Daur-II • 183

Jalur Cinta Sejati

Jitul melengkapkan. “Kalau ada kisah di Al-Qur`an, kami secara naluriah mencoba mengidentifikasi dan mencari sambungannya dengan hidup kami sendiri. Apalagi jelas kita harus berjalan di alur Kanjeng Nabi, maka kami bertanya: Pada qadla dan qadar Allah atas alur dan mungkin putaran bergantinya siang dan malam itu, Mbah Sot letaknya di mana, Allah menugasinya untuk apa, dan sekarang ini berada pada tahap apa. Supaya hati kami lebih mantap….”

Jitul menambahkan. “Dengan begitu maka kami tahu tempat Pakde Paklik dan kami-kami sendiri ini di mana”

“Ini bukan soal alim atau hebat. Ini bukan soal level-levelan, maqam-maqaman, Pakde”, Toling menyambung, “Ini bukan barang mewah. Ini kewajaran orang hidup, karena kita wajib mematuhi panduan Yang Maha Menciptakan kita. Tawaran dan transaksinya jelas: “Katakanlah wahai Muhammad: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [1] (Ali ‘Imron: 31).

Seger lagi. “Maka wajar sekali kalau kemudian kami bertanya: Siapakah di zaman yang silam dan siapakan di zaman ini, yang Allah letakkan di jalur yang ditempuh oleh Rasulullah?”

Para Pakde dan Paklik semakin lega hatinya.

“Saya sendiri sampai setua ini belum pernah mendapatkan kemantapan seperti yang kalian ungkapkan”, Pakde Tarmihim merespon, “kami berterima kasih atas penjelasan kalian semua”

“Tapi mohon ini semua disimpan dalam hati kita masing-masing, atau paling jauh di lingkaran kita saja”, Pakde Brakodin berpesan”, “Jangan pernah bilang kepada siapapun bahwa kita sedang menempuh jalur kehidupan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah. Kita berada di jalur cinta sejati yang sama dengan beliau….”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra