Katakan ‘Tidak!’ pada Dendam Kemiskinan

“Sudah 19 tahun saya bekerja dengan bos saya yang sekarang. Dari bos saya hanya punya satu kendaraan truk, sekarang sudah punya banyak. Dari gudang material yang dimiliki bos saya hanya ukuran belasan meter persegi, sekarang sudah berkali-kali lipat luasnya.”

“Saya menjadi orang kepercayaan bos saya. Yang tahu stok barang itu saya, bahkan bos saya malahan seringnya tidak memperhatikan. Kalau mau curang, saya sangat punya peluang. Cukup nglolor 5 lembar kaca saja sehari. Tinggal dikalikan saja hasilnya sangat lumayan itu.”

“Tapi saya tidak mau curang. Wong yang tidak perlu curang juga tidak saya lakukan kok, yaitu mengambil lebihan barang kiriman dari pabrik. Pabrik itu sering mengirim stok dengan dilebihkan.”

Begitulah, Om Par salah seorang penggiat Maiyah di lingkaran Juguran Syafaat berkisah tentang tempat kerjanya. Selain kisah tentang tempat kerjanya, ada banyak kisah yang sebetulnya bisa digali dari sosok seorang Om Par, terutama menyangkut jabatannya sebagai ketua RT seumur hidup yang ia emban. Ia menjadi pejabat tertinggi di lingkungan RT di kawasan pemukiman padat penduduk yang berbatasan langsung dengan tembok gedung DPRD Kabupaten Purbalingga.

Teman-teman sempat di kala ngendong kali itu berkelakar. Seorang ketua RT itu tidak bisa jadi Bupati. Sebab kalau kinerja sebagai ketua RT bagus, maka dia akan diminta menjadi Ketua RT untuk seterusnya. Tetapi kalau kinerja sebagai ketua RT tidak bagus, maka dia akan dicutat oleh warganya.

Di tempat kerjanya, Om Par ini posisinya setara manajer, pelanggannya tersebar di 12 Kabupaten. Sebab ia prigel, maka turun ke lapangan sendiri menjadi kesehariannya. Kalau kawan-kawan dari kantor lain yang jabatannya setara sudah mentereng membawa mobil, kendaraan dinas Om Par cukuplah mobil bak terbuka. Itupun hanya Om Par bawa pulang kalau ada acara-acara Maiyahan atau acara di lingkungan RT.

Dengan gaya hidup bersahaja semacam itu, wajarlah kalau Om Par tidak melik untuk menempuh cara-cara curang untuk memperkaya diri. Toh keluarga sudah terbiayai, di kegiatan Maiyahan bisa ikut nyokong, serta toh meraih jabatan ketua RT juga tidak menuntut pengembalian modal kampanye sepeser pun.

Dengan karier halal dan toyyib-nya sekarang ini Om Par mempunyai waktu yang sangat lapang untuk sering-sering ngumpul kalau ada kegiatan dulur-dulur Maiyah. Ketika di-endongi selalu ia sampaikan maaf sebab rumahnya sempit. Padahal rumah bersahajanya di mata saya nampak lapang, buktinya cukup untuk memajang berbanyak-banyak foto Mbah Nun, foto dari berbeda masa yang Om Par koleksi. Walau aslinya memang tidak luas-luas amat, ngumumi dengan rumah milik tetangga-tetangganya.

Begitulah, kalau Om Par disebut zuhud tidak melik dunia, hampir dipastikan karena memang di tengah-tengah dulur-dulur Maiyah dan di lingkungan tempat tinggalnya Om Par sudah dapat ‘membeli’ kebahagiaan dengan biaya yang terjangkau. Bukan zuhud sebab karena terobsesi pahala dari balik zuhud.

Bahkan seharusnya yang terjadi pada Om Par adalah sebaliknya, sebab Om Par mempunyai pengalaman pahit tentang kemiskinan. Selidik punya selidik, Om Par ini pernah diterima jadi tentara. Tetapi kemudian ia gagal, sebab keluarganya tak sanggup membayar biaya administrasi sebesar 1,5 juta rupiah. Menyedihkan, bukan?

Namun hebatnya Om Par, ia tidak kemudian menimbun dendam terhadap kemiskinan. Sampai hari ini ia tetap bersahabat dengan kebersahajaan. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image