Daur-II • 215

Hilang Keasyikan, Sirna Kemesraan

Pemuda Wali Kubro dengan sejumlah sesepuhnya selama hampir seabad sangat sukses mengajak masyarakat di Pulau Jawa dan Kepulauan Nusantara untuk memperjelas dengan siapa-siapa di langit yang mereka berhubungan.

Sudah sejak satu millenium sebelumnya masyarakat itu memelihara keseimbangan kesadaran antara bumi dengan langit, meskipun pengetahuan mereka tentang langit masih sangat spekulatif. Sebab memang para penduduk bumi hanya bisa merasakan, menembus langit dengan hati dan batinnya. Namun untuk mengetahui lebih persis dengan apa dan siapa saja sebenarnya para penghuni langit yang mereka selama ini berhubungan – harus pihak langit itu sendiri yang menginformasikan kepada mereka.

Setinggi-tinggi ilmu manusia, takkan sampai pada ‘ainul yaqin terhadap langit. Seluas-luas pengetahuan manusia, takkan sanggup meneliti peta dan subjek-subjek langit. Dengan kata lain, mereka memerlukan pemberitahuan dari Tuhan langsung untuk mengetahui, memahami, dan mengerti segala hal tentang langit. Dan itulah yang sebenarnya disampaikan kepada mereka oleh Pemuda Wali Kubro, yang dirintis sebelumnya oleh sejumlah Gurunya.

Dialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”. [1] (Al-Jin: 26).

Bahkan “tak seorangpun di langit dan bumi mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”. [2] (An-Naml: 65).  “Mereka hanya menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh”. [3] (Saba: 53).

Pemuda Wali Kubro merasakan dan seakan-akan sudah melihat ke depan: betapa keasyikan masyarakatnya yang kini menjadi lebih terang benderang menyaksikan dan mengalami keindahan di antara langit dan bumi – nanti pelan-pelan akan kehilangan keasyikan itu oleh Revolusi Materialisme.