Istiqamah Berproses di Maiyah

Manusia dititipakan dunia kepadanya. Dititipkan sebagai khilafah, dan rahmatan lil’alamin. Dengan sendirinya, manusia berposisi sebagai makhluk yang derajatnya lebih tinggi dari dunia. Dunia bisa diposisikan sebagai makhluk yang dibopong, dan dipangku manusia.

Sebagai manusia yang dilahirkan di Indonesia, maka secara default saya dititpkan Indonesia untuk disayang, dirawat, dan dicintai, dengan “jabatan” sebagai rakyat biasa. Saya hidup di Negara ini, makan dari hasil tanahnya, hidup dengan regulasi dan undang-undangnya, tetapi saya tidak memiliki kewajiban untuk ikut andil mengatur, dan mengambil kebijakan-kebijakan di Indonesia. Sebagai rakyat kecil, saya mengambil posisi bersedekah kepada Indonesia. Di Maiyah kami juga berdaulat untuk menentukan posisi kita kepada Indonesia.

Di Maiyah kita selalu diajarkan untuk melakukan tiga kebaikan secara terus menerus, yaitu menanam, puasa, dan sedekah. Kapan pun, di manapun, dan sebanyak-banyaknya. Tiga kebaikan utama yang selalu istiqomah kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa kita tandur. Tetapi Maiyah juga mengajarkan nandur itu juga harus berhati-hati. Tidak serta merta semua buah kita tandur semua, atau bahkan kita tidak nandur buah itu sama sekali. Ada kondisi pener yang menjadi syarat bagaimana kita bisa nandur buah-buah tersebut. Itu menurut saya sikap dasar Maiyah.

Saya alhamdulillah masih bisa istiqomah membantu Kenduri Cinta semenjak tahun 2013. Penggiat Kenduri Cinta menurut saya adalah jamaah yang aneh, karena rela meluangkan banyak waktunya untuk berdiskusi, baik online maupun offline.  Bertemu setiap rabu malam, memikirkan tema bulanan, memikirkan karpet, tenda, konsumsi, baliho, izin acara. Bersilaturahmi dengan banyak orang dan banyak simpul Maiyah, tanpa ada embel-embel mendapatkan imbalan apapun yang bersifat duniawi. Bahkan sampai teman-teman persewaan tenda dan panggung, yang sudah menjadi satu dengan penggiat.

Kenduri Cinta dan Maiyah itu terletak di proses istiqomah berprosesnya. Kenduri Cinta adalah sekumpulan orang yang memiliki posisi yang sama sebagai jamaah, yang bahu membahu mengadakan acara bulanan. Acara dari jamaah untuk jamaah. Tanpa sponsor, dan bertahan selama 17 tahun. Tetap kita membutuhkan proses penghidupan juga, kita tetap butuh uang. Tetapi posisi uang itu bukan untuk keuntungan kita. Kencleng alhamdulillah insya Allah tidak pernah dijadikan “keuntungan”. Itu cuma proses menjalankan takdir hidup. Ya panggung, sound, konsumsi, akomodasi tetap harus dibayar. 17 tahun untuk skala komunitas/forum bukan waktu yang singkat. Acara Kenduri Cinta juga bukan acara tahunan, tetapi acara bulanan.

Jamaah Maiyah memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Pola pikir dan sikap sudah pasti berbeda-beda. Jika saya boleh bertanya, sudah sejauh mana kita mengenal Maiyah? Sudah sejauh mana mengetahui perjuangan Maiyah, perjuangan Dzat, Isim, dan Jasad Maiyah? Bahkan kembali ke tiga kebaikan utama Maiyah, sudah sejauh mana kita menghidupi Maiyah? Maiyah bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, Maiyah tidak ada pun seyogianya tidak apa-apa. Andaikan Maiyah memang tidak ada, apa dan bagaimana kita?

Guru kita Mbah Nun, jauh lebih istiqomah dari Maiyah dan Kenduri Cinta. Bagi kita 17 tahun adalah waktu yang tidak singkat, tetapi dibandingkan dengan keistiqomahan Mbah Nun, 17 tahun tidak ada apa-apanya. Sudah sejauh mana kita mengetahui perjuangan beliau? Pernah hitung acara silaturahmi beliau dalam sebulan ada berapa, dan setiap acara berapa durasinya? Kira-kira setelah acara, Mbah Nun bisa langsung pulang beristirahat? Masih ada kemesraan-kemesraan Mbah Nun dengan rakyat bahkan sesudah acara berakhir, dan bahkan mungkin lebih menghabiskan energi daripada pas acara berlangsung. Energi apa yang menggerakkan beliau? Darimana energi yang beliau dapatkan? Berapa besar luas kesabaran dan kebaikan beliau sehingga beliau rela tanpa pamrih menjalankan itu semua?

Dari Kenduri Cinta, Maiyah, Mbah Nun, pertanyaannya, sudah sejauh mana kebaikan kita?

Kita sebenarnya dititipi Maiyah dan Indonesia, ataukah hanya dititipi Maiyah saja? Di mana seharusnya kita memosisikan diri dengan Maiyah dan Indonesia. Apa perilaku-perilaku kita terhadap Maiyah dan Indonesia? Proses panjang Maiyah, sebenarnya sudah bisa menelurkan solusi terbaik yang bisa kita terapkan dalam kehidupan agama, sosial, kebudayaan, dan pemerintahan. Tetapi apakah mereka semua mau dengan solusi kita? Toh kita juga bukan siapa-siapa yang sombong untuk menawarkan cara pandang kita ke mereka. Kita bukan bagian yang diajak berunding untuk menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan komunal. Sekali lagi kita harus beres mengenai posisi kita di Maiyah dan di Indonesia. Maiyah kita sikapi seperti apa, dan Indonesia kita sikapi seperti apa.

Maiyah bukan sebuah pergerakan sosial apapun, bukan kekuatan politik, bukan komunitas yang mencari untung keduniaan. Bahkan kita sungkan kepada Allah, jika Maiyah dijadikan identitas agar bisa masuk surga. Maiyah itu cair, tetapi ada padatan-padatan yang dengan sendirinya kita miliki. Tanpa peraturan, tanpa AD/ART, tanpa GBHK, Maiyah bergerak dengan leluasa masuk ke segala sisi kehidupan dan strata sosial. Dengan metode silaturahmi dan dari siraman ilmu dari sumur Maiyah, dengan sendirinya kita pasti sudah tau apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan. Bahkan seharusnya kita tau makna dari setiap perjuangan yang selalu dilakukan secara istiqomah di Maiyah.

Saya tidak berani dan tidak tega menuntut banyak hal dari Maiyah. Yang hanya bisa saya lakukan, saya nyumbang apapun itu di Maiyah. Saya tidak berani memadatkan Maiyah sebagai sebuah pergerakan, saya tidak tega Maiyah dijadikan embel-embel untuk mencapai sesuatu. Apalagi saya benar-benar takut mengambil langkah yang berseberangan dengan guru saya Mbah Nun.

Maiyah tidak dituntut untuk menjadi apapun, dan tidak menuntut siapapun untuk menjadi apapun. Maiyah hanya mewadahi setiap energi manusianya, agar bisa bermanfaat sebanyak mungkin, kepada siapapun dan di manapun entah apa itu profesi setiap orangnya. Sikap kita orang Maiyah, baik di kehidupan sehari-hari, di sosial media, di keluarga, sebisa mungkin mencerminkan energi kebaikan yang bersumber dari Allah, Rasul, dan sumur-sumur Ilmu Maiyah lainnya.

Manusia dititipakan dunia kepadanya. Dititipkan sebagai khilafah, dan rahmatan lil’alamin. Dengan sendirinya, manusia berposisi sebagai makhluk yang…