Daur-II • 002

Iqra` Fisabilillah

“Mujahidin Fisabilillah, Pakde?”, Junit agak waswas.

“Ya. Para pejuang kehidupan di jalan Allah”

“Semua jalan itu ya jalan Allah, Pakde”

“Kan ada jalan setan. Jalan Iblis. Iqra` harus lengkap”

“Jalannya tetap milik Allah, cuma arah dan tujuannya, kalau tidak menuju Allah, disebut jalan Setan atau Iblis”

“Para Mujahidin itu sangat sadar dan tekun berjalan menuju Allah. Mereka menyeberang laut, bekerja di Negeri yang sangat jauh, karena di Negerinya sendiri bukan hanya susah mencari pekerjaan, tapi andai sudah bekerja pun banyak gangguan, ancaman, dan penggerogotan.

“Beriman, berhijrah, dan berjihad, ya Pakde” [1] (Al-Baqarah: 218).

“Mereka berjuang demi penghidupan keluarga. Kerja keras. Sangat keras. Tapi juga sangat tekun dan susah payah mempertahankan ibadahnya kepada Allah. Bahkan menabung biaya untuk mendirikan Masjid di Negara yang tidak mengenal Masjid”

“Siapa mereka itu, Pakde?”

“Anak-anak muda seumur kalian. Mereka belajar tidak terutama kepada teks, kepada kata, kalimat atau buku-buku. Kelas mereka adalah bekerja, menjadi buruh di pabrik-pabrik, kantor-kantor, dan tempat-tempat lain. Mereka pekerja kelas satu di Negeri itu. Mereka sangat disukai oleh Majikan-majikan mereka, karena terampil, prigel dan mrantasi: mampu dan ikhlas menyelesaikan pekerjaan yang meskipun bukan tugas mereka. Mereka sangat disayang dan dibela meskipun fisabilillah….”

“Meskipun fisabilillah maksudnya bagaimana, Pakde?”

“Tidak punya visa atau izin tinggal, karena suatu sebab, sehingga disebut fisabilillah”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra