Pertapaan Ramadlan (2)

Industri Tausiyah

Di tengah proses hari-hari Iktikaf, aku bertanya kepada dua anak di depanku: “Ketika kau beriktikaf, di mana letak Allah, di mana Rasulullah, di mana Dunia, serta di mana Masjid?”

Salah seorang dari mereka tersenyum mendengar pertanyaan itu. Aku perhatikan ternyata kemudian senyumnya melebar, lantas berkembang menjadi tertawa, dan akhirnya menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Sampai terguncang badannya, sehingga ia berdiri dan pergi setengah berlari.

Tentu saja aku kaget. Dan kecewa. Juga sedikit ada rasa tersinggung oleh suara tertawa anak itu. Tak sempat kukejar atau kuteriaki. Sebab harus kuhadapi anak lainnya, dan yang pergi itu nanti pasti akan kembali.

Sungguh aku ingin di antara anak-anakku itu akan ada yang menuturkan hasil iktikafnya berupa tausiyah, nasihat atau pitutur praktis yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebab masyarakat di zaman ini sangat haus nasihat, sangat lahap memakan tausiyah dan sangat menggantungkan hidupnya pada pitutur-pitutur.

Tapi anak ini malah bertanya: “Apakah sekarang ini samudera hidayah AlQur`an dan Hadatsah Sunnah Sirah Kanjeng Nabi sudah kering air ilmu dan hikmahnya, sampai- sampai Kaum Muslimin mencari nasihat di luar dua samudera itu?”

Agak kaget, tapi sedikit kagum juga aku mendengar pertanyaannya. Aku tidak segara merespons, dan memang masih agak tercengang. Dan ternyata memang anak ini belum selesai.

“Sejak kecil dulu, kalimat Allah yang paling mempesona hati saya adalah Al-Kahfi 109: “Qul lau kaana-l-bahru midaadal-likalimati Rabbii, lanafida-l-bahru qabla an-tanfada kalimaatu Rabbii, walau ji`naa bimitslihi madadaa”.

“Ini firman bukan hanya informasi. Bukan hanya ilmu. Bukan hanya data dan fakta. Bukan hanya infinitas cakrawala matematika. Bukan hanya huruf, kata dan kalimat. Ia juga musik. Ia aransemen ultra-kreatif. Ia komposisi yang kata harmoni tak sanggup mewadahinya”.

“Ia lukisan yang lebih dari sempurna. Ia labirin mutiara titik-titik makna, garis-garis nilai dan gelembung-gelembung cinta. Ia puisi yang melampaui segala puisi. Ia inti bunyi, suara sejati, Ibu segala imajinasi. Padahal hanya beberapa kata, hanya satu kalimat. Hanya selintasan cahaya. Setiupan hawa cinta-Nya”.

“Qul”, Allah menepuk bahu kita: Katakanlah. Artinya, teguhkan pengertiannya di pikiranmu, teguhkan akar maknanya di hatimu, manifestasikan dan jadikan ekspresi sejati setiap langkah kehidupanmu. “Andaikan air di seluruh lautan dipakai untuk menuliskan kalimat Sang Maha Pengasuhku, niscaya akan mengering semua lautan itu, sebelum habis dituliskan kalimat-kalimat Maha Rabbi, meskipun Ia menuangkan lagi, memenuhkan lagi seluruh lautan itu dengan air, dituang dan dituang, dipenuhkan kemudian dipenuhkan, lagi dan lagi, terus-menerus dan terus menerus, madadaaa, madadaaa….”

“Apakah masih ada ruang yang kosong dari ayat-ayat-Nya? Apakah masih ada rongga untuk yang bukan firman-Nya? Apakah masih ada sela-sela sezarrah pun untuk tausiyah, ceramah, pitutur, nasehat, posting, copas, sharing, broadcasting dan segala yang semacam itu. Terlebih lagi untuk apapun yang keluar dari bibirku, yang tertoreh oleh ujung penaku?”

Sebenarnya lebih nikmat kalau aku diam dan mendengarkan apa saja ungkapan anakku ini. Tapi terloncat dari mulutku pertanyaan: “Apakah itu juga berarti tak ada celah bagi hadits-hadits Nabi, fatwa para Ulama, pesan para Pujangga, dakwah para Ustadz, panggilan jihad para Habaib?”

Tak kuduga anak itu canthas menjawab:
“Setiap untaian kata dari Rasulullah, setiap gerakan tubuhnya, setiap langkah perilakunya, bahkan fakta bahwa ada beliau — adalah bagian dari firman Allah yang tak tertuliskan dengan tinta tujuh samudera. Setiap tetes embun adalah bagian dari ayat- Nya. Angin yang berhembus, tunas yang tumbuh, bunga yang merekah, air yang bergerak, seluruh benda alam semesta yang beredar, berputar, berthawaf dan bertasbih — adalah bagian dari Maha Orkestra Nyanyian Cinta Allah Swt”

“Insya Allah serba sedikit aku mengerti itu”, kataku, “tetapi apakah berarti di antara manusia tidak ada peluang untuk saling menasehati? Bukankah kita disuruh ‘tawaashou bi-l-haqqi wa tawaashou bi-sh-shobri’?”

Si anak menjawab: “Tawashou kata para Ulama berarti saling berpesan, saling mengingatkan, saling menasihati. Yang dipesankan adalah al-haq. Dan ‘alhaqqu min Robbika’. Kebenaran berasal dari Allah, tidak terdapat pada manusia. Manusia hanya mendistribusikan kebenaran Allah, bukan menyebarkan kebenarannya sendiri, apalagi dengan memposisikan si penasihat adalah pihak yang tahu, alim, baik, saleh. Sementara yang dinasihati adalah pihak yang tidak tahu, buruk, awam dan bodoh….”

“Itu bisa terjadi pada siapa saja dan bisa dituduhkan kepada siapa saja, termasuk ke aku dan kau”, aku memotong.

“Lho”, jawabnya, “Aku tidak pernah menasihati orang. Aku hanya menikmati persentuhanku dengan kebenaran Allah. Paling jauh aku hanya menjawab pertanyaan, atau memenuhi permintaan. Sementara suasana yang berlangsung sekarang ini adalah banyak orang yang selalu gatal untuk menasihati, dan kebanyakan orang seperti maniak untuk selalu minta nasihat, motivasi, pencerahan, seolah-olah sudah habis bahan-bahan yang berasal dari Allah dan Rasulullah. Sampai akhirnya mobilitasnya menjadi industri….”

“Bukankah itu bukti tawaashou bi-l-haq?”
“Sebaran-sebaran nasihat yang berseliweran selama ini kurang mencerminkan bahwa yang berlangsung adalah ‘saling’, tidak banyak nuansa kerendahan hati untuk ‘saling’. Jadi fokus saya bukan soal manusia menasihati lainnya, tetapi —pertama — apakah sudah tuntas, selesai dan habis kebenaran Allah diserap oleh setiap hamba-Nya? Kenapa kebanyakan orang tidak mengakses sendiri ke kebenaran Allah sebagai kepustakaan primer hidupnya?”.

Yogya, 20 Juni 2017.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image