Daur-II • 105

Harta Benda Sorga

Wajah orang-orang beriman hari itu berseri-seri. Ke wajah Allah-lah mereka menatap. Wajah para pembangkang hari ini sangat masam”. [1] (Al-Qiyamah: 22-24). Mbah Sot mengutip ayat iming-iming cinta itu, karena salah satu kenyataan manusia di dunia yang tak pernah benar-benar dipahami oleh Mbah Sot adalah “nafsu” menggebu-gebu Kaum Muslimin untuk kelak masuk dan berada di Sorga.

Pernah ada teman Mbah Sot membantah, “Ah ya wajar setiap manusia mencita-citakan masuk sorga. Karena pilihan lain adalah neraka”

“Atas dorongan semangat apa keinginan masuk sorga itu?”, Mbah Sot bertanya.

“Mestinya ya kehidupan yang nikmat, yang mereka rata-rata merasa tidak mendapatkannya ketika hidup di dunia”

“Kenikmatan cinta, ataukah kenikmatan batiniah yang mungkin lebih luas dari itu, ataukah kenikmatan materialisme? Bahwa hidup di sorga kita bisa bermewah-mewah, harta benda melimpah, bebas berfoya-foya, berpesta pora tanpa berdosa”

“Maksudnya kenikmatan cinta itu apa?”

“Ya berjumpa dengan Kekasih. Ber-muwajjahah. Bertatapan wajah. Bukankah Allah membuka pintu kerinduan itu: ‘Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan tidak mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada-Nya…[2] (Al-Kahfi: 110). Allah tidak mau dibikin cemburu. Allah saja terang-terangan menyatakan tidak mau dibikin cemburu. Itu lebih nikmat dan tinggi keindahannya dibanding harta benda dan kemewahan sorga”

“Itu terlalu mewah juga untuk orang kebanyakan”, respon kawan Mbah Sot, “juga pada dasarnya manusia itu rendah diri, mana mungkin berani membayangkan adegan perjumpaan dengan Tuhan”.