Daur-II • 116

Islam Nun Jauh di Sana

Markesot merasakan kenikmatan batin yang luar biasa di tengah jamaah sederhana di dusun itu. Ia bahkan merasa menemukan dirinya kembali ketika mereka melantunkan kalimat-kalimat dari Al-Qur`an tapi dengan lagu dusun itu, yang kalau itu diperdengarkan di panggung modern di kota metropolitian, akan disebut “lagu Jawa kuno”.

Kemudian akan ada yang mengecamnya karena menurut telinga mereka lagu itu “berbau Hindu”. Lantas mereka dikafirkan karena “tasyabbaha biqoumin”, berlagu menyerupai suatu kaum yang “bukan Muslimin”. Lantas ada yang membela mereka, menyatakan pengakuan bahwa itulah “Islam lokal yang membumi”. Kemudian dikasih label “Islam Nusantara”, diumumkan di koran-koran dan teve-teve, dituliskan di proposal-proposal untuk menyerap dana sebanyak-banyaknya.

Markesot tidak menyebut apa-apa atau bagaimana-bagaimana. Tidak melabeli dengan idiom apapun. Tidak membikinkan papan nama dan identitas. Yang Markesot rasakan adalah ketulusan hati mereka kepada Tuhan dan sesama manusia di antara mereka. Bahkan Markesot juga tidak pernah mempedulikan identitas: itu itu lagu Arab, Qiro`ah Sab’ah, itu genre Jazz, itu Rap. Begitulah Kutilang berbunyi, begitulah Bebek bersuara, begitulah Ayam berkokok, begitulah Sapi melenguh [1] (Al-Hujurat: 13). Allah sendiri yang menciptakan keragaman ekspresi itu, dan yang Allah lihat serta nantikan adalah apakah lenguh kokok kicau itu diperuntukkan dan kembali kepada Maha Penciptanya atau tidak.

Di dalam tradisi Islam Perkotaan, para Ulama, terutama Ustadz-Ustadz, menebarkan pandangan yang salah satu hasilnya adalah kebanyakan Kaum Muslimin merasa semakin jauh dari Islam, merasa sangat belum memenuhi syarat untuk disebut Muslim, merasa tidak punya hak atas Al-Qur`an, merasa Allah dan Rasulullah berada nun jauh di cakrawala yang tak tergapai. Islam itu nun jauh di sana.