Idul Fitri Setiap Hari

Ampun. Inilah kata pertama yang selalu kulontarkan setiap pukul tiga dinihari. Aku benar-benar klenger dihujani “Khasanah”. Satu pintu masuk menuju lorong kedalaman ilmu belum lunas aku telusuri, telah terbuka pintu berikutnya. Terbuka lagi, terbuka lagi, lagi dan terus lagi.

Satu huruf belum kutemukan koordinat rahasia dan hikmahnya, beribu-ribu huruf, berjuta-juta kata, berlaksa-laksa cahaya di cakrawala menyongsong. Alangkah lemot operating system-ku.

Maka, aku buka saja pori-pori kesadaranku, mempersilakan “Khasanah” memasukinya, lalu membiarakan butiran mikro hingga yang paling lembut mengaliri kesadaran. Aku menanam bibit “Khasanah” di hamparan tanah jiwaku. Hingga Pemimpin yang Takabur dan Pertapaan Ramadlan (1) menyodorkan krenteg-estafet yang tiba-tiba bersuara menjadi judul tulisan ini: Idul Fitri Setiap Hari.

Menyambung Rahim Allah

Kalau sebagai momentum perayaan hari besar nasional, Hari Raya Idul Fitri akan berlangsung setahun sekali. Perayaan kembali ke kampung halaman menyita perhatian jutaan kaum muslim. Gelombang arus mudik beringsut bagai ular raksasa. Kaum urban yang memadati kota besar nyambangi sejarah kampung, menengok kebun belakang rumah, menyapa teman sepermainan di desa.

Nuansa komunikasi yang menggembirakan, grapyak, nyemanak, menawarkan air jernih masa lalu yang belum tercemar oleh serbuk egoisme.

Piye kabare, Rek?”

“Wah, pangling saya.”

“Kabarnya kawan kita, Marji, sedang sakit keras.”

“Istrinya lari dari rumah. Tidak pulang sejak sebelum puasa.”

“Kasihan…”

“Iya, kasihan. Anak-anaknya masih kecil.”

Mudik bukan hanya pulang kampung. Saling menanyakan kabar seorang kawan lazim dijumpai di tengah kelakar ketemu konco lawas. Komunikasi yang terkesan sederhana itu menyimpan inti kesadaran silaturahim. Dibentuk dari dua kata: shilah, menyambung dan Rahim, sifat Allah Yang Maha Penyayang. Silaturahim–menyambung sifat Allah Yang Maha Penyayang.

Slaturahim bukan sekadar bertemunya dua tiga orang sahabat, lalu ngobrol, apalagi–maaf–saling menonjolkan pencapaian prestasi dunia. Apabila itu yang terjadi, sifat Rahim Allah akan mandeg pada setiap dua tiga orang itu. Tali Rahim Allah belum terjalin. Atau memakai idiom air, ia belum mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Di manakah tempat yang lebih rendah itu? Terletak pada kondisi hidup sahabat atau orang yang memerlukan pembebasan dari jilatan api persoalan atau penderitaan: ‘itqun minannaar. Term atas-bawah ini bukan demi kesombongan egoisme-hirarkis, melainkan pertanggungjawaban kepada sikap rendah hati: dialektika-manajerial sebagai khalifah harus diperankan.

Bukan demi sikap jumawa kita tengah berada “di atas” dan otomatis orang yang dibantu berada “di bawah”. Tidak untuk menjadikan anak yatim sebagai pelengkap penderita di tengah acara santunan yang diselenggarakan oleh perusahaan. Tidak pula merasa kaya lalu memandang yang lain pasti miskin. Bukan terutama untuk memilah ada pihak yang dianugerahi hidayah, sedangkan yang di seberang adalah pihak yang dikurung dlolalah.

Lubuk silaturahim adalah innaalillaahi wa innaa ilaihi rojiun. ‘Tujuan’ ibadah silaturahim mutlak kepada Allah. Wa ilaa rabbika farghob. Shohibu baity setiap pelaku silaturahim, penyambung tali sifat Rahim adalah Allah. Adapun ‘arah’ silaturahim adalah kepada manusia.

Allah tidak patheken dengan jungkir-balik tingkah laku manusia. Mau beriman monggo. Mau kufur ya monggo. Allah bukan pihak yang akan memperoleh keuntungan atau mendapat kerugian atas apapun yang terjadi di jagat raya. Namun, alam semesta dan kehidupan bumi tetap diurus-Nya. Allah “mengalir” ke bawah, menyapa makhluk dan hamba-Nya, ngopeni setiap tetes embun, menjaga keseimbangan setiap butir debu.

Demikian pula pelaku silaturahim berakhlak—mengalir ke bawah, menyapa dan mengayomi sedulur-sedulur yang sedang susah dan merana. Pelaku silaturahim menyedekahkan buah Rahim yang dia terima dari Allah kepada orang lain. Bentuk dan ungkapannya bermacam-macam: sedekah harta, sedekah ilmu, sedekah perlindungan, sedekah pengayoman, sedekah pencerahan, sedekah cahaya. Sesuai yang dibutuhkan keadaan atau sesuai perintah (amr) Allah kepadanya. Semua yang disedekahkan itu tidak terutama disadari berasal dari dirinya, melainkan berkat limpahan Rahman-Rahim Allah.

Pada konteks dan posisi itu, pelaku silaturahim tidak besar kepala, karena mitra dialog yang sejati tetap Allah Swt. Ia adalah tajalli Allah dan memerankan sifat Rahim-Nya.

Terserah Allah Saja!

Yang tengah dilanda “situasi neraka” akan berada pada puncak ketidaktahuan jalan keluar yang harus ditempuhnya. Baginya solusi adalah makhluk yang gaib. Ia terhimpit tembok persoalan atau penderitaan. Buntu. Judeg. Gak iso mikir. Yang ia sadari, satu-satunya penolong adalah Allah. Opo jare Gusti Allah. Pengeran mboten sare. Tapi, bagaimana Allah akan menolongnya? Jawabannya pun masih gaib.

Ketika seseorang benar-benar judeg dan solusi adalah makhluk gaib, ketika pertolongan Allah sangat-sangat didamba–Allah ber-tajalli melalui sifat Rahim-Nya kepada pelaku silaturahim yang mengulurkan bantuan kepada yang terhimpit tembok. Melalui pelaku silaturahim Allah menjawab doa keyakinan seseorang. Gusti Allah mboten sare menjadi nyata. Sifat Rahim Allah ber-tajalli dan bermusyahadah. Bagi orang judeg, kini, sifat Rahim Allah sudah tidak gaib lagi. Dalam hati ia menggumam: “Allah memang tidak tidur. Dia menjawab doa-doaku.”

Yang ghoib menjadi syahadah melalui sentuhan Rahman-Rahim. Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. ‘Alimul ghoibi wasy-syahaadah. Huwa al-rahman al-rahim. Peran khalifah di bumi adalah men-syahadah-kan, menampakkan, me-nyata-kan sifat-sifat rububiyah Allah itu.

Menjalankan peran khalifah tidak menunggu momen perayaan Hari Raya. Silaturahim tidak dibatasi saat Idul Fitri. Setiap saat seseorang bisa kembali kepada peran asal, fitrah dirinya, lalu menjadi fitri, melalui metodologi silaturahim yang sudah lunas dipasani.

Jadi, mari beridul fitri setiap hari. []

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image