Daur-II • 276

Indah dan Menggembirakan

Belum sempat menyentuh makanan pesanannya di area warung lesehan terkenal, Markesot tiba-tiba mendengar suara gedebug-gedebug. Ketika ia spontan menoleh ke arah itu, dilihatnya seseorang memukul wajah seseorang lainnya sehingga jatuh terkapar. Markesot langsung melompat dan menjatuhkan diri telungkup di atas lelaki yang terkapar itu. Darah meleleh dari pangkal hidungnya sebelah kiri di bawah jidat dan alisnya.

Kalau melihat letak titik lukanya dan merangkaikan dengan jenis gerakan dan posisi pemukulannya, tampaknya yang membikin luka adalah “sikut” jari tengah atau minimal jari telunjuk, yang dipukulkan dengan posisi sangga genggaman yang tidak seperti genggaman tangan biasanya. Itu pola pukulan dari suatu jenis bela diri tertentu.

Sambil tangannya memeluk lelaki itu, Markesot menoleh ke atas, ke arah lelaki yang memukulnya. Tidak omong apa-apa, tapi sorot mata dan sedikit gerak tangannya menyampaikan agar jangan diteruskan, dan mohon tunggu sebentar. Lelaki pemukul itu mundur beberapa langkah. Markesot pelan-pelan mendudukkan si terkapar itu, kemudian diangkat berdiri, dituntun ke arah dapur warung untuk mencari air dan kain.

Tengah-tengah berjalan Markesot baru melihat bahwa pakaiannya belepotan darah, yang rupanya cukup deras mengalir, terutama ketika Markesot menjatuhkan diri menelungkupinya. Sesampai di dapur Markesot membasuh luka lelaki itu dan membersihkan sekitar wajah dan baju atasnya sampai bersih. Beberapa saat kemudian baru si lelaki luka itu tiba-tiba setengah berteriak: “Ya Allah Pak Markesot… Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad…

Markesot menuntunnya duduk di kursi. Minta kepada salah seorang pekerja warung itu untuk mengambilkan segelas air. Ibu pemilik warung itu dengan wajah setengah cemas setengah gembira berkata kepada Markesot: “Titip ya Pak, memang anak ini kurang baik perangainya…”. Markesot tentu saja belum paham apa maksud Ibu itu. Tapi ia harus segera beranjak mendatangi lelaki yang memukulnya tadi. Semua yang sedang makan di area luas warung itu melihatnya.

***

Sebenarnya keputusan Markesot untuk meloncat menelungkupi lelaki yang dipukul itu tadi merupakan keputusan yang bodoh dan membahayakan dirinya sendiri. Ia bisa terkena pukulan berikut dari lelaki si pemukul. Opsi lain adalah Markesot berdiri pasang badan menghadap lelaki pemukul. Ia secara frontal menyatakan pembelaannya kepada yang dipukul. Kemungkinan berikutnya adalah lelaki pemukul berkelahi melawan Markesot. Karena Markesot bisa meletakkan diri membela yang tertindas dan melawan penindas.

Tetapi itu tidak terjadi, karena Markesot lompat menelungkupi lelaki yang jatuh tertelentang karena dipukul. Tidak terjadi perlawanan terhadap si pemukul. Sangat bisa dimaklumi karena tiga sebab. Pertama, Markesot bukan seorang pemberani, tidak punya jiwa perlawanan terhadap kedhaliman. Kedua, Markesot tidak punya keahlian untuk berkelahi. Ketiga, Markesot belum tahu apa latar belakang pemukulan itu, bagaimana peta masalahnya.

Maka yang kemudian dilakukan oleh Markesot adalah memproses pemahaman atas masalah yang sebenarnya terjadi. Markesot mendatangi si pemukul untuk mulai penjajakan. Lelaki pemukul itu memanggil beberapa orang pelayan warung besar itu. Dan ketiganya datang tanpa membantah, dengan wajah yang sama dengan wajah Ibu pemilik warung. Lelaki pemukul itu adalah anggota keamanan “swasta” di wilayah itu. Lelaki yang dipukulnya adalah Manajer yang membawahi para pekerja atau pelayan di warung itu. Dan si pemukul  bertindak kepada Manajer itu demi menjawab keluhan para anak buah itu.

Manajer itu berlaku seperti Boss besar. Tidak bekerjasama dengan para pekerja dalam tata kelola yang baik. Ia sangat otoriter, kalimat-kalimatnya selalu kasar dan menyakitkan hati para pekerja. Situasi itu berakumulasi secara waktu sampai mereka tak bisa menahan diri lagi tetapi takut berbuat sesuatu kepada atasannya. Tak sengaja mereka mengeluh kepada si Preman ini, dan ternyata ditanggapi dengan tindakan tegas.

Markesot kemudian membawa lelaki pemukul itu serta beberapa pelayan menuju tempat si Manajer duduk, di dekat Ibu pemilik warung. “Rapat kilat” dilangsungkan, dan masing-masing berjanji untuk tidak melakukan apa-apa yang tidak seharusnya dilakukan. Serta bersumpah untuk melakukan hal-hal yang memang sewajibnya dilakukan. Semua bersepakat untuk memegang perjanjian itu di dalam tata manajemen dan etika pengelolaan warung, serta komunikasi antara semua pihak.

Mereka berangkulan dalam lingkaran dan berdoa bersama. Kemudian situasi normal kembali. Markesot kembali ke tikarnya dan menikmati makanan pesanannya meskipun sudah tidak hangat lagi. Makanan itu tidak terasa tak enak, karena ada yang lebih tak enak di dalam pikiran hatinya.

***

“Bagaimana hidup ini”, ia menggerundal kepada dirinya sendiri, “yang otoriter dan bersikap kejam fasih mengucapkan Shalawat ketika saya peluk. Sementara pahlawan kebenarannya adalah kelas dan golongan yang orang-orang mengategorikannya sebagai Preman, Gali, Korak…

Markesot tertawa cekikikan di dalam dirinya. Jauh-jauh hari Allah sudah wanti-wanti agar manusia waspada menilai siapa yang benar siapa yang salah. Pada konteks sejarah dan posisi masalah tertentu, “diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. [1] (Al-Baqarah: 216)

Informasi dari Allah tentang hakikat hidup di firman itu sangat gamblang, sehingga akal setiap manusia tidak memerlukan panduan, tafsir atau tadabbur untuk memahaminya. Sedangkan tampaknya kebanyakan perilaku hidup dan keputusan peradaban kita membantah kalimat Tuhan itu, meskipun kebanyakan pelaku sejarah tidak memiliki tata logika untuk tahu bahwa mereka membantah Tuhan.

Tetapi wajar juga karena di ujungnya Allah kasih tahu: “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Markesot tertawa cekikikan. “Sungguh indah dan menggembirakan”, bisiknya kepada dirinya sendiri.

Yogya, 21 November 2017