Halaqah Wisuda Pinter Urip

Para santri dan wali santri pun diingatkan Mbah Nun bahwa hakikat pesantren adalah mendidik anak-anak atau santri supaya pinter urip (pandai hidup).
Pesantren itu fungsinya adalah mendidik santrinya supaya pinter urip. Pinter urip itu berarti mengerti tujuan hidup dan cara hidup.
Pesantren itu fungsinya adalah mendidik santrinya supaya pinter urip. Pinter urip itu berarti mengerti tujuan hidup dan cara hidup. Pesantren itu fungsinya adalah mendidik santrinya supaya pinter urip. Pinter urip itu berarti mengerti tujuan hidup dan cara hidup (Foto: Jamal).

Pagi hingga siang tadi, 11 Mei 2017, Marja’ Maiyah Cak Fuad dan Mbah Nun hadir memenuhi undangan Haflah Akhir Sanah Pondok Pesantren Darussalam Ngesong Jombang yang tengah menyelenggarakan wisuda santri tahun ajaran 2016-2017.

Acara dihadiri oleh asatidz asatidzah, para santri yang wisuda, dan para wali siswa. Pesantren ini didirikan pada 1996 oleh KH Asy’ari Mahfudz dan KH Syihabuddin Raso. Dalam kesempatan wisuda ini, Cak Fuad dan Mbah Nun diminta menyampaikan wejangan mengenai pesantren dan keberadaannya di masa kini di era globalisasi.

Di antara yang disampaikan Cak Fuad adalah mengingatkan bahwa yang pertama dan utama di dalam pesantren adalah ruh atau jiwa, sementara kurikulum itu nomor dua, dan gedung pesantren adalah nomor sekian. Salah satu jiwa pesantren dapat dilihat dari hubungan santri-kiai.

Hubungan santri-kiai itu terbangun oleh tiga hal: ta’dhim, khidmat, dan barokah. Ta’dhim adalah penghormatan santri kepada kiainya. Yang perlu dicatat, keta’dhiman tersebut tidak muncul begitu saja. Kiai mendapatkan penghormatan dikarenakan keikhlasan dan kesungguhannya dalam melayani pendidikan santri secara lahir dan batin. Cak Fuad sempat menceritakan beberapa kisah tentang khidmat kiai kepada santri. Adanya pelayanan kiai dan keta’dhiman santri inilah yang menurut Cak Fuad akan melahirkan Barokah.

Sementara itu, Mbah Nun diminta lebih banyak berbicara tentang pesantren di era globalisasi. Terlebih dahulu Mbah Nun mengapresiasi proses sejarah berdirinya pesantren Darussalam ini. “Yo ngene iki pesantren. Cirinya cukul dari bawah, bottom up, yaitu ada orang yang ikhlas, kemudian menyebar akarnya dan berkembang…,” tutur Mbah Nun seraya menggambarkan hal yang sama untuk proses terpilihnya seseorang menjadi kiai yang otentik di dalam masyarakat.

Sementara di masa modern, kata Mbah Nun, kiai bukan tumbuh dari bawah, tapi ditentukan oleh siapa punya modal. Globalisasi adalah kumpulan modal nasional dan internasional untuk menentukan siapa jadi kiai atau ustadz.

Kemudian Mbah Nun mengatakan bahwa dengan sejarah, watak, jiwanya pondok pesantren adalah masa lalu (alias sudah berakar di masa silam) dan adalah masa depan sekaligus. Banyak pendidikan-pendidikan modern menyerap unsur sistem pendidikan pesantren walaupun tidak menyebut diri sebagai pesantren. “Mereka mengejar kita, kita jangan malah mengejar untuk meniru mereka…anak-anak pesantren jangan tidak percaya diri…,” pesan Mbah Nun.

Para santri dan wali santri pun diingatkan Mbah Nun bahwa hakikat pesantren adalah mendidik anak-anak atau santri supaya pinter urip (pandai hidup). Pandai hidup bukanlah pandai mencari uang. Mendapatkan uang hanyalah akibat. Pinter urip adalah mengerti tujuan hidup dan bagaiamana cara menjalaninya.

Apa yang disampaikan Mbah Nun di depan para santri dan wali murid itu diberangkatkan pada kepastian Allah kepada orang yang mau bertakwa dan bertawakkal (surat at-Thalaq: 2-3) yang salah satu intinya, dalam bahasa Mbah Nun, rezeki itu pelaku utamanya adalah Allah. Ini karena banyak di antara kita salah dalam menempatkan lembaga pendidikan, dan secara mendasar salah dalam meletakkan posisi dunia dan akhirat.

Dari keberangkatan itu, Mbah Nun menjelaskan makna amal sholeh dengan titik tekan bahwa anak-anak santri ini perlu dilatih menemukan nikmatnya berbuat baik. Pandai menemukan nikmatnya menjalankan ibadah. Juga nikmatnya situasi sulit dan situasi berjuang.

KH. Asy’ari Mahfudz dan KH. Syihabuddin Raso sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ngesong Jombang ini memiliki hubungan yang baik dengan Cak Fuad dan adik-adiknya yang hubungan itu dipertemukan oleh concern-nya dalam urusan pendidikan. Cak Fuad yang notabene adik kelas KH. Asy’ari di Gontor beberapa kali diundang ke Ponpes Darussalam ini dan ikut menjadi saksi sejarah bagaimana pesantren ini dibangun dari nol, sejak dari bangunannya terbuat dari gedhek atau bambu, dengan kesungguhan, keistiqamahan, dan kemandirian.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image