Wedang Uwuh (39)

Jawa Alhamdulillah dan Betawi Allahu Akbar

Kedaulatan Rakyat, 25 Juli 2017

“Sebentar Cèng…” , sekarang Gendhon mengejar, “Tadi kamu bilang tidak ada jalan atau cara untuk mengerti apakah seseorang itu Muslim atau bukan, apalagi berpuasa atau tidak. Saya tanya itu berlaku untuk acara Syawalan itu saja ataukah juga keseluruhan keadaan di masyarakat kita?”

“Tergantung tingkat informasi yang ingin kita capai”, jawab  Pèncèng, “kalau Ummat Islam di Indonesia ini dianggap mayoritas berdasarkan KTP dan identitas teknis administratifnya, lantas kita merasa cukup dengan itu, ya tidak ada masalah. Tapi kalau kita ingin mengejar lebih jauh atau mendalam, kita bisa memakai parameter yang juga kualitatif, tidak hanya kuantitatif”

“Sudah menjadi data baku yang diakui seluruh dunia bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Kaum Muslimin”

“Itu satu layer fakta. Ada banyak layers yang lain. Kalau yang disebut golongan mayoritas di sebuat negara adalah yang dominan secara politik, maka Ummat Islam sangat minoritas. Kalau yang disebut mayoritas adalah yang menguasai modal dan konstelasi perekonomian, maka Ummat Islam lebih minoritas lagi. Kalau yang disebut mayoritas adalah peran suatu masyarakat  yang berkelompok berdasarkan kesamaan komitmen nilai-nilai misalnya Agama atau filsafat hidup — maka Ummat islam di Indonesia adalah buih-buih di dalam konstelasi ber-Negara, sangat marjinal. Bahkan nilai Islamnya berposisi out of box. Excluded.”

“Hati-hati lho Cèng…”

“Islam itu mata air ilmu dan nilai yang Bangsa Indonesia menyerap dan nyucup di pancurannya sehingga kemudian melahirkan Pancasila, kok kemudian ada yang mempertentangkan Pancasila dengan Islam. Anak kok disuruh jadi Malin Kundang. Tindakan seperti itu bisa menjadi bumerang…”

“Kok bumerang?”

“Kan tempo hari ada Pilkada yang ributnya bukan main dan membuat penduduk seluruh Negeri masuk angin, beberapa bagian di antara mereka bahkan mabuk. Mana bisa rakyat Betawi disuruh begitu…”

“Apa hubungannya dengan masyarakat Betawi?”

“Masyarakat Islam Betawi berbeda dari masyarakat Islam Jawa. Mereka tidak agraris. Muslim Jawa itu tradisinya Alhamdulillah. Kalau Muslim Betawi itu etos dan wataknya Allahu Akbar. Kalau Islamnya ya Alhamdulillah ya Allahu Akbar ya Subhanallah ya Astaghfirullah. Karena berabad-abad mereka berada di pusat kekuasaan Kolonial Belanda. Tiap hari mereka berhadapan dengan VOC. Tiap saat mereka harus waspada karena situasinya penuh permusuhan dan sekam peperangan. Maka kalau mereka diajak menjadi ‘Saya Pancasila’  dengan nuansa memusuhi Islam, masalahnya Allahu Akbar diganti dengan teriakan apa?”

“Jangan terlalu jauh dong Cèng…”

Tapi tampaknya Pèncèng tidak peduli. Malah tertawa.

“Itu salah satu faktor yang membuat cagub itu kalah: karena membelokkan isu dari konsep pembangunan ke tema Pancasila. Faktor kedua karena para Pengusaha Utara menyalahi tradisi: seharusnya seperti biasanya pengusaha itu ya nyirami rejeki ke semua calon, nanti kalau salah satu menang, baru yang ini disirami dua kali lipat. Faktor ketiga adalah Pasukan Dluafa dari Madura dan tempat-tempat lain di Jatim, termasuk juga dari daerah-daerah lain, yang dibagi rata di 515 TPS untuk mengontrol perolehan suara”.

“Untuk apa soal itu dibawa-bawa ke dialog kita”

“Pilkadanya tidak penting. Keributannya juga secara politik seolah-olah sudah lebih reda meskipun masih banyak buntut dan asapnya. Secara hukum juga seolah-olah ada penyelesaian. Tapi pada hakikatnya secara ilmu dan nilai kita semakin kesasar, semakin rabun dan terbalik-balik…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image