Wedang Uwuh (52)

Kelegèn

Kedaulatan Rakyat, 7 November 2017

Pèncèng tiba-tiba mengeluh bahwa lama-lama merasa lelah bergaul dan berdiskusi dalam saresehan bersama saya dan teman-temannya.

“Dulu saya tertarik untuk ikut-ikut Gendhon dan Beruk sering-sering dolan ke tempat Simbah untuk relaksasi. Sebab di luar sana makin banyak yang saya semakin tidak paham. Segala sesuatu semakin ruwet, dan setiap kali ada pernyataan atau penjelasan dari tokoh-tokoh malah membuat saya semakin ruwet. Manusia makin aneh, kehidupan nasional makin penuh permusuhan. Sesrawungan sosial semakin penuh permusuhan, kebencian, dendam dan kedengkian…”

Saya sangat bersungguh-sungguh mendengarkan keluhannya.

“Saling anti satu sama lain. Sedikit-sedikit anti-Pancasila. Beda selera lagu dituduh anti Bhinneka Tunggal Ika. Makan ini di-PKI-kan, minum itu di-HTI-kan. Beli baju warna beda di-radikalis-kan, beli celana potongan ndak sama di-ekstremis-kan. Di mana-mana mengacungkan tinju dan teriak NKRI Harga Mati. Seolah-seolah NKRI masih utuh, masih wungkul, belum pernah diapa-apakan, tetap seperti aslinya. Padahal NKRI sudah dirobek-robek, sudah diobok-obok, digadaikan, dizinahi oleh Yuyu-yuyu Kangkang…”

Dengan tetap sabar saya mendengarkan.

“Negara kok serba kelegèn di sini dan kepahiten di sana. Masyarakat kok semakin ndak bisa ngracik kehidupan. Semakin tidak jangkep hitungannya. Semakin tidak seimbang pertimbangannya

Tetapi Beruk malah tertawa. “Itu perasaan adik saja…”, katanya.

Gendhon juga menambahi: “Yang salah kamu sendiri. Semua orang di sana Sini baik-baik saja. Di mana-mana, di kantor-kantor kerja, di warung, di jagongan perumahan, di saat-saat ronda malam, dan di manapun masyarakat tenang-tenang saja. Tidak tercermin ada masalah serius. Adik Pèncèng sendiri saja yang merasa kelelahan”

“Jangan guyon tho…”, kata Pèncèng, “saya serius. Saya memang sering cengèngèsan dan seperti melihat segala sesuatu dengan humor, itu bukan karena hati saya gembira. Justru sebaliknya, saya menghumor-humorkan segala hal untuk menutupi kebingungan di dalam hati dan keruwetan di dalam pikiran saya”

“Terus maumu apa?”, tanya Beruk.

“Saya ikut lingkaran sarasehan dengan Simbah malah jadinya makin ruwet.

Malah semakin diajak melihat hal-hal yang lebih melelahkan lagi. Kenyataan-kenyataan yang lebih semrawut. Fakta-fakta yang lebih mengerikan. Perilaku-perilaku yang lebih munafik. Bahkan tidak pernah ada peta dan situasi canggihnya teknologi budaya kemunafikan sejak Nabi Adam, Firaun, Jengis Khan, Hitler, yang Jaman Edannya melebihi yang kita alami sekarang…”

“Lha ya maumu apa?”, Gendhon mendesak.

“Saya usul kita sekarang pindah tema ke Basiyologi saja…”

“Basiyologi? Apa itu? Cabang ilmu apa ideologi baru?”, Beruk bertanya.

“Kapan kita mulai, nanti saya susun paparan maksud saya”, jawab Pèncèng.

Pèncèng tiba-tiba mengeluh bahwa lama-lama merasa lelah bergaul dan berdiskusi dalam saresehan bersama saya dan teman-temannya. “Dulu saya tertarik untuk…