Kalau Kekasih Disakiti

Orang-orang sudah sangat pandai dan sanggup mengatasi masalah. Tetapi menahan diri jangan sampai bergerak mengatasi masalah, karena mereka merasa nikmat dan mendapat keuntungan di atas masalah bangsanya. Orang-orang menyimpan dan merahasiakannya jauh di lubuk hati: Jangan sampai ada perubahan, kecuali perubahan yang memperbesar keuntunganku.

Di sana-sini sedang gencar berlangsung kecurangan, politik ruang gelap dan deretan penganiayaan. Sedangkan aku orang awam dan rakyat kecil. Aku bukan siapa-siapa untuk sanggup mengatasinya. Tetapi sekurang-kurangnya kutuliskan catatan untuk anak-anak cucuku penghuni NKRi esok lusa. Syukur bermanfaat untuk menjadi “pancer” dan pedoman bagi kepemimpinan dan pengelolaan masa depan yang saya orang tua takkan sanggup menggapainya.

Karena aku ber”Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebenarnya tidak sulit bagiku untuk menolak Negara, Indonesia, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bahkan pun Dunia dan segala “uborampé”nya. Tetapi sebaliknya, berkat Tuhan Yang Maha Esa pula bagiku mudah dan gembira-gembira saja menerima NKRI, filosofinya, dasar komitmen kenegaraannya, sampaipun merah atau putihnya.

Ketika aku mengangkat tangan dan tabik kepada Merah Putih yang dinaikkan, aku tidak sedang menyembah bendera, melainkan menghormati perjanjian nasional bangsaku. Merah Putih bukan “thoghut”, karena aku tidak menyembahnya. Pancasila bukan berhala, karena ia hanya “password” perjanjian nasional yang saya berada di dalamnya.

Sebagaimana ketika shalat aku tidak menyembah Kiblat, di Mekah aku tidak mengabdi kepada Ka’bah. Ketika mencium Hajar Aswad pun tidak bermakna aku penggemar batu hitam: yang aku lakukan adalah kemesraan cinta, melakukan apa yang sebelumnya dilakukan oleh orang yang aku cintai dan mencintaiku. Yakni Muhammad, yang Nur-nya — yang adalah Senior segala makhluk, kakak sulung siapa dan apapun saja, termasuk para Malaikat dan Iblis.

Tuhan Yang Maha Esa berhak meletakkan aku di Eskimo atau Pulau Jawa. Di manapun ditakdirkan, itulah tanah air dan nasionalismeku. Andaikan banyak hal dari takdir Tanah Airku itu yang bertentangan dengan keyakinan kebenaranku, tidak harus aku benturkan diri, sepanjang tetap aku temukan Tuhan Yang Maha Esa padanya — meskipun, pasti, tidak sempurna.

Misalnya ketika aku dihampiri oleh “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”, sebagaimana pernah saya ungkap — sebenarnya aku bisa menawarnya. Tapi aku mensyukuri apa adanya, mie godok tidak harus pakai telor. Toh Pancasila takkan pernah ada kalau Tuhan Yang Maha Esa tidak meminjamkan ide-ide kepada para pendiri Negara ini, berupa kata: Adil, Adab, Rakyat, Hikmat, Wakil, Musyawarah.

Atas yang aku setuju, aku mensyukuri dan menghormatinya. Atas yang aku tak setuju, sepanjang berada dalam kemahaluasan frekuensi “Tuhan Yang Maha Esa”: aku menerimanya sebagai tindakan sedekah. Aku bukan pemeran utama teater amat panjang yang bernama sejarah. Indonesia dilangsungkan oleh banyak subjek: rakyat, pemerintah, sejumlah makhluk, hukum alam, dan Tuhan sendiri. Pemain sepakbola sehebat apapun tidak bisa menggambar rute jalannya bola sebelum pertandingan. Pemerintah sekuat apapun, tak bisa mengatur tetesan embun. Presiden sedahsyat apapun tidak mampu menumbuhkan sehelai rambutnya sendiri atau menjadwal jam menit detik kapan ia buang air kecil.

Maka aku tak pernah cemas melihat seberapa rusak pun Indonesia, seberapa hancurnya pun manajemen kenegaraannya, hubungan rakyat dengan pemerintahnya, komplikasi kebobrokannya. Aku mengambil kesibukanku sendiri untuk mensedekahi masa depan anak-cucu Negeriku. Aku berkeliling, belajar bersama ribuan kaum muda, dua sampai tiga kali seminggu. Ada tema-tema yang berkaitan dengan rute sejarah kekuasaan, krisis kepemimpinan yang berkepanjangan, kesalahan “sasis”, fondasi dan rangka dasar NKRI, sampai detail birokrasi, budaya masyarakat, mental pejabat dan banyak lagi.

Tapi itu tidak primer, meskipun bukan juga sekunder atau tersier. Tetapi yang utama, yang kulakukan adalah yang insyaallah dan alhamdulillah kebanyakan manusia berpendapat itu khayalan dan utopia. Tidak masalah bagiku, karena di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, kehidupan ini seluruhnya hanyalah layers animasi dan hologram dengan durasi sangat pendek. Yang kulakukan adalah “memperbanyak kekasih Tuhan Yang Maha Esa di bumi Nusantara”.

Ribuan, lima ribu, sepuluh ribu, terkadang lima belas sampai dua puluh ribu anak-anak muda, duduk tenang 6-8 jam hingga pukul 03.00 dinihari. Tidak perduli tanah becek atau hujan mengguyur. Tidak ada yang berisik, kanak-kanak dan bayi tidak menangis atau memberontak. Tidak ada sandal atau barang hilang. Tidak ada yang berebut apapun. Tidak ada kekerasan, kebencian atau kedengkian. Tidak ada skandal, karena tidak ada lelaki tidak ada wanita: yang ada adalah hamba-hamba dan khalifah-khalifah Allah yang hatinya berat membayangkan masa depan Indonesia. Tidak ada jabatan, tidak ada pamrih materi, tidak ada egosentrisme, tidak nafsu bodoh keduniaan.

Sampai dinihari kami melakukan segala hal yang kami perhitungkan disukai oleh Tuhan Yang Maha Esa. Secara khusus dan privat aku memohon agar mereka diperkenankan menjadi kekasih-kekasih-Nya. Dulu di zaman Nabi Hud, Nabi Soleh, Nabi Nuh, Nabi Luth, dan Nabi Ibrahim, Allah menurunkan bencana besar bukan karena masyarakatnya kafir. Sebab Allah tidak laba oleh keimanan semua manusia dan tidak rugi oleh kekufuran seluruh makhluk-Nya.

Allah murka karena para kekasih-Nya itu disakiti hatinya. Tatkala Muhammad saw bersama Abu Bakar As-Shidiq berlindung di Gua Tsur dari kejaran pasukan Abu Jahal, Rasulullah berbisik: “Jangan takut dan jangan bersedih, Allah bersama kita”. Siapakah yang berani menuduh Abu Bakar takut kepada pasukan Abu Jahal dan bersedih karena terancam akan mati? Tidak. Yang ditakutkan oleh Abu Bakar adalah: kalau Muhammad kekasih Allah ini disakiti, dan Allah murka karena itu, bagaimana kalau Ia menyusuh Jibril mengambil bumi ini, membantingnya, atau membuangnya ke ruang kosong tanpa oksigen di seberang galaksi? Atau dibatalkan seluruh takdir penciptaan kehidupan ini?

Sebab, ini urusan cinta. Wahai Tuhan Yang Maha Esa, kalau anak-anak muda yang bersamaku ini adalah penghuni masa depan Indonesia, Engkau berkenan menjadikan mereka kekasih-kekasih-Mu — maka tegakah Engkau membiarkan mereka dan kami semua hancur? Dan sekarang ini, dari hari ke hari, anak-anakku, para kekasih-Mu ini, diiris-iris hatinya, dibingungkan perasaannya, digedor mentalnya, digelapkan pikirannya, dijahiliyahkan spiritualitasnya, diputus-asakan masa depannya… Ya Dzal wabal, ya Dzal ‘Adli wal Qisthi… ***

Yogya, Juni 2017.

Orang-orang sudah sangat pandai dan sanggup mengatasi masalah. Tetapi menahan diri jangan sampai bergerak mengatasi masalah, karena mereka merasa nikmat…