Indonesia Kehilangan Kepegasan

“Indonesia kehilangan kepegasan....” Sinau Bareng sudah dimulai. Mbah Nun menyentuh dan memegang hati mereka terlebih dahulu.
“Indonesia kehilangan kepegasan....” Mbah Nun menyentuh dan memegang hati mereka terlebih dahulu.
“Indonesia kehilangan kepegasan….” Sinau Bareng sudah dimulai. Jamaah padat sampai meluber di luar komplek pondok atau di jalan. Mbah Nun menyentuh dan memegang hati mereka terlebih dahulu.

“Indonesia kehilangan kepegasan….” Sinau Bareng sudah dimulai. Jamaah  padat sampai meluber di luar komplek pondok atau di jalan. Mbah Nun menyentuh dan memegang hati mereka terlebih dahulu.

Kemudian Mbah Nun mengapresiasi apa yang berlangsung dengan prinsip dan metode pendidikan di pesantran salaf ini. Dalam bahasa Mbah Nun, Kiai Syaifulloh pengasuh Pondok ini memiliki fadhilah menggabungkan peternakan dengan pendidikan.

Di antara pesan dari Mbah Nun yang berkaitan dengan pendidikan adalah kita terlalu lama dibiasakan dengan soal pilihan ganda. Padahal hidup tidak demikian.

Ini sekaligus dipakai Mbah Nun untuk mengantarkan pada lantunan Sohibu Baity. “Allah itu di dalam atau di luar?” Kalau terbiasa pilihan ganda akan bingung. Sedemikian lama terjajah oleh multiple choice sehingga tak bisa menjawab: ya di dalam ya di luar. Indonesia kehilangan kepegasan seperti ini.

Sesudah merespons sambutan-sambutan yang Mbah Nun simak dengan baik, Mbah Nun tanpa terasa sudah masuk ke banyak poin. Dari soal ketiadaan orientasi pendidikan nasional sebagai akibat dari penjajahan global, keberuntungan orang yang beriman dan takwa, berkebun sebagai latihan tinggal di surga, hidup itu malam hari (lailan), fadhilah berbeda-beda pada setiap manusia, dan lain-lain, Mbah Nun segera mengajak semua hadirin untuk berdiri berdoa melalui lantunan Shohibu Baity.

Hawa dingin lumayan menembus kulit pori-pori, tetapi Mbah Nun cukup kuat, mungkin lupa kalau dingin, dengan tetap hanya berbusana biasa dan tidak berjaket.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image