Kenduri Cinta, Cinta Pada Pandangan Pertama

KENDURI CINTA, sebuah nama komunitas yang saya sendiri kurang tahu kapan persisnya lahir di Ibukota ini. Saya hanya ingin berbagi cerita bagaimana saya melebur menjadi bagian dari dapurnya Komunitas Kenduri Cinta ini.

Singkat cerita, berawal pada pertengahan 2006, salah seorang teman satu kost meminta saya untuk menemaninya bertemu dengan Ayahnya di Taman Ismail Marzuki.

Waktu itu saya belum mengenal apa itu Kenduri Cinta dan siapa Emha Ainun Nadjib. Niat saya hanya ingin menemani teman kost saya menemui Ayahnya di Taman Ismail Marzuki.

Sampailah kami berdua di Taman Ismail Marzuki. Kami berdua bertemu dengan Ayah teman saya yang sudah saya anggap seperti Bapak saya sendiri. Kami saling bertukar kabar tanpa menghiraukan keramaian di Pelataran Parkir Taman Ismail Marzuki saat itu.

Teman saya ini asli orang Sunda, tepatnya di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Karena tempat kami ngobrol mulai ramai banyak orang-orang yang berdatangan, kami mengajak Ayah teman saya itu untuk mencari tempat yang nyaman, tetapi beliau menolak. “Udah di sini aja, sebentar lagi acaranya dimulai”. Akhirnya saya bertanya ke Beliau, “Acara apa sih ini Pak?”. Dan Beliau pun hanya menjawab singkat, “Pengajian”.

Saya hanya melihat sebuah backdrop berwarna hitam di panggung dan bertuliskan “Kenduri Cinta”. Yang terlintas dalam benak saya adalah kata “Kenduri”, seperti di kampung saya kendurenan, pengajian yang di akhir acara pasti semua orang yang datang diberi berkat/besek berisi makanan. “Wah, lumayan ini buat anak kost, makan gratis”… Hahahaa…

Saya pun mulai ingin tahu apa isi pengajian ini. Saya berbisik kepada Ayah teman saya, “Siapa Kiainya Pak?”. Beliau menjawab, “Cak Nun, itu loh Bapaknya Letto (Sabrang)”. Waktu itu memang lagi booming lagu Ruang Rindu karya Letto sebagai soundtrack salah satu sinetron di stasiun televisi swasta nasional.

Ayah teman saya ini kemudian menambahkan, “Kamu nanti juga tahu yang dibahas di sini, yang datang ke sini kebanyakan orang Jawa, kamu pasti tahu artinya. Nanti kasih tahu Bapak ya kalau Bapak nggak tahu artinya.” Saya mengiyakan.

Pandangan mata saya pun mulai menyelidik ke arah kanan dan kiri saya. Awalnya saya agak merasa risih, karena waktu itu saya belum berjilbab. Ini kan pengajian dan saya hanya mengenakan celana jeans dan t-shirt saja. Saya pun mulai jengah, merasa kurang nyaman. Saya merasa tidak jenak, karena menurut saya pakaian yang saya kenakan tidak tepat momentumnya di Kenduri Cinta ini.

Sesi awal pun dimulai, waktu itu ada Mas Boim dan Mas Rusydi yang membuka acara. Mereka membangun interaksi dengan para audiens dengan sangat asyik. Saya pun mulai larut, dan tidak memperhatikan lagi pakaian yang saya kenakan. Setelah itu sampai pada acara hiburan. Tampak di panggung, beberapa anak muda sedang menyiapkan alat musik. Loh, katanya pengajian? Kok ada alat musiknya?

Saya pun bertanya lagi ke Ayah teman saya. “Itu mereka mau ngapain pak?”. Beliau pun menjelaskan, ”Itu mau perform Band, nah itu kan Letto!”. Ayah teman saya itu tidak menduga bahwa Letto perform di Kenduri Cinta malam itu. Sambil menunggu penampilan Letto, dalam benak saya pun berkecamuk banyak pertanyaan, apa hubungannya pengajian dan Band? Emang boleh ya? Dan saya pun makin penasaran.

Tibalah saatnya menyaksikan penampilan Letto. Beberapa lagu yang  sedang hits saat itu dibawakan dengan apik. Jamaah yang rata-rata masih tergolong muda-muda ini tampak larut dengan suasana.

Setelah penampilan Letto, Cak Nun mulai bergabung di panggung. Ayah teman saya ini pun langsung berbisik ke saya, “Itu Cak Nun, suaminya Novia Kolopaking”. Dan saya hanya melongo, karena baru mengetahui siapa itu Cak Nun.

Ceramah yang disampaikan oleh Cak Nun saat itu sangat mengasyikan bagi saya, gampang saya terima, terlebih lagi kadang memakai bahasa ibu saya (bahasa Jawa). Saking asyiknya sampai kami pun lupa waktu untuk pulang. Dan tidak terasa, hari sudah berganti. Baru kali itu saya mengikuti “pengajian” yang berakhir hingga keesokan harinya menjelang Subuh.

Itulah awal saya mengenal Kenduri Cinta. Kemudian saya pun mulai mencari informasi di internet tentang sosok Emha Ainun Nadjib. Saya mulai membaca beberapa karya tulisnya dan mencari informasi kapan acara Kenduri Cinta diadakan lagi. Intinya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Kenduri Cinta.

Akhirnya saya berkenalan dengan teman-teman Kenduri Cinta melalui media sosial, waktu itu media sosial yang populer adalah Friendster. Dari teman-teman itulah saya mendapatkan informasi tentang acara Kenduri Cinta yang selalu diadakan pada hari Jum’at setiap pekan kedua tiap bulannya.

Bulan berikutnya, saya kembali hadir di Kenduri Cinta, kali ini sendirian tanpa ditemani teman kost saya. Menikmati setiap sajian-sajian di Kenduri Cinta, membuat saya semakin larut. Sampai akhirnya suatu hari saya mengalami kecelakaan hebat ketika pulang dari acara Maiyahan di daerah Ciledug, Tangerang Selatan. Sempat mengalami pertentangan batin karena orang tua saya tidak mengizinkan saya mengikuti lagi acara Kenduri Cinta, alasannya sederhana. Acaranya sampai PAGI, padahal saya anak PEREMPUAN! Stigma itulah yang ditanamkan orang tua saya.

Sempat vakum selama kurang lebih dua bulan saya tidak hadir ke Kenduri Cinta, dan ternyata ada rasa kangen luar biasa. Kangen menikmati atmosfer Kenduri Cinta.

Dan saya pun mulai lagi diam-diam hadir kembali di Kenduri Cinta tanpa izin dari orang tua. Saya pun mulai dekat dengan teman-teman Kenduri Cinta. Mereka pun mengundang saya untuk ikut hadir di Forum Reboan. Forum mingguan inilah yang bisa dikatakan sebagai “Dapurnya” Kenduri Cinta, diadakan setiap hari Rabu malam setelah Isya’. Saya pun mulai bergabung dengan teman-teman Penggiat Kenduri Cinta, sampai sekarang.

Tidak terasa, 11 tahun sudah saya bergabung dengan Keluarga Besar Kenduri Cinta. Di sini saya menemukan keluarga baru, saya merasa tidak pernah sendiri hidup di perantauan. Saya pun belajar sedikit demi sedikit tentang ilmu agama, yang sebelumnya saya kurang paham dengan ilmu agama saya sendiri.

Di sini, saya banyak menemukan hal-hal baru. Walaupun kadang mengalami sedikit-banyak perbedaan pendapat, tetapi kami dapat mengatasinya. Itulah dinamika kehidupan. Dan kami menyadari bahwa persentuhan dan gesekan inilah yang menempa kami. Kesuksesan acara bulanan Kenduri Cinta tetap saja ditemukan kekurangannya, tetapi kami tidak pernah berhenti untuk terus belajar dan terus belajar.

Selamat Ulang Tahun yang ke-17, Kenduri Cinta!! I Love you full…

Jakarta, 6 Juni 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image