Integritas Membutuhkan Ketegasan Sikap

Jejak terserak Sinau Bareng CNKK di Polinema Juni 2017

Masih Ada Kekompakan

Malam itu tampaknya akan berjalan sebagaimana biasanya. Kalaupun udara di malam itu terasa dingin, itu sama sekali bukan karena suasana hati orang-orang di kota itu sedang panas lalu alam dengan ajaibnya berusaha mendinginkan. Sore harinya, sebelum malam tiba memang gerimis hujan sempat menyapa. Sehingga wajar-wajar saja bila kemudian dingin datang menyelimuti. Lagipula kota itu memang berada di dataran tinggi.

Pun saat sang mentari mulai bersembunyi dan sesaat kemudian diikuti kumandang adzan, tak ada yang luar biasa pada aktivitas orang-orang itu. Memang ada ‘sedikit’ yang tak biasa di sore itu bila dilihat dari kacamata orang-orang Barat yang tak terbiasa bersentuhan dengan suara adzan di peralihan terang menuju gelap. Hal tak biasa itu adalah orang-orang serempak, ada yang bergumam, ada yang berucap, dan ada pula yang hanya tersenyum tipis membunyikan lafal “Alhamdulillah”. Dan sejurus kemudian diikuti tangan-tangan cekatan yang memasukkan makanan atau minuman apapun yang ada di depannya ke dalam mulut.

Tak peduli apakah orang-orang itu menahan mulutnya untuk tak makan dan minum sedari subuh ataukah semenjak mentari tepat di atas kepala. Pokoknya saat adzan berkumandang yang menandai peralihan terang ke gelap, semuanya tampak kompak gembira. Setidaknya hingga detik ini tak pernah ditemui orang justru sedih saat masa ini tiba. Kalau kau merasa tidak yakin dan sulit untuk percaya, catat! Datanglah ke Malang Indonesia di bulan Ramadhan, kemudian saksikan fenomena itu saat terang memasuki kegelapan malam.

Bila hari ini masih ada yang yakin bahwa Indonesia akan segera tercerai berai, sebaiknya tahan dulu keyakinan itu tetap di dalam kepala, jangan dikeluarkan. Bukan orang-orang tak siap mendengarkan, melainkan otak-otak yang terjebak dengan keyakinan itu yang dikhawatirkan akan mengalami kekecewaan diri bahkan keputusasaan berujung bunuh diri. Fenomena waktu maghrib di ruang Nusantara itu menunjukkan fakta bahwa keutuhan itu masih ada! Bahwa masing-masing orang Nusantara masih cukup kokoh integritasnya. Mereka ‘masih’ bisa diajak serempak!

Belajar pada Makan

Apa yang menjadi dasar satu makhluk dengan makhluk lain dimasukkan dalam golongan yang sama? Bukan karena kesamaan bentuk, ujud ataupun rupa yang menjadikan dasar, melainkan perilaku makan. Pada makhluk yang makanan dominannya adalah tumbuh-tumbuhan, mereka disebut herbivora. Sedang yang lebih suka makan daging-dagingan, kepadanya dinamai karnivora. Ada juga makhluk yang sedikit lebih ’nggragas’, karena bisa dan suka makan tumbuh-tumbuhan beserta daging, yang kepadanya kemudian dilabeli sebagai omnivora.

Omnivora tak lain merupakan sebutan halus bagi hewan tingkat tinggi yang disebut manusia. Adakah perbedaan CARA hidup hewan dan manusia? Bila ingin tahu jawabannya, perhatikan saja cara hidupnya. Tentang cara hidup ini, ada dua hal yang terkait, yakni bagaimana ia mencari keamanan diri dan bagaimana cara makannya.

Bila suatu makhluk hanya berdiam diri tak berpindah tempat, kemudian ia ‘hanya’ berharap energi untuk hidupnya datang menghampirinya, maka hampir dapat dipastikan itu adalah tumbuhan.

Bila makhluk itu senantiasa bergerak untuk mencari tempat yang aman, kemudian ia makan di saat lapar dan baru berhenti saat kenyang, maka itu bisa ditebak. Ia adalah hewan. Tergantung martabatnya, bila ia mampu membuat sarang mandiri untuk berlindung dan juga mengolah makanan mentah menjadi siap santap, maka ia disebut hewan tingkat tinggi. Sedang mereka yang suka mencari-cari sarang alamiah, dan juga hanya bisa makan makanan siap santap saja tanpa memiliki kemampuan menyimpan dan mengolah, maka ia adalah hewan tingkat rendah.

Ada juga makhluk yang kadang diam kadang bergerak, tampak tak mengamankan diri malahan sesungguhnya ‘sibuk’ mengamankan kawan, saudara, bahkan apapun dan siapapun yang ada disekitarnya, juga ia makan saat benar-benar perlu atau lapar, lalu ia membiasakan diri berhenti makan saat belum benar-benar puas atau kenyang. Ia melakukannya tak hanya satu dua kali, melainkan sepanjang hidupnya. Hingga ia tak merasakan itu sebagai penderitaan melainkan justru sebuah kebahagiaan berproses. Makhluk itu sering dinamai dengan Khalifah.

Lalu, di mana posisi manusia? manusia ada di antara hewan dan khalifah. Naluri seorang bayi tak ubahnya seperti hewan, selalu mencari perlindungan dan makan pada saat lapar dan berhenti bila sudah kenyang. Bila hingga tiba saatnya, akalnya tak jua teraktivasi, maka hampir bisa dipastikan makhluk itu tak beralih menjadi khalifah dan masih terjebak pada kemanusiaan yang berbatas langsung dengan kehewanan.

Malam Puncak Integritas

Obrolan imajiner ba’da maghrib sambil menikmati semangkuk kolak tak akan ada selesainya andai malam tak segera menjemputnya. Sementara mari sudahilah obrolan ‘mblakrak’ herbivora hingga khalifah itu. Karena bukan itu bahasan utama kali ini.

Rombongan orang perlahan-lahan mulai menyemut berkumpul melingkar di tanah lapang menatap panggung terang yang menghadap ke timur. Tanpa sadar, orang-orang itu serempak menghadap kiblat. Luar biasa? Ah tak usah berlebihan begitu. Karena memang lapangannya membujur timur-barat saja, dan letaknya di barat jalan. Jadi, mau tidak mau ‘pasti’ menghadap kiblat-barat orang-orang itu. Karena itu satu-satunya kemungkinan.

Kalaupun ada yang tak biasa, ya lapangan itu sendiri. Di mana-mana lapangan sepak bola itu membujur utara-selatan untuk menghindari silaunya cahaya matahari agar tak mengganggu pemain yang bertanding. Lalu kenapa lapangan ini membujur ke timur-barat? Tanya saja kepada yang membuat lapangan.

Diawali doa bersama untuk bangsa, acara Sinau Bareng itu dimulai. Doa panjang yang membawa siapapun yang hadir di malam itu terfokus kepada Sang Maha Penguasa Alam agar ‘sudi’ sedikit saja mencipratkan sedikit cahaya-Nya untuk mencerahkan bangsa yang masih ‘mau dan mampu’ menjaga kekompakan pada situasi yang kian meredup. Kombinasi antara curahan-curahan nasihat dengan harmoni musik menjadikan malam itu semarak sebagaimana perhelatan-perhelatan sebelum-sebelumnya.

Hingga tiba pada suatu momen tak biasa. Setidaknya selama mata ini menyaksikan. Perhelatan musik itu berhenti mendadak. Tahukah penyebabnya? Keliru lirik lagunya! Jelas itu sesuatu yang unik. Walaupun mungkin itu hal biasa. Saking menariknya, tak henti-hentinya para audiens tertawa riang. Mulut ini pun juga tak mampu menahan rasa ingin tertawa juga, antara bercampur keheranan, kekagetan, dan juga keriangan.

Kekeliruan itu ternyata tak berlangsung satu kali, melainkan terulang hingga tiga kali. Aneh? Ya, sangat aneh! Tetapi peristiwa itu memicu akal memberi kesadaran baru bahwa mulut yang awalnya tersenyum heran sekonyong-konyong berubah menjadi senyum takjub tak henti-henti!

Ada fenomena yang sangat tak biasa sesudahnya, yang membuat akal dan hati ini tak henti-hentinya tersenyum hingga detik ini. Bukan karena kekeliruan bermusik itu yang justru menambah meriahnya perhelatan malam itu, alih-alih menjadi bahan olokan. Juga bukan karena guyonan-guyonan ‘sarkastis’ para vokalis muda ke vokalis tua. Bukan pula improvisasi tingkat dewa para personel dalam menyelesaikan lagu ini dengan sangat apik. Sekali lagi, bukan tentang itu semua.

Ini pertunjukkan berkelas tentang integritas! Kejujuran dan keterbukaan merupakan ciri utama dari karakter utuh seseorang atau yang sering disebut dengan integritas. Ya, integritas adalah keutuhan karakter.

Keberanian Pak Dhe senior itu mengakui kelemahannya yang berujung kekeliruan di atas panggung, kemudian memilih menerima kritik keras dari personel-personel lain yang notabene lebih muda alih-alih berdebat, jelas merupakan representasi atau perwujudan keterbukaan yang hanya mampu dilakukan oleh karakter yang terasah kejujuran. Sangat jelas bahwa ini karakter utuh yang tak hanya biasa menahan makan dan minum saban harinya. Melainkan juga terbiasa menahan ego dirinya demi kebahagiaan bersama.

Maka, hari ini kepada siapa lagi kita belajar berpuasa menjadi manusia berintegritas agar pantas disebut Khalifah bila tidak kepada Pak Dhe KiaiKanjeng?

Andai saja orang-orang yang merasa penting di Bangsa ini mau sebentar saja menyaksikan pertunjukan berkelas itu, rasa-rasanya bumi Nusantara akan segan bergoncang dan angin-angin pun akan berebut untuk membelai mesra, alih-alih menjadi puting beliung yang menghancurkan. Tetapi hidayah memang bukan manusia punya, itu prerogratif Tuhan. Tetapi manusia punya hak untuk memohon kan?

Pak Dhe, kami rindu pertunjukan-pertunjukan berkelas tentang sebuah integritas. Semoga itu menjadi jalan membangkitkan kesadaran-kesadaran baru tentang kejujuran dan keterbukaan yang mungkin menjadi awal tertatanya kembali kekacauan ini. Dan juga, agar kami semua tak berhenti hanya berani jujur, tetapi juga berani terbuka.

Terima kasih tak terhingga, dan salam hormat kami teruntuk Mas-Mas, Mbak-Mbak, Pak Dhe-Pak Dhe Kiai Kanjeng.

Malang, 11 Juni 2017, 07.16 Wib

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image