Wedang Uwuh (31)

Intoleran Kepada Intoleran

Kedaulatan Rakyat, 23 Mei 2017

Setelah Pèncèng mendengar ngamuk dan ngomyang berkepanjangan, saya ambil keputusan untuk membatasi pembicaraan yang bermacam-macam itu cukup di rumahku saja. Jangan sampai ada tetangga yang mendengar. Apalagi masyarakat umum. Terlebih lagi Pemerintah. Aslinya jauh lebih parah dan ekstrem yang diungkapkan oleh Pèncèng, maka kalau sampai ada yang mendengar, akan menambah masalah.

Sebab andaikan Pèncèng dan kami semua ini “faktor penting” dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pasti akibatnya akan parah. Seandainya kami ini kumpulan resmi, ormas atau orsospol atau tokoh-tokoh terkenal misalnya, maka pasti Polisi segera datang menangkap kami dengan tuduhan makar.

Andaikan kami ini “tentara-tentara pembebasan” alias Hizbut-Tahrir, haqqul yaqin segera dibubarkan, gara-gara Pèncèng ngomyang. Andaikan di rumahku ini ada kegiatan tarekat atau apapun jenis workshop kehidupan yang diolah, dengan ketidaklaziman omongan Pèncèng itu pasti kami segera dituduh Kafir atau Aliran Sesat.

Siapapun saja yang mendengar omyangan Pèncèng, secara spontan pasti berpikir bahwa ini anak tergolong Kaum Intoleren, karena pemikiran-pemikirannya sangat banyak bertentangan dengan mainstream, dengan segala sesuatu yang sudah berlangsung di Negeri ini, di bidang apapun, dari budaya sampai Agama sampai Negara.

Semua orang dan pihak yang sudah merasa mapan hidupnya di Negeri ini, pasti tidak bisa dan merasa harus tidak memberi toleransi kepada Pèncèng. Anak ini membahayakan kelangsungan persatuan dan kesatuan. Jadi para pendukung persatuan nasional harus bersikap Intoleran kepada warga Inteloren seperti Pèncèng.

Maka Pèncèng saya biarkan teriak-teriak sekenyangnya, tapi Gendhon saya suruh menutup semua pintu, dan Beruk saya minta ke beranda depan untuk memastikan tidak ada tetangga yang memperhatikan kami.

Ketika akhirnya Pèncèng kelelahan dan mulai mereda ngomyang-nya, saya elus-elus kepalanya, kemudian saya tekan-tekan leher kanannya dengan jempol saya, sehingga ia tertidur pulas. Gendhon ke dapur memasak air, mempersiapkan kopi untuk kami berempat.

Kemudian tatkala situasi kami berempat sudah lebih teduh dan tenang, Pèncèng juga sudah nyruput kopi sehingga kepalanya mulai agak menjadi normal, saya coba mengusulkan: “Bagaimana kalau mulai sekarang kita benar-benar membatasi diri…”

“Jelasnya bagaimana itu, Mbah”, tanya Gendhon.

“Yang kita bicarakan mulai sekarang mbok yang mudah-mudah saja, yang sehari-hari, yang sederhana, bukan tema-tema besar”

Beruk tertawa. “Seingat saya selama ini yang kita bicarakan dan tuliskan semuanya sederhana, mudah dan sehari-hari”, katanya, “Yang mana Mbah yang tema besar? Globalisasi? Itu masalah sehari-hari kita. Kapitalisme Global? Itu bau busuk dan wangi siang malam kita, bahkan nempel seperti ‘bolot’ dan keringat di badan kita. Soal Negara, Pemerintahan, Islam Radikal atau Liberal, Neraka, Sorga, Bid’ah, Syirik, Makar, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila…. Semua itu makanan sehari-hari kita…”

Gendhon menyambung, “Semua yang seperti tema muluk-muluk itu terkait erat dengan setiap butir nasi dan seteguk air yang kita makan dan minum sehari-hari…”

Saya menanggapi agak dengan nada kecewa. “Kalian jangan berlagak pilon. Maksud saya yang sederhana itu adalah pokoknya hal-hal yang orang banyak tidak perlu mikir. Juga yang sehari-hari, yang mudah-mudah, yang bukan tema-tema besar – maksud saya adalah pokoknya jangan yang menuntut orang untuk melakukan olah pikir, mengembangkan persepsi, menganalisis, mengimajinasikan simulasi-simulasi, asumsi, hipotesis… Pokoknya omong dan nulis yang orang tidak perlu mikir. Kalian tahu rakyat hidupnya makin susah dan lelah, maka jangan diajak berpikir…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image