Karena Qur`an adalah Penyubur Maiyah

Tadabbur Tetes Mataair Maiyah: Asyiki Qur`an, Maiyah Suburkan

Apapun yang hadir di kehidupan manusia adalah pemberian Allah. Bukan murni usaha manusia. Bahkan manusia hanya sebatas bayangan wayang yang digerakkan dalang. Begitu juga dengan Maiyah, salah satu mata air kebijaksanaan ilmu yang tak kunjung habis saya timba. Mbah Nun beserta Cak Fuad dan Syekh Kamba menghindari menjadikan diri mereka sebagai tokoh sentral dalam Maiyah. Hanya menjadikan Maiyah setidaknya dalam 24 tahun ini sebagai sarana berkumpul karena Allah dan Nabi Muhammad Saw. Berharap bisa memberi manfaat bagi sekitar karenanya.

Padahal selaku inisiator Maiyah, beliau bertiga berhak mengklaim Maiyah sebagai sesuatu. Sikap yang umum dijalani para pendiri organisasi atau gerakan di belahan dunia manapun. Motif ekonomi, kuasa, sampai pengaruh nama menjadi niat awal lakukan perbuatan apapun. Namun, tidak dengan beliau-beliau. Yang hadir justru rendah hati, menyatakannya di depan ribuan orang bahwa mereka bukanlah apa-apa. Bisa menyampaikan pun hanya karena diizinkan Allah. Sebuah teladan yang seharusnya ditiru oleh jamaah Maiyah di manapun berada. Paling tidak untuk menundukkan ego diri merasa hebat.

Dalam pertemuan di Gambang Syafaat Bulan Oktober kemarin, Mbah Nun mengajukan pertanyaan apakah Maiyah ini dikirim Allah untuk Indonesia atau hanya kita selaku jamaahnya. Sebuah pertanyaan introspeksi diri yang begitu dalam. Iqra` Maiyah, membaca Maiyah dalam istilah Mas Fahmi yang pas datang dari Kenduri Cinta. Simbah memberikan pilihan pada jawaban-jawaban yang ada sesuai kemampuan dan kapasitas penerima nilai-nilai Maiyah. Sebagai senjata membabat alas Indonesia dipersilakan, cermin untuk menjadikan diri menjadi lebih baik setiap harinya dan mempersembahkan manfaat ke manapun pergi, atau bahkan disimpan sebagai rahasia terdalam pun diperbolehkan.

Oleh karena itu Mbah Nun mendorong jamaah Maiyah yang beliau sapa dengan akrab melalui panggilan ‘anak cucuku’ untuk tampil ke gelanggang persaingan. Sesuatu yang seolah bisa dikatakan bertolakbelakang dengan salah satu hadis nabi yang melarang persaingan selain dalam belajar Qur`an dan sedekah. Tapi jika melihat lebih lanjut akan makin paham sebab semua akan kembali ke niat. Membaca Qur`an untuk mewujudkan nilainya di keseharian dan sedekah kebaikan tanpa kenal batasan maupun paksaan.

Syarat dan ketentuan pun berlaku. Mbah Nun memperkenankan jamaah Maiyah turun menyelesaikan masalah-masalah di sekitarnya selama tidak ‘adigang adigung adiguna‘ kala menang atau tidak dengki, cengeng, dan dendam jika kalah. Mandiri bahkan dalam menentukan reaksi atas ketetapan Allah. Termasuk saat harus mengibarkan panji laskar dan memberi nama pada gerakan perubahan tadi.

Prinsip untuk melalui jalan yang paling baik, mengajak pada kebaikan dan menjauhi yang sia-sia apalagi merugikan sudah harus dipegang erat. Berkorban harta benda, tenaga, ilmu, bahkan nyawa pun sah-sah saja. Maiyah hanya menjadi cairan yang mengisi raga pergerakan dan tepung yang bisa dibentuk jadi apapun saja. Kecuali Allah lantas menurunkan Kehendak nyata semisal Resolusi Jihad puluhan tahun silam.

Andai situasi dan kondisi negeri membutuhkan jamaah Maiyah membentuk diri sesuai kebutuhan pecahkan masalah, tetap harus hindari kemungkinan perang saudara. Cegah dari potensi benturan sesama anak bangsa berlatarbelakang perbedaan apapun. Chaos semacam itu sangat diidamkan kaum muda tapi hanya akan bawa dampak sampai puluhan tahun ke depan. Berkaca pada kejadian-kejadian di masa lalu seharusnya menjadikan lebih berhati-hati dalam bergerak. Toh bagaimanapun Maiyah tak kuasa menyelesaikan masalah Indonesia apalagi yang tatarannya sudah mapan dalam beberapa dekade ini.

Itulah kenapa Mbah Nun mempertanyakan peran Maiyah sebagai apa di tiap individu jamaah. Maiyah hanya bisa mengajak menuju kebaikan melalui berbagai cara budaya di manapun berada. Melalui dialog untuk menemukan lantas mengungkapkan kegelisahan untuk menjadikannya sebagai panduan menuju jawaban kebenaran. Perkara kapan hidayah turun, sudah bukan wilayah Maiyah lagi, itu murni Kuasa-Nya. Allah lah yang memutuskan apakah Indonesia masih layak diselamatkan dengan Islam, atau malah mungkin oleh Maiyah.

Inilah kemerdekaan yang Allah anugerahkan kepada Maiyah. Tak bebani untuk selesaikan masalah-masalah berat sebab memang tak dipasrahi dan di luar tanggungjawabnya. Jadilah jamaah Maiyah lebih khusyuk menjadikan Qur`an sebagai bekal untuk mengolah Kebun Maiyah. Sibuk bekerja menggarap apapun di manapun jamaah Maiyah berada. Entah mencangkul tanah yang kering, menyiapkan bibit untuk kemudian hari, menanam mulai saat ini, menyirami secara rutin, bahkan mencabuti rumput teki yang tak sengaja ditanam tapi pasti tumbuh dengan subur. Kerja keras itu dilakukan bukan untuk menikmati masa panen, tapi semata memanfaatkan energi dan waktu yang dititipi Allah setiap hari.

Mbah Nun dijadwal Allah untuk berkeliling dunia. Menyibak dari shaf paling belakang di tiap Maiyahan, sampai tersengal nafasnya karena cinta kepada ummat manusia, Kaum Muslimin dan rakyat Indonesia. Kita selaku jamaah Maiyah pun tak boleh kalah semangat untuk mau diperjalankan Allah ke daerah manapun. Ikut alur ritmis Mbah Nun wujudkan kebaikan. Menjadi wayang yang taqwa, waspada pada Kehendak-Nya.

Apapun yang hadir di kehidupan manusia adalah pemberian Allah. Bukan murni usaha manusia. Bahkan manusia hanya sebatas bayangan wayang yang digerakkan…