Hujan Deras yang Tetap Membuat Bungah

Catatan Sinau Bareng di Bukit Jamur Gresik, 21 Oktober 2017

Bayangkan sebuah mangkuk dengan cekungan di tengahnya. Demikianlah lokasi acara CNKK pada soft launching tempat wisata baru yang disebut Bukit Jamur, di Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik. Sebuah lembah buatan di puncak bukit, yang menjadi quarry untuk galian alam. Lembah diratakan dengan akses turun yang juga dirapikan denan alat berat. Baru 2-3 hari sepertinya dirapikan akses turun menuju lembah buatan ini dengan hanya pemadatan seperlunya. Jenis tanah stapel di quarry ini adalah tanah yang keras namun berdebu ketika kering, dan dengan cepat menjadi sangat lembek dan membubur ketika basah oleh air.

Sebuah lembah buatan di puncak bukit, yang menjadi quarry untuk galian alam
Sebuah lembah buatan di puncak bukit, yang menjadi quarry untuk galian alam. Foto: Acang.

Panggung utama acara ada di sisi utara lembah buatan ini, dengan beberapa tenda untuk stand-stand pedagang di sisi selatan. Akses masuk utama untuk pengunjung ada di sisi selatan, dengan sebuah akses lain di sisi utara untuk kebutuhan di panggung. Jajaran bebatuan menyerupai jamur ada di sisi timur, yang ditambahkan dengan sebuah lansekap taman baru untuk mempercantiknya. Pada area sisi timur ini, pihak penyelenggara acara telah mempersiapkan konfigurasi lighting untuk permainan cahaya dan titik-titik kembang api untuk soft launching Wisata Bukit Jamur ini sebagai puncak kegiatan Festival Bukit Jamur yang telah berlangsung sejak siang hari.

Selepas asar, kru sound sudah melakuan setting terhadap kebutuhan sound system, dan dilanjutkan dengan soundcheck oleh KiaiKanjeng di panggung. Sementara di sisi lain di lahan yang luas ini, ada anak-anak yang ceria bermain di tanah kosong, sebuah privilege anak-anak generasi milenial ini. Di sudut timur Pojok Ilmu, stand buku dan merchandise Maiyah rintisan almarhum Pak nDhut juga telah selesai menggelar lapaknya, tepat ketika KiaiKanjeng menyelesaikan soundcheck. Rehat sejenak selepas soundcheck ini dimanfaatkan Pak Is (peniup seruling KK) dan Mbak Yuli (vokalis KK) istirahat dan duduk lesehan di Pojok Ilmu, yang kemudian beberapa saat berikutnya disusul oleh Mas Doni (vokalis KK) dan Mas Adit (drummer KK) bergabung.

Anak-anak yang ceria bermain di tanah kosong. Foto: Acang.
Anak-anak yang ceria bermain di tanah kosong. Foto: Acang.

Senja mulai menjelang. Semburat cahaya keemasan dari ufuk barat menemani aliran jamaah yang mulai berdatangan ke lokasi ini.

Hujan yang Mensucikan

Belum usai ngguyub jagongan di Pojok Ilmu, angin kencang dan udara dingin dengan kelembaban tinggi datang bertiup dari arah selatan. Lokasi acara yang berupa cekungan membuat aliran angin kencang ini berkumpul di titik ini, mempercepat datangnya mendung gelap yang sebelumnya menggantung di sisi selatan.

Personel KK segera menuju panggung dan memasuki bis untuk persiapan briefing dengan Cak Nun, tepat ketika hujan sangat deras turun di lokasi acara. Hujan yang datang tiba-tiba, sangat deras dengan angin kencang membuat terpal yang sedianya untuk tempat duduk jamaah di depan panggung beralih fungsi untuk menutupi set di panggung yang sudah rapi dan siap digunakan. Karena posisinya yang berupa lembah, semua aliran air berkumpul di sini. Tanah stapel yang ada pun berubah menjadi bubur karena akumulasi air dalam jumlah besar. Beberapa mobil yang mencoba keluar dari lokasi selip di sana-sini karena licin dan tanah yang membubur. Selama beberapa saat, kendaraan tersebar di beberapa titik terjebak oleh kubangan lumpur. Sementara jamaah yang sudah hadir berteduh di bawah terop dan stand-stand di sekeliling panggung. Jamaah yang tidak hanya orang dewasa, melainkan terdapat juga orang-orang tua, anak-anak bahkan bayi yang berusia kurang dari 6 bulan.

Derasnya air hujan yang tumpah belum menunjukkan pertanda usai, kondisi lokasi acara yang seolah tampungan air menimbulkan genangan air lumpur semata kaki, bahkan ada yang sedalam betis orang dewasa di beberapa titik. Mobil yang pating tlecek selip di sana sini dan sebagian besar lampu dipadamkan karena alasan keamanan –berujung pada sebuah pertanyaan “akankah acara malam ini tetap dilanjutkan?”

Min haytsu laa yahtasib

Setelah sekitar 1 jam, hujan perlahan mulai mereda. Beberapa jamaah bergerak keluar dari bawah terop untuk membantu mendorong dan mengarahkan beberapa mobil yang selip untuk bisa keluar. Beberapa kru sound dan lighting tampak memeriksa instalasi dan setting yang telah disiapkan sebelumnya. Yang akhirnya diketahui bahwa sound dan lighting yang bisa digunakan hanya yang di panggung.

Jamaah berdatangan meski tanah sudah menjadi lumpur. Foto: Acang.
Jamaah berdatangan meski tanah sudah menjadi lumpur. Foto: Acang.

Seiring dengan berkurangnya mendung, dan kemunculan kembali bintang di langit, tampak di pinggiran tanggul jamaah mulai berdatangan. Semakin lama semakin banyak dan terus bertambah. Benar-benar di luar sangkaan, min haytsu laa yahtasib. Mengingat lokasi acara dan kondisi di lokasi acara seusai diguyur hujan deras. Jalanan yang licin, becek dan kubangan lumpur disana-sini tidak menyurutkan langkah jamaah mendatangi maiyahan ini. Penerangan yang minim juga tidak memadamkan kerinduan jamaah untuk mendatangi maiyahan ini. Orang tua, keluarga-keluarga dengan anak-anak mereka.

Memasuki venue utama dengan menuruni talud tanggul yang licin, anak-anak kecil bahkan harus “diimbal” dengan digendong oleh sesama jamaah dari atas tanggul. Jamaah yang sudah memasuki lokasi acara mengatur dirinya sendiri menempati titik-titik yang masih memungkinkan untuk ditempati. Beceknya tanah tidak menjadi alasan untuk ngersulo, sambat atas keadaan. Yang terpancar dari wajah-wajah jamaah yang datang menghadiri maiyahan adalah wajah penuh kebahagiaan dalam balutan kerinduan. Sementara di panggung, kru sound dan KiaiKanjeng melakukan soundcheck lagi menyesuaikan dengan kondisi di panggung, baik alat maupun mixer sound.

Seusai pembawa acara membuka acara, KiaiKanjeng membuka dengan beberapa nomor pembuka, dan ketika menjelang jam 9, mahallul qiyam oleh Mas Islamiyanto mengantarkan Mbah Nun bergabung dengan KiaiKanjeng di panggung. Mbah Nun mengawali Maiyahan ini dengan bersama-sama membukanya dengan membacakan ummul Qur`an, sab’ul matsani, surah al-Fatihah.

Perjuangan dan kesetiaan jamaah tersebut mendapat apresiasi yang mendalam dari Mbah Nun, yang menyambutnya dengan cinta dan kerinduan.
Perjuangan dan kesetiaan jamaah tersebut mendapat apresiasi yang mendalam dari Mbah Nun, yang menyambutnya dengan cinta dan kerinduan.

Hujan deras dan angin yang hanya sebentar menyapa pada waktu ghurub cukup berpengaruh secara signifikan pada rundown yang disiapkan panitia. Beberapa rencana pementasan sebelum acara puncak, pemainan lighting di Bukit Jamur, maupun atraksi kembang api di lokasi Bukit Jamur–dibatalkan karena tidak memungkinkan lagi. Sehingga acara seolah-olah menjadi “milik” jamaah Maiyah.

Hujan deras dan angin laksana dekonstruksi dan detoksifikasi, dikirimkan-Nya sebagai pensucian dan penumbuhan benih kemurnian. Sebagaimana difirmankan-Nya pada surat al-Anfal: 11 “…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)

Usaha dan perjuangan jamaah untuk tetap menghadiri Maiyahan malam itu adalah sebuah anomali di tengah zaman yang dibuai oleh hedonisme dan pemberhalaan kapital. Maiyahan tidak pernah menjanjikan apa-apa secara materi, tetap dihadiri meskipun kondisi lokasi acara yang menurut pandangan umum tidak kondusif untuk didatangi karena guyuran hujan beberapa saat sebelumnya. Bagi beberapa orang yang baru “mengenal” Maiyah, hal ini adalah sebuah keajaiban tersendiri. Sedangkan bagi beberapa jamaah yang sudah terbiasa, hal ini memperteguh keyakinan dan kesetiaan akan nilai-nilai yang disemai dalam Maiyahan.

Perjuangan dan kesetiaan jamaah tersebut mendapat apresiasi yang mendalam dari Mbah Nun, yang menyambutnya dengan cinta dan kerinduan. Beberapa poin yang disampaikan Mbah Nun pada Maiyahan malam itu seperti mendahulukan kewajiban daripada menuntut hak, sepertinya tampak jelas pada Maiyahan malam ini. Bahwa sebenarnya jamaah berhak mendapatkan tempat yang nyaman untuk bisa Maiyahan, namun hal itu tidak terlihat karena jamaah lebih berfokus pada menjalankan kewajiban cinta dan paseduluran untuk menyimak dan mengurai hikmah yang biasa didapatkan ketika Maiyahan.

Menyimak Sinau Bareng dari kejauhan. Foto: Acang.
Menyimak Sinau Bareng dari kejauhan. Foto: Acang.

Mbah Nun juga mengajak untuk nguri-nguri karya orang tua kakek nenek kita yang dengan demikian karya kita juga akan diingat oleh anak-cucu kelak. Maiyahan malam itu dipungkasi penuh kekhusyukan dengan al-Qashash: 5 dan Yasin: 82 mengantarkan seluruh jamaah kembali pulang. [Moh. Hasanudin]

Bayangkan sebuah mangkuk dengan cekungan di tengahnya. Demikianlah lokasi acara CNKK pada soft launching tempat wisata baru yang disebut Bukit Jamur, di…