Jangan Sampai Meletus Balon Hijau

Catatan Majelis Ilmu Kenduri Cinta, Jakarta 10 Maret 2017

Jumat kedua adalah “hari raya” bagi Jamaah Maiyah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pada hari itulah Kenduri Cinta (KC) dilaksanakan setiap bulannya. Sejak siang hari, beberapa penggiat KC sudah berada di Pelataran Taman Ismail Marzuki untuk persiapan akhir pelaksanaan acara. Tenda sudah terpasang dua hari sebelumnya, sehingga di hari pelaksanaan tinggal mengatur level dan sound system saja. Dan jamaah siap untuk duduk lesehan bersama.

Cuaca Jakarta sore itu tampak mendung dan angin berhembus cukup kencang, sehingga sempat muncul kekhawatiran akan turun hujan di sekitaran Cikini, karena sejak siang harinya hujan memang mengguyur beberapa wilayah di Jakarta.

Kenduri Cinta 10 Maret 2017
Warga Jakarta memenuhi pelataran TIM.

Seperti bulan-bulan sebelumnya, KC diawali dengan pembacaan Wirid Ta’ziiz dan Tadzliil, yang kemudian dilengkapi dengan Wirid Tahlukah, oleh beberapa penggiat dan diikuti Jamaah yang telah hadir di lokasi.

Salah satu esensi wirid ini adalah memohon kepada Allah agar kita dan siapapun saja diberikan hati yang lembut, terutama kepada sesama muslim. Hal yang senantiasa relevan dan dibutuhkan dalam situasi ibukota akhir-akhir ini. Doa-doa yang terucap dari penggiat dan jamaah yang melingkar di pusat kebudayaan Jakarta itu membumbung menembus ke ruang-ruang di bumi Jakarta.

Usai prosesi pembacaan wirid-wirid ini, Adi Pudjo, Luqman, dan beberapa penggiat lain memaparkan latar belakang mengapa tema Kecela Kecèlè ini diangkat.

Kecèlè. Iya, begitulah kira-kira gambaran awalnya. Bahwa kita sering sekali kecèlè terhadap keputusan-keputusan yang sudah kita ambil di masa lampau. Dan parahnya, kita kecèlè berkali-kali, seakan-akan tidak ada kapoknya. Seperti tergambar di Poster Kenduri Cinta bulan ini.

Luqman menjelaskan bahwa manusia merasa sudah berada di posisi paling tinggi, ternyata pada sekian langkah, ia menemukan tangga lagi, kemudian karena merasa ingin menjadi yang lebih tinggi dari orang lain, manusia saling sikut satu sama lain, saling berebut posisi dan itu terus berulang-ulang, hingga akhirnya karena merasa tidak puas, manusia kemudian jatuh ke bawah.

Kira-kira demikian gambaran yang direfleksikan dari poster Kenduri Cinta kali ini. Sementara itu Indra, salah satu Jamaah memiliki pandangan bahwa di Maiyah kita belajar menemukan titik gravitatif terhadap kehendak Allah. Menurut Indra, kunci utamanya adalah khusnudhdhonn kepada Allah dan jangan memberi celah sedikit pun buat berprasangka buruk kepada Allah. Paparan para penggiat ini diharapkan membuka sambungan Jamaah kepada tema maupun atmosfer KC secara keseluruhan sehingga tatkala nanti para narasumber utama telah berada di panggung, mereka siap mengikuti wawasan yang akan dihadirkan.

Makin Malam Makin Mendalam

Lewat pukul 10 malam, pelataran Taman Ismail Marzuki tampak sudah dipenuhi oleh jamaah. Sesi prolog tadi dipungkasi dengan penampilan duet Bimo dan Parman yang membawakan musikalisasi puisi.

Jangan Sampai Meletus Balon Hijau

Kini jamaah yang beragam latar belakangnya itu semakin masuk ke dalam padatan tema dan muatan. Masyarakat urban Jakarta itu diam-diam telah melepaskan sejenak atmosfer ibukota yang padat oleh target dan kalkulasi, serta oleh berbagai isu-isu politik. Khususnya oleh politisasi identitas dan agama untuk berebut kekuasaan. Mereka masuk ke dalam refleksi dan perenungan.

Salah seorang di antara mereka, Husein Ja’far mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berkata “Barangsiapa tidak mengerti sejarah maka dia akan mengulang sejarah.” Ia menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia itu bukan lewat cara peperangan. Ini sangat unik dan berbeda dengan bangsa-bangsa di Timur Tengah. Menurutnya, Islam masuk ke wilayah mereka dengan cara penaklukan-penaklukan kerajaan.

Dalam sejarah tertulis, jika bukan dengan peperangan, maka proses tersebut berlangsung dengan cara masuk ke wilayah inti kerajaan, yaitu menikahi putri raja yang sedang berkuasa. Sementara di Indonesia, Islam masuk melebur dengan kearifan lokal. Sehingga Islam begitu kuat menjadi pondasi Nusantara.

Ruang kultural KC, suatu oase yang langka di pusat metropolitan Indonesia, makin mewadahi berbagai refleksi. Bang Mathar, penggiat Kenduri Cinta asli Betawi menambahkan bahwa yang dibutuhkan manusia hari ini adalah menjadi dirinya sendiri agar tidak kecèlè lagi. Sementara kemudian Fahmi, seraya mengulas kembali Mukadimah Kenduri Cinta yang sudah dipublikasikan sebelumnya, menyodorkan bahwa memang yang dialami oleh Bangsa Indonesia hari ini adalah kecèlè berkali-kali.

Dalam dunia politik misalnya, Bangsa Indonesia tidak ada kapok-kapoknya melaksanakan Pemilihan Umum setiap 5 tahun sekali. Padahal sudah jelas-jelas sistem itu selalu gagal mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setiap lima tahun, Bangsa Indonesia kembali ditipu para calon-calon wakil rakyat, yang pada akhirnya sebagian dari mereka terseret kasus korupsi, merampok uang rakyat. Benar-benar kecèlè berulang-ulang.

Ali Hasbullah kemudian ikut berbicara menyumbangkan kesadaran dan kesaksiannya, bahwa satu-satunya solusi bagi Bangsa Indonesia saat ini adalah intervensi dari Allah. Seperti Maiyahan yang kita lakukan setiap bulan ini, kemudian juga Cak Nun hampir setiap malam menemani rakyat kecil di beberapa daerah di Indonesia, adalah dalam rangka setor kepada Allah, melamar dan menambah jumlah kekasih Allah, sehingga pada saatnya nanti Allah sendiri yang memutuskan untuk mengubah keadaan ini.

Kenduri Cinta 10 Maret 2017

Seperti sering Cak Nun sampaikan, kita melakukan Maiyahan seperti ini agar setidaknya kita kelihatan ada perjuangan di mata Allah. Kalau bukan karena cinta kepada Allah, lantas atas alasan apalagi Jamaah Kenduri Cinta setiap bulan datang di Taman Ismail Marzuki, bertahan duduk menekun 7-8 jam, menyimak paparan-paparan narasumber yang ada

Zig-Zag, Siklikal, dan Kaya dalam Berpikir

Pasca refleksi para penggiat dan jamaah, kini tiba saatnya Cak Nun bergabung. Kehadiran Beliau selalu membawa para muda dan sesiapa yang hadir di KC mengalami olah pikir yang khas. Yakni menyelami berbagai isu, topik, atau pembahasan. Dari hukum hingga tasawuf

Dari kekhusyukan hingga kegembiran hidup. Hal yang tak mungkin dapat dilakukan jika orang terbiasa linier dan tertutup serta cupat pikir.

Cak Nun membuka jendela, menguak cakrawala berpikir. Malam itu proses berpikir berlangsung dalam beberapa jam, dan itu sesungguhnya membutuhkan konsentrasi dan stamina tersendiri pada diri jamaah. Sejauh ini, dalam pandangan Cak Nun, jamaah KC makin memperlihatkan kekonstanan dalam menyimak dan mengikuti acara. Mereka ikut mencicipi keabadian lewat kekonstanan itu. Lebih dari itu, setiap kali menatap jamaah, terlihat berbagai ekspresi penuh makna. Mulai dari cara duduk, cara memandang, gaya tawa, sorot mata, hingga cara-cara dalam bersalaman dengan Cak Nun dan narasumber lain seakan menghadirkan gambaran lain dari sesuatu yang tengah mereka cari dan mengisi jiwa mereka.

Keragaman tema itu dimulai ketika Cak Nun menyampaikan hukum-hukum dalam Islam ada wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Beliau menerangkan, dalam memahami dan memutuskan sebenarnya hukum-hukum tersebut dapat dipertimbangkan dengan common sense, tidak perlu bertanya atau merujuk ulama tertentu. Karena belum tentu ulama dapat dijadikan rujukan.

Ini tidak dimaksudkan untuk menegasikan peran ulama, melainkan mendorong terasah dan hidupnya jiwa manusia dan membangkitkan rasa hukum yang mati baik karena kejumudan, kemalasan berpikir, atau terlalu mudah menyerahkan kedaulatan kepada orang lain, yang orang lain itu potensial membuat kécelé. Padahal dengan modal minimal common sense dan jiwa yang hidup, dia akan merasakan kecenderungan hukum sesuatu. Kepepetnya tak ada yang bisa ditanya, dia sementara bisa mengikuti kecenderungan atau nurani di dalam hatinya itu.

Berhubung sempat terdengar kata-kata NKRI, Cak Nun mendapatkan case study yang memantik olah pikir jamaah berkaitan dengan hukum-hukum Islam yang beliau sampaikan sebelumnya. Dalam hal ini Beliau munculkan pertanyaan cerdas menggoda: apa hukum NKRI. Apakah wajib, sunnah, makruh, haram atau apa? Pertanyaan ini menggelitik bagi jamaah, karena toh tak lazim orang bertanya demikian, dan kontan direspons tawa riuh rendah. Cak Nun menjelaskan, jika diukur dari hukum Islam yang 5 itu posisi Indonesia sangat relatif. Ada kalanya memang bersifat wajib, ada saatnya bersifat halal, bahkan bisa jadi suatu saat bersifat haram.

Ini tentu saja mengingatkan hal yang ternyata sudah 25 tahunan silam Cak Nun tulis dalam Slilit Sang Kiai pada esai berjudul “Makan Minum Dak Tentu”. Ialah kisah “ushul fikih” orang Madura dalam memandang hukum makan minum, yang intinya bergantung illat dan kondisinya. Adakalanya menghasilkan hukum wajib makan, haram makan, makruh makan, dan seterusnya. Andai orang sedikit memang rumus orang Madura ini, dia akan lumayan tidak bimbang dalam memutuskan hukum secara dinamis dan kontekstual.

Kenduri Cinta 10 Maret 2017

Cak Nun sangat cinta pada orang Madura. Dan, pada sesi kali ini humor jenaka tentang orang Madura disampaikan dengan segar membuat jamaah terpingkal-pingkal. Memang acapkali Cak Nun menyampaikan humor tentang orang Madura, tapi ceritanya selalu segar dan tidak pernah kalah lucu dari cerita-cerita sebelumnya.

Seperti malam ini di Kenduri Cinta, Cak Nun bercerita. Seorang Pedagang Sate  pada zaman pemberontakan PKI tetap ngotot berjualan di malam hari padahal jam malam sudah diberlakukan. Ketika ditanya aparat tentang identitasnya, orang Madura itu menunjukkan kartu BANSER. Dan ketika ditanya apa itu Banser, orang madura itu menjawab; “Banser itu setengkak (setingkat) di bawah kodim, setengkak di atas hansip”. Jamaah tertawa mendengar kelakar-kelakar dari Cak Nun tentang orang Madura ini.

Di sela-sela tawa riuh rendah jamaah, Cak Nun mengajak kembali jamaah untuk bertadabbur. Beliau mengisahkan bahwa dulu diciptakan mahluk bernama Azazil dan ia merupakan mahluk Allah yang mulia, sehingga akhirnya diangkat  menjadi penghuni surga. Walaupun akhirnya dia bosan dan minta kembali ke dunia. Akan tetapi Allah lalu memutuskan menciptakan Adam yang ditujukan menjadi khalifah di dunia. Keputusan Allah menimbulkan protes Azazil, sehingga dari sini dimulailah drama mega besar dimana Azazil berperan sebagai Iblis yang mengganggu Adam dan menciptakan aspek negatif di dunia.

Cak Nun menegaskan bahwa tugas kita di dunia ini sebenarnya sederhana, yaitu apapun yang dilakukan intinya ialah untuk mencari Shirotol Mustaqim menuju-Nya. Bahwa di dunia ini kita telah teken kontrak dengan Allah. Hakikat kontrak itu adalah mengantre untuk kembali ke Allah, menuju-Nya. Beliau menegaskan bahwa harus percaya pada Allah 100% apapun yang terjadi, sehingga tercipta keseimbangan dalam diri, tidak berlebihan dalam hal apapun karena yakin semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Umbu Landu Paranggi, satu-satunya orang yang dianggap guru oleh Cak Nun, diceritakan oleh Cak Nun adalah sosok orang yang sangat zuhud, sangat sufi, benar-benar sosok orang yang berani memutuskan untuk mengambil jarak kepada dunia.

Pada satu momen Cak Nun berkisah. Ketika Umbu mencintai seorang perempuan, kala masih menggelandang di Malioboro bersama Cak Nun, bahkan menatap wajah sang perempuan yang ia cintai pun Umbu tidak berani. Sampai pun akhirnya perempuan itu dinikahi oleh orang lain, Umbu tidak merasa sedih atau kecewa dan tetap mencintai perempuan itu. Pemuda alay mana di masa kini yang siap bersikap seperti Umbu?

Umbu seolah-olah mengajarkan manifestasi cinta yang sesungguhnya, bahwa sesuatu yang kita cintai harus kita temukan. Dengan pengalaman itu Umbu menikmati hidupnya yang sangat spiritual.

Kini Cak Nun bercerita tentang pengalaman Rampak, anak bungsu Beliau. Di sekolah ada salah satu teman Rampak yang nakal, sehingga ia akhirnya dijauhi teman-temannya. Tapi ia tetap nakal, hingga akhirnya suatu hari anak itu perangainya berubah total. Menjadi anak baik, tidak nakal lagi. Sebelumnya, sudah ditangani oleh pihak sekolah agar sikapnya berubah, tetapi hasilnya nihil.

Pendekatan persuasif oleh wali kelas dan orang tua juga sudah dilakukan, tetapi hasilnya tetap tidak ada perubahan, ia tetap nakal. Maka, ketika ia benar-benar berubah menjadi anak yang baik, muncul pertanyaan. Apa yang dialami olehnya sehingga dengan cepat ia berubah sikap. Setelah ditelusuri, ternyata pada suatu hari Rampak memberi “pelajaran” kepada anak tersebut dan diingatkan agar tidak nakal lagi.

Dalam Al-Qur`an, di surat An-Naas, Allah menampilkan diri-Nya dalam 3 sifat; Robbun, Ilaahun, dan Maalikun. Tiga sifat ini memiliki perbedaan satu sama lain. Ketika Allah mewujudkan diri-Nya dalam bentuk Robbun, maka Allah akan mengutamakan rasa kasih dan sayang-Nya. Ketika Allah menampilkan sifat Ilaahun dalam dirinya, Allah ingin menunjukkan bahwa Dia adalah yang berkuasa. Dan ketika Allah menampilkan diri dalam bentuk Maalikun, Allah ingin memperlihatkan bahwa Dia adalah Maha Segala Sesuatu, Maha Berkehendak. Innahu ‘alaa kulli syaiin qodiir.

Dari peristiwa Rampak dan temannya itu, Cak Nun bermaksud menjelaskan bahwa untuk mengubah seseorang ada tiga tahap; kearifan, kekuasaan dan kekuatan.

Kenduri Cinta 10 Maret 2017

Di Indonesia saat ini, rakyat sangat arif. Pemerintah berlaku seperti apapun, rakyat menerima dan terus bersabar. Tetapi Cak Nun juga mengingatkan, mayoritas rakyat Indonesia ini adalah ummat Islam, sehingga jangan sampai benar-benar terjadi apa yang disebut “meletus balon hijau, dor!!”.

Hijau adalah lambang Islam di Indonesia. Cak Nun mengingatkan kepada para penguasa dan pihak-pihak yang ingin merampok kekayaan alam Indonesia untuk kembali berpikir ulang tentang program-program jangka panjang mereka. Karena yang mereka hadapi di Indonesia ini bukan rakyat biasa. Rakyat Indonesia adalah rakyat yang sangat tangguh, rakyat yang sangat sabar, tetapi jangan coba-coba memancing kemarahan rakyat Indonesia.

Lebih sederhana lagi, Cak Nun menjelaskan bahwa untuk menaklukkan Pemerintah Indonesia itu sangat mudah. Dengan menguasai media massa, gelontoran uang untuk menyuap agar beberapa kebijakan sesuai pesanan bisa disetujui oleh pemerintah, maka keinginan para penjajah modern akan sangat mudah dicapai. Tetapi, untuk menaklukan rakyat Indonesia itu urusan lain. Sering Cak Nun katakan, Rakyat dan Pemerintah Indonesia adalah dua entitias yang sangat berbeda.

Cak Nun lalu membawa jamaah masuk  pada kesadaran nbahwa kontrak kehidupan manusia dengan Allah itu sangat jelas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Maka yang harus dilakukan oleh manusia adalah percaya sepenuhnya kepada Allah. Dengan percaya sepenuhnya kepada Allah, maka akan lahir sifat yang tangguh. Sifat yang tangguh itu akan tercermin, manakala menghadapi musibah. Orang tersebut akan tetap sedih tetapi ia tidak akan merasakan kesedihan secara berlarut-larut. Dan ketika ia bergembira, ia pun tidak akan merayakan kegembiraannya terlalu berlebihan. Semua ia tempatkan sesuai proporsinya.

Memahami Tiga Dimensi Agama

Warga Kenduri Cinta berlimpah anugerah, di antaranya lewat kehadiran Syaikh Nursamad Kamba, yang selalu berusaha hadir dan menemani Cak Nun di KC. Untuk membersihkan pemahaman bersama yang mungkin sudah keruh tentang sejumlah hal, utamanya menyangdut dasar-dasar agama, Cak Nun mempersilakan Syaikh Nursamad Kamba untuk berbicara.

Syaikh Nursamad Kamba sendiri adalah Mursyid Thariqah dan Ilmuwan Tasawuf yang tak pernah bosan mengajak jamaah Maiyah untuk bersyukur karena dianugerahi kesempatan untuk dekat dan mendapatkan pandangan-pandangan dari Cak Nun. Syaikh Nursamad pribadi juga mengalami pengalaman-pengalaman otentik yang menyebabkannya mempunyai pandangan tersendiri mengenai Cak Nun dan pergerakan Maiyah. Atas otoritas keilmuannya, Cak Nun meminta Syaikh Kamba untuk bersama Cak Fuad menjadi Marja’ Maiyah. Cak Nun dan Syaikh Kamba sering berdialog dalam bahasa, citarasa, dan hubungan yang indah.

Syaikh Nursamad bersegera masuk ke topik dengan mengemukakan bahwa kecele di dunia ini masih sangat mending, daripada kecele di akhirat. Lantas siapakah yang kecele di akhirat? Yaitu siapa saja yang melakukan hal sia-sia di dunia tapi meyakini apa yang dilakukannya benar.

Jamaah kali ini diajak untuk berkonsentrasi lebih tinggi lagi. Mereka tentu bisa, dan toh ini perkara yang universal, mendasar, dan sangat menarik. Sederhana tapi jarang dijamah orang. Syaikh Nursamad menerangkan, sebenarnya Jibril tidak pernah mengajarkan kepada Nabi Muhammad tentang Islam sebagai agama itu sendiri, tetapi Islam merupakan bentuk dimensional, yang terdiri dari dimensi Islam, dimensi Iman dan Dimensi Ihsan.

Syekh Nursamad menguraikan, dimensi Islam ialah keadaan untuk menyerahkan diri, berserah diri pada Allah sepenuhnya. Sedangkan dimensi Iman adalah dimensi di mana dibutuhkan implementasi kuat untuk percaya pada Allah dalam setiap keadaan dan perbuatan kita. Lalu dimensi Ihsan yang artinya secara harfiah ialah melakukan sesuatu yang indah. Seperti saat melakukan ibadah, haruslah disertai keindahan tidak sekadar formalitas. Indah karena ada seni dalam melaksanakan perintah Allah.

Sekali soal kecele, Syaikh Nursamad Kamba mengingatkan bahwa masih lebih baik kita Kecèlè di dunia, asalkan kita tidak Kecèlè di akhirat nanti. Kita mungkin di dunia selalu tertipu oleh dunia. Kita berharap seperti ini tetapi yang terjadi seperti itu. Sejalan paparan Cak Nun sebelumnya, Syaikh Nursamad Kamba menjelaskan bahwa di Maiyah inilah kita belajar tentang keseimbangan agar kita tidak Kecèlè di dunia, juga di akhirat.

Selain itu, Syaikh Nursamad Kamba menjelaskan bahwa Islam itu juga memiliki arti menyerahkan diri, berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah dimaksudkan untuk membentuk manusia yang tunduk kepada Allah dan tidak pernah menyombongkan diri. Tiga dimensi agama yaitu Islam, Ihsan, dan Iman tadi ketiganya ini sangat dialektis dan dinamis, dijalankan bukan berdasarkan urutan.

Kenduri Cinta 10 Maret 2017

“Jadikan Allah yang dominan dalam hidup Anda,” kata beliau. Karena hanya bila Allah dominan dalam hidup, maka Dia lebih mudah mengijabahi apa yang kita inginkan. Sesi Syekh Nursomad memberi banyak pengetahuan baru bagi jamaah yang sadar atau tidak membutuhkan penjelasan-penjelasan mendasar. Hal yang berkebalikan dengan apa yang berlangsung saat ini dalam kenyataan politik dan keagamaan kita. Cak Nun pun menyampaikan terimakasih atas ilmu berharga yang disampaikan beliau pada jamaah.

Bebekti Bebener Bebekel

Tentu saja, Cak Nun pun turut merespons tentang dimensi Iman Islam Ihsan tersebut. Bahwa masyarakat Jawa bahkan sebelum mengenal Islam pun telah mengenal konsep dimensi yang selaras dengan dimensi Iman – Islam – Ihsan yaitu bebekti bebener bebekel. Lantas Cak Nun berhipotesis dan menyakini bahwa masyarakat Jawa telah bisa menemukan metode sendiri untuk mencari Allah, bahkan sebelum memeluk Islam.

Di samping Syekh Nursomad sudah ada Ustad Agus Al Habsyi. Cak Nun pun mempersilahkan beliau. Ustad Agus mengawali dengan pembacaan shalawat dan menyampaikan maksud artinya dengan indah. Beliau menekankan pentingnya zuhud sebagai salah satu syarat penting menuju Allah.

Ustad Agus menerangkan bahwa ketiga dimensi ini harus berpadu dalam perilaku keagamaan seseorang. Jika bisa demikian, baru dia patut dinilai sebagai hamba Allah yang sesungguhnya. Keterikatan dunia menghalangi kita menuju Nya, dan kita patut menghilangkan halangan tersebut. Allah membantu kita untuk mempermudah mengingat-Nya dengan terdapatnya Islam, sholat, puasa, zakat, dan haji.

Beliau menambahkan bahwa zikrullah adalah hal pertama yang harus kita perkuat, kemudian sholat, puasa, zakat, dengan puncaknya haji. Ini merupakan rangkaian langkah untuk mencapai zuhud. Ustadz Agus menerangkan sejumlah khasanah ilmu agama.

Cak Nun menarik lagi dari kedalaman ilmu ke natur manusia, dan mengatakan bahwa menyenangi dunia itu manusiawi, dan kita tidak bisa sepenuhnya bebas dari keterikatan dengan dunia. Tidak selamanya iman kita berada di puncak tertinggi, adakalanya menurun, hanya saja kita harus selalu menemukan kecintaan-kecintaan pada Allah di dunia ini. Selain itu, yang harus kita lakukan adalah menemukan presisi yang tepat agar kita tetap berada dalam wilayah cinta dan taat kepada Allah.

Dunia ini sendiri menurut Cak Nun bukanlah tujuan akhir dari kehidupan kita. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, di mana kita di dunia ini mengumpulkan perbekalan yang terbaik agar kelak kita menghuni rumah terbaik di akhirat. Karena, pada hakikatnya, hanya Allah yang ada, kita tidak ada. Kita hanyalah manifestasi dari-Nya. Tujuan kita adalah kembali kepada-Nya, kembali menyatu dengan dzat-Nya, sehingga hadiah terindah adalah Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Tanpa terasa waktu berlalu bergulir. Mendalam, mendasar, mencerahkan sekaligus menggembirakan pelbagai hal  yang telah diulas dan berlangsung. Semuanya manambah wawasan jamaah yang menghuni Ibukota Jakarta ini. Dengan wawasan padat dan instens  dalam Kenduri Cinta Jumat 10 Maret 2017 ini jamaah pulang menyusuri jalanan dini hari Jakarta dengan menggenggam ilmu, harapan dan semangat baru. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dan hari telah berganti.

Kenduri Cinta kali ini ditutup oleh Cak Nun dengan doa. Kemudian jamaah satu per satu mengantri untuk bersalaman, dan tampak beberapa jamaah lain aktif membantu membersihkan sampah dan menggulung karpet. Suatu kolaborasi kesadaran yang indah di bawah temaram lampu dua pilar tugu Plaza Taman Ismail Marzuki Cikini. (Fahmi Agustian)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image