Seluruh jamaah dan hadirin memasuki kekhusyukan lewat lantunan suluk dan shalawat-shalawat Cak Nun dan KiaiKanjeng.
Seluruh jamaah dan hadirin memasuki kekhusyukan lewat lantunan suluk dan shalawat-shalawat Cak Nun dan KiaiKanjeng.

Di depan gedung Balai Dusun yang merupakan peninggalan sejarah ini, bapak-bapak, ibu-ibu, serta para muda semuanya diajak khusyuk memohon kepada Allah untuk semua kemudahan urusan dan hajat masing-masing. Cak Nun mengantarkan permohonan doa ini dengan satu rangkaian shalawat yang oleh KiaiKanjeng disebut Qudsen.

Rangkaian Qudsen ini diawali dengan suluk yang dilantunkan Cak Nun. Intinya menyapa Rasulullah, memohon syafaatnya, sehingga Allah mengabulkan doa semua hadirin. Sesudah suluk ini, beberapa shalawat dibawakan para vokalis KiaiKanjeng di antaranya Ya Allah Ya ‘Adhim dan Sidnan Nabi. Semua yang duduk lesehan dan tersebar di setiap sudut tempat masuk dalam kekhusyukan hati mengonsentrasikan diri kepada Allah dan Rasulullah.

Seperti formula Sinau Bareng selama ini, tak hanya muatan latihan berpikir anatomis dan runtut, jamaah atau masyarakat dipenuhi pula kebutuhannya akan suasana sublim dan khusyuk. Setelah selesai, kemudian masuk pada fase selanjutnya. Seperti usai Qudsen tadi, kini Cak Nun merespons nilai sejarah gedung balai Dusun ini.

Sejak zaman Belanda, tempat ini pernah menjadi kantor desa, sekolah rakyat, dan pusat kesehatan desa. Pernah pula HB VIII berada di tempat ini. Bangunannya masih dipertahankan seperti sedia kala. Nomor Medlei Yogyakarta pun dihadirkan KiaiKanjeng. Dari berpikir, lalu shalawat khusyuk, kini beralih ke nuansa lokal yang terdapat keadiluhungan budaya dan kegembiraan dolanan. Sinau Bareng memberikan contoh tentang hidup yang bergerak berputar dinamis dari aktivitas ke aktivitas lain di mana tergambar terpenuhinya kelengkapan unsur-unsur jiwa manusia.

Kekhusyukan Qudsen KiaiKanjeng