“Kegaiban” KiaiKanjeng, Tiga Bulatan Besar, dan Arti Islam Kaffah

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang 13 Maret 2017

Diguyur hujan deras sebelum acara mulai tidak membuat jamaah Padhangmbulan patah arang. Mereka setia menanti—berkelompok dan melingkar sambil menikmati kopi panas, teh hangat, tahu solet atau jajanan lainnya. Hadir di Padhangmbulan selalu saya awali dengan “ritual”  menikmati tahu solet—jongkok di pinggir jalan, menghadap meja kecil yang dipasang lampu oblek.

Malam itu Padhangmbulan terasa spesial. Karena kehadiran KiaiKanjeng yang dua hari sebelumnya beracara di Gresik dan Mojokerto. KiaiKanjeng berkesempatan menyapa jamaah Padhangmbulan dalam durasi waktu lumayan panjang. Selain mengusung tema As Silmi, yang diambil dari ayat udkhuluu fis silmi kaaffah, setelah tadarusan Al Quran bersama Bapak Qoyim, KiaiKanjeng mengajak jamaah menelusuri jejak perjalanan album demi album.

Padhangmbulan 13 Maret 2017
Ritual menikmati Tahu Solet sebelum mengikuti Padhangmbulan. Foto: Adin.

Napak Tilas Perjalanan KiaiKanjeng

Tidak seperti lazimnya workshop atau kuliah terbuka tentang musik, KiaiKanjeng mencairkan suasana dengan melakukan lintas dialog, baik antar sesama personel maupun dengan jamaah. Jagongan napak tilas bersama KiaiKanjeng mengalir dan tetap memelihara sentuhan substansi dan kedalaman pengalaman yang pernah direguk di setiap Maiyahan.

Dimulai dengan cerita dan latar belakang lahirnya album pertama, Kado Muhammad (1996), jamaah seperti diajak memasuki alam ghoib. Bagaimana tidak ghoib, selama ini kita bukan hanya tidak mengetahui peristiwa di balik panggung—bahkan pada tingkat kegaiban tertentu, kita benar-benar tidak tahu proses kreatif, momentum kunci hingga kelelahan beberapa personel KiaiKanjeng pada puncak ambang batas tertinggi, dan pada detik itulah performa mereka tiba pada tataran min haitsu laa yahtasib.

Kisah “kegaiban” tersebut disinggung oleh Mas Bobit yang ditugasi Cak Nun mengaransmen lagu Tombo Ati—padahal hanya tersisa waktu tiga jam sebelum rekaman. Menurut Mas Bobit itu pengalaman paling berkesan, apalagi di puncak lelah personel KiaiKanjeng, Cak Nun justru mengeluarkan vibrasi timbre suaranya yang dahsyat.

Masih seputar album Kado Muhammad, syair, lirik dan lagu pada album tersebut bukan sekadar kumpulan nada. Kado Muhammad menjadi tonggak bagi peristiwa budaya. Lagu lama seperti Tombo Ati yang telah dikenal umat Islam Indonesia hadir kembali dengan sentuhan, nuansa, dan vibrasi yang benar-benar baru. KiaiKanjeng menyibak cakrawala syiiran lama—lalu terbitlah rasa percaya diri bahwa kaum muslim sejatinya memiliki khazanah budaya yang selama ini terbengkalai. KiaiKanjeng ikut menaikkan harga diri kultural umat Islam.

Malam itu jamaah Padhangmbulan mengalami momentum demi momentum “mukasyafah”—Kiai Kanjeng membuka hijab pengalaman kreatif, pengalaman budaya, pengalaman ruhani di depan jamaah Padhangmbulan. Ini semua pasti bukan sekadar acara workshop musik. Padhangmbulan adalah semesta itu sendiri bersama lanskapnya yang luas, dalam, dan berlapis-lapis.

Padhangmbulan 13 Maret 2017
Jagongan napak tilas perjalanan KiaiKanjeng. Foto: Adin.

Lagu-lagu “pusaka” pun dihadirkan oleh KiaiKanjeng. Di tengah itu semua saya diam tak berkutik. Tangan dan otak saya kwalahan mencatat detik demi detik rasa yang merasuki kesadaran—yang entah getaran apa itu dan bagaimana merumuskannya, saya tidak tahu. Mozaik pengalaman di tengah semesta Padhangmbulan yang tidak mudah mendeskripsikannya.

Salah seorang personel KiaiKanjeng mengungkapkan, kita harus ikhlas dan jujur menjalani semua ini. Demikian dua kata kunci itu—ikhlas dan jujur—merespons pertanyaan jamaah bagaimana KiaiKanjeng bisa teguh, konsisten, dan kompak satu sama lain.

Saya merasakan personel KiaiKanjeng bukan hanya musisi: bulatan eksistensi yang teramat kecil dan remeh untuk dikejar, walaupun kompetensi musik mereka berada di atas standar maestro. Mereka adalah manusia, bertingkah laku lazimnya manusia—gojok-gojlokan, poyok-poyokan, kadang saling njarag, saling mbedo dan yang paling berkesan adalah penampilan mereka sebagai manusia tetap apa adanya, di tengah kecenderungan manusia zaman ini yang kecederungan penampilannya untuk mengabarkan ada apanya.

Sesi awal tidak terasa telah berjalan satu setengah jam. KiaiKanjeng istirahat, Cak Yus memandu sesi beikutnya. Cak Fuad, Cak Nun, dan Kiai Muzammil pinarak di atas panggung. Cak Yus menggarisbawahi sesi pertama napak tilas bersama KiaiKanjeng. “Apa yang tadi disampaikan KiaiKanjeng merupakan pintu masuk bagi kita semua agar setia menekuni proses panjang, setia menjalani etos perjuangan, setia menggenggam keyakinan,” tutur Cak Yus.

KiaiKanjeng dan Tiga Bulatan Besar

Berangkat dari sisi pandang berbeda, Cak Nun menyatakan malam ini “pengantin” kita adalah KiaiKanjeng. Kita berupaya mengenal KiaiKanjeng secara kaffah, sambil tidak melupakan beberapa personel yang tidak aktif lagi. Bagaimana perjuangan KiaiKanjeng menebarkan sholawat yang dikaitkan dengan sikap dan tekad untuk terus nandur walaupun orang lain yang akan memanennya, dijadikan frame pembuka oleh Cak Nun.

“Pokoknya kita nandur terus, sebagaimana kita pernah nandur Lautan Jilbab. Adapun orang lain yang memanen hasilnya, tidak masalah, mbasio rodok ngersulo sethithik (walaupun agak mengerutu sedikit). Kita memiliki harga diri keimanan yang lebih besar dari bulatan-bulatan kecil ngersulo itu,” tegas Cak Nun.

Padhangmbulan 13 Maret 2017

Menapak tilasi KiaiKanjeng, menurut Cak Nun, harus juga ditemukan garis konteks, garis ilmu, garis kaweruh sampai ke Lauhul Mahfudz. Kaffah itu ibarat jari-jari harus menyadari posisi dan kaitannya dengan tangan, lengan, kaki, paru-paru, jantung, dan semua anggota badan lainnya. Manusia belum tentu manusia jika tidak dikaitkan keberadaannya dengan tanah, air, udara, gunung, langit, dan semesta jagad alam raya.

“Kaffah adalah menyadari bahwa hidup adalah bulatan besar yang di dalamnya terdapat sub bulatan kecil, serta sub-sub dari sub tersebut yang lebih kecil lagi,” kata Cak Nun. Bagaimana memproyeksikan bulatan kecil bulatan besar tersebut untuk melihat KiaiKanjeng? Yang pasti KiaiKanjeng tidak berada di bulatan kecil yang dihuni oleh padatan-padatan eksistensialisme karier, jenis, dan aliran musik. KiaiKanjeng berada di tiga bulatan besar yang universal: bulatan kebudayaan, bulatan semesta, dan Allah.

Pada kesempatan tersebut Cak Nun menjelaskan adagium yang berlaku di bulatan kecil para musisi dan penyanyi. The singer, not the song. Apa maksudnya? Asal dia yang menyanyikan, lagu tersebut akan enak didengar. Bukankah hal tersebut menunjukkan pusat eksistensialisme berada di tangan penyanyi atau musisi?

KiaiKanjeng tidak mengambil posisi dan menerapkan disiplin itu, tidak membangun kerajaan eksistensialisme semacam itu. Bagi KiaiKanjeng yang berlaku adalah the song, not the singer—enak atau tidak enaknya lagu tidak bergantung siapa penyanyinya, siapa pengiring musiknya. Musikalitas KiaiKanjeng tidak semata-mata untuk musik atau bermusik itu sendiri—musikalitas itu diabdikan pada bulatan yang lebih besar dan universal.

Dengan berkelakar Cak Nun ngguyoni Kiai Kanjeng. Iko onok wong cilik-cilik, datang dari entah negeri apa, bermain musiknya mengatasi sekat-sekat primordialisme. KiaiKanjeng sesungguhnya merefleksikan kesadaran bukan siapa pemain musiknya, bukan siapa “idola” yang menyanyikan lagu, melainkan apa kandungan nilai yang disampaikan.

“Apabila hal ini kita proyeksikan kepada Islam,” tutur Cak Nun, “Apakah Islam itu fokus pada orang ataukah nilai kesadaran? Yang penting siapa kamu ataukah bagaimana perbuatanmu?” Demikian Cak Nun menggugah kesadaran jamaah seraya mengingatkan, Muhammad tidak dijadikan nama bagi risalah yang dibawanya. Allah yang memberikan nama Islam—nama yang tidak didasarkan pada “ketokohan” Nabi Muhammad.

Sama sekali tidak mengherankan apabila bulatan-bulatan kecil eksistensialisme musik wa ‘alaa alihi wa shohbihi tidak mengenal KiaiKanjeng. Bulatan kecil tidak muat untuk menampung universalitas nilai yang diusung KiaiKanjeng. Orang tidak bisa melihat KiaiKanjeng sebatas menggunakan kacamata musik.

Bahkan terkait dengan Gamelan KiaiKanjeng saja orang tidak terpantik sekadar bertanya, misalnya: “Kok bisa ya gamelan mengiringi lagu barat?” Tidak bertanya dan tidak mempertanyakan—sajian musikalitas KiaiKanjeng ditelan begitu saja tanpa ada dorongan untuk mempelajari dan meneliti.

Padhangmbulan 13 Maret 2017

Gamelan Kiai Kanjeng, kreasi Pak Novi Budianto, bersifat tidak pentatonis dan tidak pula diatonis. Persahabatan Pak Novi dan Pak Joko Kamto dengan Cak Nun yang terjalin sejak tahun 1976-an hingga sekarang, tak bisa dilepaskan dari perjalanan Gamelang KiaiKanjeng. Solmisasi yang belum sempurna: sel, la, si, do, re, mi, fa, sol, demikian konsep nada Kiai Kanjeng kerap disebut, dibangun oleh Pak Novi sesuai pengalamannya menata musik-puisi Cak Nun ketika berproses bersama di Teater Dinasti.

Ngeng atau metode kesepakatan bunyi yang lahir dari naluri musikal dan kepekaan akan pijakan nada, merupakan sistem notasi yang dipakai oleh KiaiKanjeng. Potensi sense of ngeng inilah yang menjadi faktor mendasar dalam berolah musik. Ngeng juga menjadi partitur dalam pe-notasi-an dan acuan penciptaan musik Kiai Kanjeng.

Musikalitas Kiai Kanjeng, dengan demikian, menerabas pakem bulatan kecil lazimnya orang bermusik. Selain karena diberangkatkan untuk melayani komunikasi lintas sekte, lintas suku, lintas bangsa, dan lintas agama, audiens Kiai Kanjeng bukanlah semata mereka yang hadir. Allah dan Rasulullah adalah audiens utama—“lingkaran” maha luas yang oleh Cak Nun dinyatakan sebagai pertautan dengan lauhul mahfudz.

Menguak Cakrawala Fissilmi Kaaffah

Sambil menjembatani alur napak tilas antara Kiai Kanjeng dan jamaah, Cak Nun mengingatkan perjuangan kebudayaan seperti yang terjadi saat Maiyahan Jleb, Maiyahan Welut, dan Maiyahan Pocong. Momen kunci semacam itu sesungguhnya cukup kaya nuansa dan sarat pengalaman batin.

Mengingat luas dan dalamnya proses kreativitas dan etos perjuangan Kiai Kanjeng, Cak Fuad meneguhkan semua itu melalui surat Al Baqarah 208. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Mengapa Allah menggunakan kata Al-Silmi, tidak Al-Islam? Setiap pilihan kata dalam Al Quran pasti mengandung maksud, tujuan, konteks, dan nuansa tertentu, walaupun akar kata antara Al-Silmi dan Al-Islam sama.

Al-Silmi mengandung pengertian rasa aman, damai, tenang, muthmainnah—inti nilai dan kesadaran yang dikandung oleh Islam. Bagaimana dengan kata kaffah? Cak Fuad menyatakan makna kaffah adalah utuh, konprehensif, total. Kaffah memiliki dua proyeksi.

Pertama, masuklah ke dalam Islam secara utuh, total, dan komprehensif. Kedua, mereka yang memasuki kandungan Al-Silmi (inti dari nilai dan kesadaran Islam) hendaknya tidak masuk sendiri-sendiri, atau terkotak-kotak menurut aliran dan kelompoknya. Masukilah Islam bersama-sama: rukun, tidak saling mengkafirkan, tidak saling menyesatkan.

Kaffah bukan hanya menunjuk Islam sebagai objek yang hendak dimasuki, melainkan memandu bagaimana seharusnya kita memasuki Al-Silmi tidak sebagai golongan-golongan, kelompok-kelompok, dan aliran-aliran.

Islam bukanlah sekat-sekat kamar: kamar aqidah, kamar syariat, kamar akhlak. Ketiga pilar itu utuh padu menyeluruh sehingga antara iman dan amal sholeh adalah nyawiji. Iman seseorang berkorelasi langsung dengan bagaimana ia memuliakan tamu, bagaimana ia menyayangi dan menghormati sesama.

Padhangmbulan 13 Maret 2017

Cak Fuad mengungkapkan pendapat beberapa kalangan yang menyatakan Islam adalah religiusitas ditambah (+) sosial. Pandangan ini tidak tepat. “Islam adalah religiusitas sama dengan (=) sosial,” tegas Cak Fuad.

Terkait cara pandang beberapa kalangan tersebut, Cak Nun segera merespons. “Saya tidak pernah setuju terhadap acara dialog antar iman,” kata Cak Nun, “karena tidak ada masalah apapun dengan keimanan agama yang saya yakini.” Sikap Cak Nun ini bukan tanpa alasan dan dasar aqidah. Kalau dialog antar iman ini dilakukan seolah-olah sistem keimanan dalam agama kita belum selesai. Kita tidak ingin menelanjangi logika dan sistem keimanan saudara kita yang beda agama. Itu aurot orang lain dan tidak perlu dibuka.

“Agama kok berbeda. Memang ada berapa agama di dunia?” tanya Cak Nun, memantik cara berpikir jamaah. Islam dan keimanan adalah harga diri kita. Keimanan tersebut kita aktualisasikan dengan menciptakan rasa aman.

Kiai Muzammil menitikberatkan tema fissilmi kaaffah pada kenyataan bahwa setiap manusia memiliki personalitas dan identitas. Dilontarkan melalui pertanyaan, kita memilih identitas ataukah substansi, Kiai Muzammil hendak mencermati bahwa bayi yang baru lahir sesungguhnya secara personal adalah seorang muslim. Namun, ia belum Islam secara identitas. Bagaimana Islam menjadi identitas? Islam harus ditampilkan melalui perilaku yang beradab, perilaku yang berakhlak mulia.

Sayangnya, orang berperilaku tidak dalam terminologi kaffah—mereka cenderung berpikir dan berbuat sesuai kotak yang mengurungnya. Mereka bergerak dalam lingkup segmen masing-masing. Apa akibatnya? Pandangan satu arah menjadi satu-satunya klaim kebenaran. Padahal arah pandang dan sudut pandang memiliki kemungkinan jumlah yang tak terbatas. Pertengkaran dan benturan merupakan konsekuensi logis akibat klaim kebenaran model satu arah ini.

Proyeksi kaffah, menurut Kiai Muzammil, adalah kita tahu diri, menyadari dan sadar diri bahwa apa yang kita kerjakan selalu terhubung dengan kotak-kotak lain di luar diri kita. Ada pula konteks perbuatan yang tidak bisa dipenggal begitu saja. Kesadaran ini berlaku sesuai ruang lingkup pribadi dan organisasi.

“Kalau melihat nasi jangan melupakan beras, padi, kompor, api, dan seterusnya” demikian Cak Nun kerap mengingatkan. Ada kontinuasi yang tidak bisa kita putus begitu saja. Demikian pula dalam menciptakan sesuatu jangan sampai tidak terkait dengan proses sebelumnya.

Padhangmbulan 13 Maret 2017

Diceritakan pula bagaimana Nabi Muhammad bersikap di tengah perbedaan antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab terkait waktu mengerjakan shalat malam. Abu Bakar mengerjakan shalat malam sebelum tidur karena khawatir tidak bisa bangun malam. Umar mengerjakan shalat malam setelah tidur karena yakin dengan tekadnya akan bangun tengah malam. Apa reaksi Nabi Muhammad? Keduanya ditampung dan dipuji. Abu bakar adalah orang yang hati-hati sehingga kekawatiran tidak bisa shalat malam setelah tidur sangat bisa dipahami. Umar adalah sosok yang sangat kuat tekadnya sehingga merasa yakin bisa bangun untuk mengerjakan shalat malam.

Di manakah Alamat KiaiKanjeng?

Sesi terakhir sebelum tanya jawab, Cak Nun kembali mengelaborasi KiaiKanjeng. Di manakah alamat KiaiKanjeng di dunia? Tak akan ditemukan alamat itu di dunia, karena KiaiKanjeng tidak beralamat di dunia. Dunialah yang beralamat di dalam KiaiKanjeng. Saya pun menggambar, dunia tidak menampung KiaiKanjeng, karena KiaiKanjeng yang menampung dunia.

Di ujung acara beberapa jamaah menyampaikan pertanyaan. Shalawat kepada Nabi Muhammad, keadaan di Indonesia yang dikuasai oleh mereka yang memiliki modal, serta doa tulus dari seorang jamaah kepada Kiai Kanjeng dan Cak Nun—direspons Cak Nun dan Cak Fuad secara gamblang.

Shalawat memiliki banyak arti dan dimensi, Nur Muhammad di awal penciptaan, gelombang cinta kepada Nabi Muhammad, arti kata maula: tuan sekaligus budak—semua itu disampaikan Cak Nun dan Cak Fuad lengkap dengan level simbolik, level fakta, dan level esensi yang menyertainya.

Memungkasi acara Cak Nun bersama KiaiKanjeng membawakan lagu Duh Gusti. Mampuslah saya. Ini lagu selalu mengguncang dan membuat saya menunduk lama. Berdiri tegak dan kaku di antara jamaah yang lain, saya berusaha tidak hilang diri ditelan gelombang Duh Gusti. Malam itu KiaiKanjeng mengantarkan kita berenang dan menyelami samudera kaffah dan silmi—dengan ikhlas dan jujur. (Achmad Saifullah Syahid)

Diguyur hujan deras sebelum acara mulai tidak membuat jamaah Padhangmbulan patah arang. Mereka setia menanti—berkelompok dan melingkar sambil menikmati…