Daur-II • 018

Jangan Dekat-dekat Islam

Rupanya Junit memang sedang tekun ber-Iqra`membaca Al-Qur`an. Entah apa jadinya nanti. Ia memang cukup terpelajar, tetapi tidak punya pengalaman santri. Tidak pernah secara khusus mengalami pembelajaran segala sesuatu yang membuatnya pantas membaca Qur`an.

“Pakde Tarmihim”, katanya, “terus terang saya memang sedang mengalami semacam rasa bercinta dengan Al-Qur`an. Tidak tahu apakah hal seperti itu wajar dilakukan, berhubung saya tidak memiliki perangkat pengetahuan dan ilmu yang cukup. Ada kesan umum bahwa Al-Qur`an itu seperti milik para Ulama, Kiai atau Ustadz. Siapa tahu memang Allah mewahyukan firman-firman itu untuk beliau-beliau, dan bukan untuk saya. Tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk menikmati Qur`an, padahal katanya sangat berbahaya kalau tidak punya bekal untuk itu. Ketika Pakde menyebut ayat tentang hidup di dunia hanya main-main dan senda gurau, saya jadi ketakutan jangan-jangan kita termasuk orang yang menjadikan Agama sebagai permainan dan senda gurau. Hati saya jadi kecil dan minder membaca ‘orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka’ [1] (Al-A’raf: 51). Jangan-jangan saya, juga Pakde Tarmihim, sedang berada di wilayah ancaman Tuhan itu.…”

Kali ini Tarmihim ternyata tidak tertawa. Wajahnya sangat serius, bahkan malah seperti menuju situasi menangis.

“Junit”, katanya, “sudah puluhan tahun saya mengalami kengerian seperti yang kamu alami. Pakdemu ini selalu merasa diri Pakde ini kotor, bodoh, dan tidak punya kelayakan untuk berdekatan dengan Al-Qur`an. Terkadang muncul pikiran ‘Ah, saya jangan dekat-dekat Islam. Islam itu sangat suci, sedangkan saya sangat kotor.…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra