Wedang Uwuh (45)

Kawulo Apes

Kedaulatan Rakyat, 5 September 2017

“Kawulo Apes” adalah judul dan tema dari Pèncèng. Satu di antara enam judul yang Pèncèng, Beruk dan Gendhon kasih ke saya. Itu hasil pertemuan khusus mereka, atas desakan saya.

Sebab Yogya sedang mengalami guncangan, meskipun Yogya tidak menjadi guncang. Ada perubahan sangat radikal setelah 1755. Bahkan secara substansial itu mengubah akar 1587. Akar ideologi, akar teologi, akar filosofi, akar konstitusi, akar histori. Perubahan radikal itu dilakukan dengan èntèng, ringan-ringan saja, seperti pesan mie godhog lewat Go-Food.

Rakyat Yogya juga sedemikian tangguhnya. Tak ada badai. Angin semilir pun tidak. Tidak terasa ada historical shocking. Bisa jadi itu ketangguhan, bisa juga EGP. Bisa kekebalan, bisa juga kebebalan. Tidak mengepul-ngepul seperti puncak Merapi, tapi bisa juga ini Merbabu – disangka sudah mati, padahal skedulnya beliau yang akan unjuk gigi.

Dengan segala kerendahan hati saya meminta anak-anak bertiga untuk Malioboro, dadio Wali kang ngumboro. Boleh cari para sesepuh Yogya untuk menggali bahan sejarah. Boleh bertamu ke para sejarawan dan ilmuwan untuk memastikan masalah ini secara konstitusional. Boleh masuk hutan rimba atau naik ke leher gunung untuk ngangsu kawruh, syukur bisa putus pamrikso bab guncangan Yogya ini. Boleh ngumboro ke “dalam”, semadi, mertopo-sukmo, untuk mencari perkenan kasyful-hijab, dibukakan pintu informasi oleh stafnya Malaikat Isrofil, Menko Informasi Langit.

Atau monggo-lah ke mana saja. Pokoknya Simbah kepingin belajar tentang dunung-nya ini semua. Saya ingin sinau bareng anak-anakku, cucu-cucuku itu. Dan ternyata mereka memang anak-anak yang ndemenakke. Mereka bikin pertemuan khusus, kemudian tandang, entah ke mana saja, terserah generasi muda. Saya sebagai generasi sangat tua tidak akan mewariskan apa-apa kepada mereka. Sebab terbukti warisan utama kami adalah problem-problem yang berkepanjangan. Bahkan setiap kali kami generasi tua mencoba menyelesaikan, terbukti kami tidak mampu meniru Pegadaian: yang menyelesaikan masalah tanpa masalah. Kami generasi tua selalu malah menambah masalah.

Mereka masing-masing mendalami dua tema. Gendhon, yang paling agak terpelajar di antara mereka bertiga, menyodorkan dua eksplorasi yang menyangkut sejarah konstitusi Mataram Islam 1587, bahkan sejak Demak Bintoro, yang merevolusi Kutaramanawa. Aneh juga bagi saya yang tua ini Gendhon menyebut yakni “Serat Suluk Garwa Kencana”, “Serat Iskandar Zulkarnain”, “Serat Yusup”, “Serat Uslubiyah”, “Tajussalatin” dan “Bustanussalatin”. Belum lagi “Serat Tapel Adam”, “Serat Makutorojo”, “Serat Tuhfat An-Nafis”, “Serat Srimpi Jemparingan”, “Serat Arjunawijaya” dlsb.

Saya tergolong orang-orang tua dungu, ela-elo, anut grubyug, la yadri wala yadri annahu la yadri, mendo, menyun, pekok, pandir, tidak ngerti dan tidak ngerti bahwa tidak ngerti. Duduk tidak paham kursi yang diduduki. Bicara tidak tahu apa yang dibicarakan. Melangkah tidak mengerti kenapa melangkah dan ke mana melangkah.

Tidak punya kawruh apa bedanya ngimpi dengan wangsit, beda wangsit dengan ndaru, beda ndaru dengan ilham, beda ilham dengan fadhilah, fadhilah dengan ma’unah, ma’unah dengan karomah, apalagi dengan wahyu. Kemudian minta keputusan tidak mengerti hulu-hilir apa yang dimintakan. Lantas ambil keputusan tanpa mengerti dunung dan sangkan paran keputusannya. Kami sungguh generasi jahiliyah.

Sedangkan Beruk yang sangat kultural perhatiannya kepada semua kenyataan Negara dan masyarakat, menyodorkan dua tema juga yang berkaitan dengan gradasi dan degradasi kependidikan ke-adiluhung-an, paugeran stakeholders Keraton maupun Kasultanan. Sangat memprihatinkan, bahkan sangat mengerikan apa yang diceritakan oleh Beruk. Dan saya orang tua yang termasuk di dalam kengerian itu, merasa tidak tega untuk mengemukakannya kepada siapapun. Bahkan kepada diri saya sendiri pun sebenarnya tak kuat mengingat-ingatnya.

Itu semua disimpulkan oleh Pèncèng sebagai “Kawulo Apes”. Rakyat kecil kabur kanginan, kintir bersama dan sebagai larahan, uwuh, sampah sejarah. Lego lilo mempercayakan hidup kepada pemimpin, baik kepemimpinan Kerajaan maupun Negara. Tetapi apes bin sial bin kapiran — pemimpin demi pemimpin yang dipasrahi ternyata juga uwuh. Untung rakyat punya tradisi ketangguhan dan kreativitas untuk mempertahankan kehidupan dengan tetap bisa menikmati Wedang Uwuh.

“Kawulo Apes” adalah judul dan tema dari Pèncèng. Satu di antara enam judul yang Pèncèng, Beruk dan Gendhon kasih ke saya. Itu hasil pertemuan khusus…