Daur-II • 043

Kebaikannya Belum Cukup Bagi-Nya

Terutama Mbah Markesot. Kalau masyarakat terpecah-pecah, semakin hari semakin terkeping-keping, saling membenci dan bermusuhan satu sama lain —Mbah Sot disalahkan oleh orang-orang di sekitarnya, karena tidak mampu mempersatukan mereka kembali.

Mbah Sot hanya omong saja bahwa masyarakat semakin hari semakin ditimpa penyakit pikiran, penyakit hati, penyakit mental, dan penyakit spiritual. Mbah Sot disalahkan karena tak sanggup menyembuhkan mereka dari penyakit-penyakit itu.

Mereka tidak pernah marah kepada yang menyebarkan penyakit-penyakit itu, karena ternyata yang salah adalah yang tidak bisa menyembuhkannya. Tak kurang-kurang Mbah Sot berdoa dan memohon bantuan Tuhan untuk kemungkinan-kemungkinan penyembuhan. Tetapi mungkin saja Mbah Sot belum mencukupi kualitasnya untuk bisa diandalkan oleh Tuhan agar mengabulkan doanya. Kebaikan hidup Mbah Sot tak mencukupi untuk mengongkosi “qabul” dari Tuhan atas doanya. Itu membuat Mbah Sot semakin kecil hati untuk Iqra` atas dirinya sendiri.

Mbah Sot meng-Iqra` dirinya dan merasa berada di tempat yang amat jauh dari Tuhan, dan itu sering membuatnya terpeleset menjadi seorang fasiq. Kefasikan adalah keadaan di mana ia seakan “kehilangan Tuhan”, sehingga seolah melupakan-Nya, yang akibatnya adalah ia lupa kepada dirinya sendiri. “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq”. [1] (Al-Hasyr: 19).

Mbah Sot tiap hari harus memulai bayinya kembali. Karena faktanya ia merasa tak kunjung mampu mencapai apa-apa untuk masyarakat dan Negaranya.