Daur-II • 067

Jarak antara Awal dengan Akhir

Menurut Markesot, seberapa besar tingkat berlebihannya kehidupan manusia, berbanding lurus dengan jarak antara kehidupan yang ditempuhnya dengan batas fithrah yang ditentukan oleh Tuhan mereka. Manusia, bahkan kaum cendekiawan di antara mereka, sudah kehilangan kemampuan untuk mengukur jarak itu. Sebab sepanjang mereka mencari ilmu: mereka tidak mempelajari rentang jarak antara awal dengan akhir, serta tidak belajar kepada Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir.

Tidak ada kelas Sekolah atau Fakultas di Universitas yang benar-benar mempelajari hal itu dan sungguh-sungguh belajar kepada-Nya: Al-Awwalu wal-Akhiru. “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[1] (Al-Hadid: 3). Tidak ada budaya dan institusi pembelajaran tentang itu dalam Peradaban Modern sampai hari ini, membuat ummat manusia tidak pernah memegang regulasi kepastian tentang fithrahnya, termasuk Ummat Islam yang setiap tahun gaduh beridul fithri.  Dan tanpa pengetahuan tentang fithrah dirinya, ummat manusia juga tidak memiliki dasar ukuran untuk menentukan batas atas kewajarannya dengan keberlebihannya.

Manusia tidak punya parameter untuk mengukur apa yang berlebihan pada pembangunan Negaranya, pada kemewahan teknologinya, pada eksplorasi dan manifestasi kebudayaannya, serta pada batas antara kebutuhan dan keinginan di peradabannya.

“Antara keinginan dengan nafsu saja manusia semakin tidak mengerti bedanya”, kata Markesot, “apalagi antara keinginan dengan kebutuhan. Maka segala yang berlebihan secara fithrah, terasa wajar-wajar saja bagi mereka. Bahkan sesuatu yang sangat berlebihan mereka bilang itu alamiah dan manusiawi”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra