Kejar Setoran Kepada Maiyah

Ketika mendengar kata Daur yang muncul di hati saya adalah rasa malu. Dari Daur putaran pertama sampai sekarang telah masuk putaran kedua, belum satupun yang saya baca sampai tuntas. Padahal di dalam Daur, Simbah berterus terang dengan begitu terbuka menggunakan bahasa yang demikian menarik, agar orang dapat mengenal siapa Simbah dan bagaimana perjalanan beliau.

Satu hal yang selalu membuat saya menangis dan merasa malu hidup di lingkaran Maiyah adalah karena Simbah telah dengan begitu sabar membimbing saya melalui transfer ilmunya melalui Mas Agus Sukoco di Juguran Syafaat. Dan bahkan dengan begitu sabar memberikan bimbingan kepada saya melalui Daur. Tapi saya belum bisa menjalankan amalan dan bimbingan yang beliau ajarkan.

Mungkin di satu lingkaran Juguran Syafaat sayalah orang yang paling bengal, paling susah diatur. Seringkali justru membuat malu dulur-dulur satu lingkaran. Padahal kalau hitung-hitungan berkah, mungkin saya yang paling mendapat berkah dari adanya Juguran Syafaat. Saya bisa membangun keluarga bersama istri hingga sekarang sudah dikarunia anak. Mendapat mekanisme untuk menggunakan kendaran roda dua dan roda empat, yang seolah-olah saya mendapatkannya secara gratis.

Namun, sampai saat ini dan detik ini saya belum bisa membalas apa-apa kepada Simbah dan kepada Juguran Syafaat. Saya ingin betul-betul total sebagai bentuk setoran saya untuk Simbah dan untuk Juguran Syafaat. Tetapi saya sendiri bingung karena di lingkaran Juguran Syafaat, saya orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Di lingkaran Juguran Syafaat sudah diisi oleh dulur-dulur yang bersih dan pandai dalam semua bidang.

Sepertinya sudah tidak ada lini lagi yang harus saya isi. Demi menutupi malu saya sama dulur-dulur, sebagai bentuk kejar setoran saya kepada Maiyah, akhirnya saya mengisi lini sopir antar jemputnya Mas Agus Sukoco, baik untuk hadir ke acara Juguran Syafaat dan acara-acara lainnya, di dalam maupun di luar kota. Biar pun hanya sopir, tapi itu adalah rahmat yang luar biasa dari Allah.

Rahmat Allah itu universal. Diberikan kepada siapa saja yang Tuhan maui, tanpa batasan identitas, golongan, muslim atau kafir. Para pencuri dan penjudi pun menerima rahmat. Para pelacur dan semua lelaki yang melacur pun mendapatkan rahmat itu berupa kenikmatan perzinahan sampai batas tertentu.

Tetapi tidak setiap rahmat Tuhan diizinkan oleh-Nya untuk menjadi berkah yang disukai dan diridhoi oleh-Nya. Bahkan Kiai Sudrun sering dengan tertawa sinis menyapa Markesot dengan kalimat “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa ‘adzabuh”: semoga Tuhan menyampaikan kepadamu keselamatan, rahmat dan adzab.

Wejangan Simbah di Daur 89 – Apakah Itu Suara-Mu? membuat saya harus jujur bahwa saya mempunyai masa lalu. Masa lalu yang mungkin tidak sebersih teman-teman lainnya. Tetapi Allah tetap memberi kesempatan kepada saya untuk menikmati rahmat Maiyah. Saya disodori ilmu-ilmu yang sungguh tidak pantas saya terima. Saya juga dihadiahi Allah teman-teman yang mau menerima masa kini saya, untuk bersama-sama menjemput masa depan, dengan tidak mengganggu-ganggu kenangan kelam masa lalu saya.

Saya berdoa kepada Allah, agar tetap menjadikan rahmat ini sebagai berkah.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image