Pertapaan Ramadlan (6)

Idul Fitri Wisanggeni

Tulisan “Presiden Mohon Maaf Kepada Rakyat” saya tunda, ganti yang ini. Mungkin sebagian orang memerlukan sekali, tiga kali, atau sepuluh kali membaca. Mungkin sehari, sebulan, atau bertahun-tahun memahami. Apalagi harus detail dan teliti, bahkan per kata. Tetapi inilah apa adanya dialog i’tikaf dengan anak-anakku.

Bisa delete saja. Atau masukkan file-nya ke sistem agung dalam kepala. Biarkan ia menentukan sendiri kapan loading dan seberapa jauh dan mendalam daya akses dan kompatibilitasnya terhadap kehidupan dan langkah-langkah sejarah di mana engkau berdomisili. Atau boleh juga simpan saja dulu teks ini. Kapan-kapan dibaca. Sekarang lebih utama bercengkerama dengan keluarga — itu standar makna mudik.

“Ketika engkau beri’tikaf, di mana letak Dunia?”

“Kupikul di pundakku”

“Di mana letak Indonesia?”

“Kugendong di tangan kananku”

“Kaki melangkah ke mana?”

“Memasuki gerbang peradaban baru. Globalisme sudah senja. Ummat manusia sedang digerakkan memasuki gelembung yang lebih besar. Peta Besar Global akan menjadi bagian dari Peta Agung. Manusia yang merasa sangat menguasai dunia, tidak bisa mengelak dari zat-zat supra-mikro yang muncul dari dalam diri mereka sendiri. Zat-zat itu ditumbuhkan dari dalam dan ditaburkan dari atas. Secara rahasia oleh para petugas dari Sang Maha Gelembung. Penduduk Bumi sedang terdesak untuk memasuki Evolusi Hari ke-5 penciptaan, karena stagnasi dalam ketertipuan oleh egosentrisme kemanusiaan Evolusi Hari ke-4 tiba di puncaknya”

“Ummat Islam hendaknya segera mengubah haluan berpikirnya dari orientasi kekuasaan Ummat Islam ke berlakunya Islam pada software kejiwaan ummat manusia. Peradaban sedang mengalami revolusi samar namun semakin nyata, dari fase ‘Insan’ ke fase ‘Hamba Allah’ untuk bersiap berhijrah seterusnya ke ‘Khalifah Allah’. Manusia akan tahu bahwa cahaya tak kelihatan, yang mereka lihat adalah partikel yang ditimpa cahaya. Bahwa kebenaran, kebaikan, keindahan, kemuliaan, Islam, kamuktèn, karamah, apalagi Tuhan: tidaklah kasat mata”

“Apa yang terjadi pada Indonesia di gendongan tanganmu? Bukankah ia semakin dikepung oleh berbagai cengkeraman dunia, bahkan yang dari utaranya utara pun sudah mulai ikut bermain mengatur dua tahun ke depan dan seterusnya? Bukankah rakyatmu tak kunjung beranjak dari posisi dipermainkan, dijadikan batu pijakan, diperdaya, dikelabui dan di-tilap?”

“Itu kekalahan pada pola hitungan Hari ke-4, tetapi itu modal besar pada posisi Hari ke-5, dan menjadi awal kemenangan pada Hari ke-6. Engkau, kita, dan siapapun yang memusuhi dan menjajah, sebaiknya mulai berhitung dengan spektrum, analisis, perhitungan, metodologi, dan strategi Hari ke-6. Segera lewati garis batas Globalisasi. Dan secara bertahap mulai kenalilah pelaku-pelaku baru untuk sejarah baru, yang sama sekali ‘min haitsu la yahtasibu’, tidak dihitung dan tidak tertera di buku-buku Hari ke-4. Sesudah Idul fitri ini segera mateg-aji: kalian bukan lagi makhluk lokal, regional, nasional, ataupun global. Kalian adalah bagian dari tata galaksi agung, yang default, maupun kejutan custom meteor-meteor tak teratur dalam keteraturan Sang Maha Gelembung”

“Mohon izin kupakai simbolisme wayang. Aku tidak meremehkan wayang, demi keindahan inovasi dan ijtihad. Aku tak membenci apapun, supaya tidak terlalu bodoh. Aku tidak membuang siapapun, demi rahasia ilmu dan kerendahan hati. Secara wayang, stagnasi Hari ke-4 akan dipecah oleh Semar dan Wisanggeni. Cara dan jalannya: Semar mensinergikan Bumi dengan Langit. Wisanggeni tidak boleh ikut bermusuhan, apalagi terjun ke medan perang”

“Wisanggeni berasal dari sifat Allah ‘Wasi’ Ghoniy’: Maha Luas dan Maha Kaya. Wisanggeni mengelilingi Bumi untuk perjuangan kemuliaan. Di dalam kemuliaan berlangsung harmoni antara kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Wisanggeni sangat kuat dan sakti, tetapi dilarang menggunakan kekuatan. Wisanggeni tidak merebut kekuasaan, tidak melakukan revolusi fisik, tidak membakar gedung-gedung, tidak menyantet tokoh-tokoh, memandang tindakan radikal hanya efektif sebagai pemuas dendam dan penawar penderitaan”

“Jadi Wisanggeni terus diam saja?”, aku terus menyerap.
“Puasa itu melakukan ‘tidak’ justru untuk makna dan fungsi yang sangat ‘ya’

“Wisanggeni didadar untuk berlatih mengayomi dan menyayangi. Digembleng untuk meyakini cinta dan kemuliaan ilmu, sebagai tali terkuat pengikat ummat manusia. Jalannya pasti sangat panjang. Maka Wisanggeni tajam peka menemukan sesungguhnya aspirasi Hari ke-5 dan ke-6 sudah banyak dilangsungkan di seantero bumi di Hari ke-4. Hanya saja para pelakunya melaksanakan dengan naluri dan logika alamiahnya, belum dengan spektrum cinta dan kemuliaan ilmu Hari ke-6”

“Bangsa di Negeri ini sedang kabur kanginan, kepatèn obor, menjadi buih kintir ke tengah lautan ketidakmenentuan. Sebenarnya Indonesia bukan yatim piatu, tapi sejak hampir seabad silam dipisahkan dari Ibu Bapak dan Nenek Moyangnya. Padahal mereka punya semua itu. Indonesia tidak hanya terampil men-Cangkul dan tangguh bersilat Pedang, tapi juga memiliki Keris Pusaka, tetapi dicuri dan disembunyikan oleh Kerajaan Barat dan Utara”

“Kami menyebar ke seluruh Nusantara untuk menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia memiliki semua, sehingga harus segera dimulai menyusun cita-cita masa depan yang lebih besar dan panjang ke depan dibanding Revolusi Chaebol, bahkan berkaliber seagung Pendekar Dua Tanduk…”

“Apakah Tuhan akan turun tangan langsung? Di mana Ia berada sekarang?”

“Ia menyatakan ‘Aku bersemayam di atas Arasy’, tapi itu hanya ungkapan untuk memudahkan pencapaian akal kita. Adapun Allah tidak berada di atau dalam apapun. Justru ia adalah Maha Wadah, Maha Gelembung, di mana apapun, termasuk kita dan jagat raya, terletak di dalam-Nya. Kalau mau lebih bernuansa: kita adalah kanak-kanak yang bermain di taman cinta dan kasih sayang-Nya”

“Kenapa wajah dan aroma-Nya adalah cinta dan kasih sayang?”, aku mengejar.

Anak itu menjawab: “Sebab semua ini soal cinta. Hidup adalah menikmati kemesraan dan menempuh kerinduan untuk menyatu kembali dengan Maha Kekasih. Allah melambaikan tangan agung-Nya: “Hai, siapa saja yang merindukan perjumpaan dengan-Ku, berbuatlah saleh di dunia, penuhilah Bumi dengan kasih sayang dan kemuliaan”. Ia menitipkan pesan melalui Kinasih Utama-Nya, Muhammad awal mula cahaya: “Katakan kepada mereka, Muhammad: “Kalau kalian sungguh-sungguh mencintai Allah, maka melangkahlah berjalan di jejakku”

Anakku lainnya menambahkan: “Demikianlah perjalanan Khilafah. Khalifatullah adalah ahsanu taqwim (makhluk utama) yang berjalan di belakang Allah dan Muhammad kekasih-Nya, menuju meeting point, area kemesraan cinta, yang telah diperjanjikan oleh-Nya dengan setiap manusia sebelum menyamar jadi bayi di tahap transformasi biologis. Jarak meeting point itu bukan hanya tidak jauh, bahkan ‘lebih dekat dari urat lehermu sendiri’. Yang jauh adalah kesabaran dan keikhlasannya, istiqamah dan muthmainnahnya. Para ahsanu taqwim berthawaf, mengelilingi titik yang itu-itu juga untuk menekuni kesabaran rindu dan ketahanan cintanya. Semua yang berthawaf membangun ‘sulthan’, energi puncak yang dihimpun sebelum menginjakkan sukma di meeting point. Semua yang berthawaf tidak bisa merasa lebih dahulu atau ketinggalan dari lainnya. Tidak bisa merasa lebih benar, lebih baik, lebih hebat atau lebih berprestasi dibanding lainnya, sebab parameternya berada di rahasia qalbu Allah, yang manusia hanya bertugas menempuh rindu dan merawat kesetiaan”

Aku mengejar: “Bukankah Idulfitri adalah hari kemenangan? Tertutupkah konstelasi kalah menang? Harus ada yang kalah, kalau ada yang menang…”

Ternyata dijawab oleh anakku yang lain: “Aku menjumpai ada empat kemenangan. Pertama, kemenangan untuk tidak kalah oleh kesumpekan, kekalutan, ruang sempit, bau busuk, kebingungan, kebuntuan, dan keputusasaan. Kedua, kemenangan berupa kemampuan menemukan jalan keluar dari kebuntuan. Ketiga, kemenangan taqarrub dan qurban. Engkau enteng saja meninggalkan kerajaanmu, sawah kebunmu, kekayaan dan harta bendamu, nama harum dan akses keduniaanmu — menempuh perjalanan berpuluh tahun, dengan agenda yang dunia tak bisa memahaminya. Apa itu? Ialah tidak ikut merusak. Tidak ikut menyembah dunia. Tidak ikut berebut barang curian. Tidak ikut diperbudak nafsu. Tidak ikut menghina martabat kemanusiaan. Itu saja sudah sukar dipercaya oleh kebanyakan manusia: mau menyelam ke lubuk dan ufuk agenda sejatinya?

Anak yang lain menimpali: “Kalau kau punya tujuan dunia, kau panggul ada agenda politik, cita-cita kekuasaan, ambisi mencengkeramkan apa yang kau anggap benar ke semua penghuni bumi — maka kau akan patah di tengah jalan. Kau kehabisan napas. Pasti. Cepat atau lambat. Pandanglah perubahan peta kekuatan dunia hari ini”

“Kemenangan yang keempat?”, aku mengejar.

“Kemenangan mengalahkan dirimu sendiri”, si pengurai kemenangan menjawab, “Itu kemenangan Wisanggeni. Kalau ia mau terjun ke medan perang, akan terjadi over-destruksi. Tapi ia berpuasa. Apalagi Mbah Bodronoyo, sebab ia adalah Panembahan Ismaya: ia Bapak pengayom kita semua. Dan yang lebih utama: kemenangan puasa itulah jalan tak terduga untuk menjadi kaya raya — asalkan kita pelajari betapa kayanya wujud dan formula kaya raya menurut spektrum Hari ke-6”.

Yogya, 24 Juni 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image