKI menjadi isu yang sangat meresahkan, maka dengan mengaku siapa dulu yang Pancsila-is akan membuat dikotomi “baik-buruk” di saat negara sedang dalam fase Krisis kepercayaan yang akut.

Kenduri Cinta Pancasila

Di tempat yang hanya menampung sekurang-kurangnya 1500 orang, forum ini sudah berlangsung selama 17 Tahun bulan ini. Sepertinya belum pernah ada di kampus manapun, pondok pesantren atau lembaga pelatihan di seluruh negeri ini, yang peserta didiknya, santrinya sanggup duduk bersila, bersimpuh, ndodok bahkan klesetan di semak-semak hingga emperan. Mendengarkan dialog tentang urusan Pembenaran hidup, sudut pandang lain doktrin-doktrin keagamaan, perspektif berbeda mengenai kehidupan sosial dan kenegaraan di mana mereka menata pola pikir dalam waktu 6-8 jam. Latihan menata batin, mental, dan cara berpikir tersebut dijalankan di dalam seluruh agenda Maiyah.

Setidaknya anak muda dari berbagai kalangan yang saling tidak kenal, ada juga yang sudah akrab saling bertemu. Kalangan ini membagi atau yang tidak mereka sadari–sedang berlatih–menggali kekuatan untuk mengerti tentang apa itu sabar duduk, perlunya melihat tanpa harus bicara, mendengarkan hingga mulai menyatakan “iya sepertinya hidup yang nggenah ya seperti itu“. Kendali yang dilupakan oleh setiap mereka yang hadir, bahwa bangsa ini membutuhkan energi terlatih untuk memiliki akal yang digunakan secara utuh, mampu berpikir ke belakang lalu merefleksikan ke depan.

Mereka mengetahui apa yang gagal di negeri ini, juga apa yang sedang berhasil sekurang-kurangnya dikatakan berhasil. Generasi yang belajar sabar, berpikir utuh dan jangkep. Efeknya berupa ketahanan untuk tidak mudah marah, tidak gampang-gampang terpantik atau tampak di permukaan lebih jembar hatinya. Kalangan yang ketagihan berbaur dan melihat perkembangan kearifan bangsanya. Baru disadari kalangan muda ini –setelah mereka bergumul antar manusia yang saling berbeda, di Kenduri Cinta– banyak yang mereka lewatkan di negeri ini.

Dari lahirnya, komunitas ini sudah menjalankan ketekunan yang tentu jauh dari apa yang dinamakan “Ruwaibidhoh”. Hal yang dihindari di komunitas ini adalah rusaknya cara berpikir anda tentang kemanusiaan, doktrin negatif cara berpikir tentang agama. Bahkan tentang Pancasila, di sini tempat yang mengejawantahkan makna Pancasila sebenarnya. Ada orang Jawa, Sunda, betawi, Bugis, Madura, Melayu dan seluruhnya yang diperbolehkan datang, berbicara apa saja. Tidak pernah membedakan antara bumi dan langit, tentang sekulerisme tidak ada di sini. Semua terkait antara negara dengan Tuhan, rakyat dengan Tuhan saling terkait, Seni, Musik teatrikal, puisi hingga orang gila masih terkait dengan Tuhan. Maka Pancasila tidak pernah hilang daya sentuhnya di semua rangkaian aktivitas Kenduri Cinta, karena memang seharusnya “Kita Indonesia, Kita Pancasila”.

Persoalan tata bahasa, Prokem dan liarnya saluran untuk menyampaikan hak-hak kreativitas, ide dan gagasan mencapai titik yang -Konstitusi Umat Islam-…