Jawaban Atas Pertanyaan yang Tak Ditanyakan

Beruntung, di tengah kebisingan di luar sana, telinga kanan ini masih bisa mendengar jelas setiap bisikan cerita dari seorang teman. Dengan volume suara dipelan-pelankan, dia pun mulai menceritakan tentang sepenggal pengalamannya sewaktu sowan ke Kadipiro beberapa waktu lalu. Dan entah mengapa, setiap alur ceritanya berhasil menculik jiwa ini. Untuk barang sebentar hanyut dalam pengembaraan ceritanya. Setiap penggalan kalimatnya berhasil menghipnotis saya. Hingga saya pun benar-benar bisa merasakan setiap detail alur kejadiannya. Namun karena keterbatasan saya lah, mungkin masih belum bisa mendongeng secara detail sebagaimana kisah aslinya.

Siang itu, sesuai jadwal tiket kereta yang telah dibelinya, gadis itu akan melakukan perjalanannya ke Yogyakarta. Dia menempuh perjalanan yang baginya cukup istimewa itu seorang diri. Istimewa karena belum tentu lima atau pun lima puluh tahun ke depan, ia bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Bukan tentang Yogyakartanya, tapi tentang nyawa-nyawa yang akan ia temui. Tentang nuansa, suasana, rasa, serta apa pun saja yang akan ia bawa dari sana. Dan tentunya tidak akan pernah sama jika ia melakukan perjalanan itu detik ini, misalnya.

Sepanjang perjalanan, gadis itu terus saja berusaha mengelola rasanya. Merayu hatinya agar kembali membaik, paling tidak seperti sedia kala. Karena tanpa sebab yang diketahuinya secara pasti, mendadak ia merasa tak enak hati menjelang keberangkatan perjalanannya yang istimewa itu. Seperti ada yang mengganjal. Dan entahlah, ia sendiri pun tak tahu apa itu.

Shohibu Baity, Jawaban Pertama

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama enam jam, akhirnya menjelang Isya’, ia pun berhasil menginjakkan kaki di tlatah Yogyakarta. Mengingat acara di Kadipiro juga masih keesokan pagi harinya, gadis itu tidak langsung menuju Kadipiro. Ia mampir dulu di kos seorang teman karibnya yang kini tengah berburu ilmu di Yogyakarta.

Ada banyak hal ia ceritakan tentang pertemuannya dengan teman seperjuangannya semasa kuliah dulu. Mulai dari ketulusan temannya yang memaksa menjemputnya di stasiun, meskipun sebenarnya sahabat itu tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sedikit adegan drama saling mencari di antara mereka, karena misunderstanding lokasi. Nostalgia di antara mereka, pembicaraan tentang rencana-rencana yang akan mereka lakukan ke depannya, dan masih banyak lagi cerita lainnya. Ah, sahabat itu masih saja tetap baik seperti dulu. Meskipun puluhan purnama mereka tak lagi hidup bersama, tapi nuansa tulusnya persaudaraan masih sangat terasa di antara mereka.

Dan dari sekian cerita gadis itu, ada yang diam-diam masih betah bersarang dalam pikiran saya. Adalah saat perjalanannya dari stasiun Lempuyangan menuju kos temannya. Seperti sudah saya ceritakan di awal, karena sahabat itu tidak bisa mengendarai sepeda motor, walhasil mereka pun menggunakan jasa abang-abang tukang ojek untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan.

Selama perjalanan, awalnya hanya ada obrolan ringan di antara gadis itu dan abang ojek yang membelakanginya itu. Hingga tiba-tiba, abang itu mulai bercerita tentang privasinya. Tentang bagian perjalanan hidupnya, yang sampai akhirnya mengantarkan abang itu untuk memantabkan pilihannya. Pilihan pada agama yang kini diyakini kebenarannya dan berusaha dipatuhi setiap ajarannya.

Ada sepenggal kalimat abang ojek itu yang masih melekat sampai saat ini. “Wis ta Mbak, pokok sampean terus saja cari Tuhan. Nomor satukan Tuhan.” Jangan biarkan posisi Tuhan terkalahkan oleh yang lainnya dalam hati kita. Begitu kira-kira yang abang ojek pesankan pada gadis itu.

Dan seperti ada benang-benang yang menghubungkan. Keesokan harinya, sewaktu sinau kepenulisan di Kadipiro, Mbah Nun pun sempat menyinggung bahwa kunci dari segala kunci adalah tauhid. Kunci menulis, jika ditarik lebih luas lagi juga bisa dijadikan sebagai kunci menjalani kehidupan, adalah keseimbangan. Sadar bahwa hidup itu terus saja mengalir dan bergetar. Dan kita harus tetap berusaha untuk berada pada garis-garis keseimbangan itu. Jika kehidupan ini terbagi menjadi hal-hal bersifat duniawi dan ukhrowi, maka kita harus berusaha berada di antaranya. Dan kita tidak akan bisa seimbang, kecuali dengan kematangan tauhid yang mengakar dalam diri kita.

Pada waktu itu, Mbah Nun juga sempat menyinggung tentang syair Shohibu Baity. Lirik lagu itu sempat mengundang perhatian Gus Mus. Menurut Gus Mus, Shohibu Baity terkesan cenderung berlebihan, terlalu percaya diri. Allah tuan rumahku. Allah yang meliputi segala yang ada pada diri kita. Gus Mus pun menyarankan agar Shohibu Baity diganti dengan Yaa Shohiba Baity, wahai Tuan rumahku. Dengan kepiawaian Mbah Nun dalam berkomunikasi, beliau pun memaparkan rasionalisasi dari argumennya dan tetap bisa menjaga perasaan lawan bicaranya. Meskipun toh ada perbedaan di antaranya. “Lho, kalau bukan Allah, lalu siapa? Apa yang bukan Allah yang ada dalam diri kita?” Begitu yang Mbah Nun sampaikan di Rumah Maiyah kala itu.

Jawaban Kedua, Keseimbangan

Lagi-lagi, semakin ke sini gadis itu semakin menemukan benang-benang yang menghubungkan setiap kejadian yang dialaminya. Sebelum keberangkatannya ke Kadipiro, gadis itu sempat berdiskusi dengan salah satu JM di simpulnya. Dalam obrolan mereka tentang kepenulisan, JM tersebut menitipkan pertanyaan tentang kepenulisan. Seolah mengetahui apa yang menjadi permasalahannya, siang itu Mbah Nun pun mulai membagikan kunci-kunci kepenulisan yang selama ini dipegang beliau. Dan benar, apa yang disampaikan Mbah Nun pun seketika menjawab permasalahan yang dibawa gadis itu. Meskipun, gadis itu belum sempat menyuarakannya dalam forum itu.

Apa pun tulisan kita, entah itu esai, cerpen, atau apa pun saja, kita harus berangkat dari kesadaran keseimbangan. Dan resep inilah, yang menjadi salah satu alasan tulisan Mbah Nun masih tetap relevan sampai saat ini. Meskipun beliau menuliskannya sudah puluhan tahun lalu. Kesadaran keseimbangan ini pula yang membuat tulisan Mbah Nun bisa diterima oleh khalayak lebih luas. Mengkritisi pemerintah, tapi tidak bisa digugat sebagai bentuk makar, misalnya. Karena dalam setiap kritikannya, beliau piawai memainkan ‘getaran-getaran’ dan ‘aliran-aliran’. Beliau sangat piawai memainkan ‘rem’ dan juga ‘gas’. Tahu kapan saatnya memberikan pancingan-pancingan cerdas, dan kapan beliau harus mengeremnya. Ibarat dalam berkendara, tidak sampai ada kecelakaan dalam kelincahan penulisannya.

Masih belum berhenti di sini, kejutan akan rajutan benang-benang itu juga masih berlanjut. Rasa tak enak hati menjelang keberangkatan gadis itu tadi, bisa jadi menjadi alarm dari Gusti. Bahwa ternyata tiket kepulangannya yang sudah ia beli jauh-jauh hari tidak sesuai dengan prediksi. Alias salah beli tiket. Ya, tiket yang seharusnya ia beli untuk tanggal 24 Maret 2017, pukul 00.48 WIB, ternyata tertuliskan tanggal 23 Maret 2017 pukul 00.48 WIB.

Ba’da maghrib, seusai acara workshop, dengan diantarkan abang ojek, ia pun segera menuju stasiun Tugu untuk berburu tiket. Dan ternyata, abang ojek ini lama hidup di Kanigoro, suatu daerah yang tak jauh dari rumah gadis itu. Lumayan, setidaknya obrolan mereka sedikit menghibur gadis yang ‘nyasar’ itu. Meskipun baru ketemu, tapi karena ada kesamaan di antara mereka, rasannya mereka sudah lama saling mengenal. Sesampainya di stasiun, rupanya hiburan itu telah berganti. Ya, gadis itu kehabisan tiket untuk pulang ke kampung halamannya.

“Wah, Jogja memang keren sekali ya caranya mengajak kenalan.” Pikir gadis yang memang baru pertama kali melancong seorang diri ke Yogyakarta itu. Gadis itu hanya diam sejenak, sembari memikirkan nasib kepulangannya. Tiba-tiba ia ingat, kalau sebelum berangkat ke stasiun, ada salah satu JM di Kadipiro yang menyarankannya untuk naik kereta dari stasiun Lempuyangan. Meskipun kereta yang akan dinaikinya itu akan berhenti di Kediri sekitar pukul 02.30 dini hari, tidak langsung berhenti di kota kelahirannya, setidaknya kereta itu telah bermurah hati mengantarkannya lebih dekat dengan tujuannya. Lebih dekat dengan daerah asalnya.

Kadipiro, Yogya, sapaanmu sungguh memukau. Dan tak akan pernah terlupakan. Mungkin ini hanya sedikit bagian dari cara ‘mereka’ menyapa. Cara mereka ‘mendiklat’ gadis itu. Untuk ‘menguji’ dan ‘menebus’ kekotoran diri menuju ‘tempat’ yang lebih suci. Bisa jadi, ini juga salah satu cara Tuhan, untuk mengantarkan gadis itu agar lebih pagi sampai di rumah. Dan tidak sampai terlambat untuk masuk ‘sekolah’.

Juga salah satu cara Tuhan, untuk menunjukkan pada gadis itu akan sambungan benang-benang kehidupan. Hingga dia pun mampu menemukan dan memahami sambungan benang-benang yang memang saling sambung ini, awal dan akhir benang-benang yang dibentangkan-Nya di semesta ini. Ah, apa pun alasannya, asalkan Dia tidak sampai murka, gadis itu berusaha menerima semuanya dengan cinta. Sekali lagi gadis itu bersyukur. Teruntuk Kadipiro, Yogya, Semesta, ia berterima kasih atas semua sapaannya. Terima kasih atas semua jawaban-jawaban, untuk pertanyaan yang tak sempat terlisankan.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image