“Hacker” Ulung dan Pemuda yang Sudah Ingin Berangkat ke Israel

Dalam acara Sinau Bareng di AOB Angkasa Pura Juanda Sidoarjo 24 Februari lalu, merespons paparan para pimpinan Angkasa Pura Juanda, Cak Nun sempat bercerita sekilas bahwa beliau punya “anak-anak” yang bekerja di Bandara atau pilot pesawat. Ada yang bekerja di Bandara Juanda sendiri dan ada pula yang bekerja sebagai pilot penerbangan internasional.

Saya kebetulan kenal pula dengan seorang pilot yang dimaksud Cak Nun. Saya bersyukur, saya berkesempatan silaturahmi di kediamannya, dan mendapatkan sambutan dan pelayanan yang istimewa di libur akhir pekannya di sela-sela padat jadwalnya sebagai pilot yang harus menerbangkan pesawat dengan rute beberapa negara.

Kesempatan ini tidak boleh saya lewatkan begitu saja. Saya ingin mendengarkan cerita-cerita darinya. Selepas seharian menemani, lebih tepatnya, ngajak kami berjalan-jalan mengelilingi antara Putrajaya dan Kuala Lumpur termasuk shalat Jumat di Masjid Putra Putrajaya yang terletak di kawasan indah pusat pemerintahan atau administrasi Malaysia, kami berbincang-bincang.

1996. Ketika itu, pemuda ini–sebutlah demikian–masih bekerja sebagai pilot maskapai terkemuka Indonesia (sekarang telah pindah ke salah satu Maskapai Malaysia). Suatu hari di perpustakaan Maskapai tersebut di Jakarta matanya tertuju pada sebuah buku di deretan buku-buku lainnya. Buku itu satu-satunya yang ada di situ dari nama penulis yang sama. Berjudul: Markesot Bertutur. Dengan penulis: Emha Ainun Nadjib.

Ia baca buku yang diterbitkan oleh penerbit Mizan itu halaman demi halaman, dan ia merasakan hal yang berbeda. Ia sudah membaca buku-buku dari pesohor Indonesia pada umumnya dan hapal gaya maupun isi-isi pemikiran mereka. Tetapi berbeda dengan buku yang barusan dibacanya itu.

Sejak itu, ia mencari buku-buku lain dari Emha Ainun Nadjib dan mengikuti tulisan-tulisannya yang hadir di banyak media. Buku-buku yang diborongnya itu pun tanpa terasa sudah satu kardus jumlahnya. Dari satu penulis saja. Bahkan setiap kali beli, ia beli dua eksempar. Satu buat dia, dan satu lagi buat Perpustakaan Maskapai yang telah mempertemukannya dengan pemikiran orang yang ia kini menyebutnya Cak Nun dengan penuh hormat dan takzim.

Tetapi apa yang sebenarnya dirasakannya dengan aksara-aksara dalam buku Cak Nun, utamanya buku Markesot Bertutur yang kali pertama dibacanya? Sudah pasti ia mendapatkan substansi-substansi, tapi cara dan bagaimana nuansa substansi itu disampaikanlah yang tak sama, menarik, dan karena itu malah mengikatnya. Muatan-muatan itu dituturkan dalam cara yang mengundang rasa geli dalam diri, tapi ada rasa terwakili sekaligus, dan ada rasa-rasa lain yang melekat yang menjadikannya komplet. Jauh dari suasana menggurui. Tidak kering dan berjarak. Sejak itu, ia memburu buku-buku Cak Nun.

Lebih dalam lagi pertanyaanya. Sesungguhnya nilai apa yang ia peroleh dari membaca pikiran-pikiran Cak Nun. “Tepo seliro atau tenggang rasa dari Cak Nun, Mas. Dulu saya pernah hampir dekat dengan kelompok umat Islam yang getol mengobarkan semangat “jihad”. Saya sudah mau berangkat ke Israel untuk jihad. Saya sudah izin orangtua saya waktu itu,” tuturnya.

Sejak membaca karya-karya Cak Nun, orientasi dan pemkirian Pemuda ini berkembang meluas, tidak kaku, lebih lentur, dan tidak sempit. Ia punya gambaran akan tulisan-tulisan Cak Nun, yakni bahasanya yang tidak direct, meskipun pada momen-momen tertentu direct dan lugas. Bahasanya bagus seakan tahu siapa audiensnya, seperti halnya Cak Nun berbicara di panggung. Di dalam buku itu, Cak Nun membuka awal dengan humor. Humor ini penting, sebab ia akan melunakkan hati, membuat jiwa menjadi terbuka, dan memunculkan rasa segar dalam diri.

Pada kondisi hati pembaca yang sudah seger dan terbuka itulah, kemudian tanpa terasa, tanpa kesulitan yang berarti, pesan-pesan yang hendak disampaikan Cak Nun masuk bleng bleng. Pertahanan sudah jebol dan rontok sebelum benar-benar tersadari bahwa pada akhirnya pembaca merasa cocok atau mengiyakan pandangan dan cara berpikir Cak Nun. “Beliau “hacker” yang sangat ulung.” Demikian ia menggambarkan apa yang dialami dan dirasakannya yakni bagaimana Cak Nun piawai menyentuh hati.

Tetapi pemuda ini tipikal orang yang tak berhenti puas hanya pada membaca karya-karya orang-orang yang dipandang pemikirannya oke baginya. Dia mau kenal langsung, dan ingin melihat kehidupan sang penulis. Apakah sinkron ataukah tidak antara yang dikatakannya dengan kenyataan hidup si penulis. Apakah ada konsistensi dari waktu ke waktu.

Momentum itu tiba saat Pemuda ini hendak mencari lagi buku-buku Cak Nun, karena koleksi buku yang dia punya untuk kedua kalinya hilang. Kehilangan yang pertama, sudah coba ia cari gantinya dengan susah payah. Sebagian ia dapatkan di kota Surabaya, sebagian di kota lain.

Sejalan dengan ia terus mengikuti kiprah dan sepak terjang Cak Nun sejak 1997, kemudian perannya dalam Reformasi 1998, kontribusinya kepada masyarakat melalui renungan-renungannya di Radio Delta Jakarta maupun televisi, sampai akhirnya Cak Nun menarik diri dari berada di media massa nasional secara sangat drastis ejak 1999, pada 2002 ia memberanikan diri datang ke Jogja untuk menemui Mas Zakki. Tujuannya utamanya sih tadi membeli buku. Tapi yang didapat lebih dari itu, Mas Zakki menyambutnya dengan baik lebih dari sekadar perlakuan kepada pembeli.

Bahkan saat itu, pemuda ini sempat dipertemukan dan diperkenalkan dengan Cak Nun yang kebetulan sedang tidak berada di luar kota. Ia benar-benar tidak menyangka. Sembari masih dengan perasaan deg-degan berada di markas KiaiKanjeng untuk kali pertama, ia menyebut Cak Nun dengan panggilan “Mas” karena tak ingin merasa sok dekat, sebab ia teringat dalam salah satu tulisannya Cak Nun pernah menguraikan ihwal sapaan kepada diri Beliau. Bahwa “Mas” itu panggilan untuk orang yang belum cukup dekat, sedangkan “Cak” bagi yang sudah dekat dan akrab. Saat itu, kenangnya, Cak Nun sepertinya sangat membaca kecanggungannya dan segera bilang, “Sudah panggil aja Cak.”

Kedatangan ke Jogja tahun 2002 itu, tak hanya beroleh beberapa buku dan produk lain yang telah disiapkan Mas Zakki, melainkan menambah kesempatannya untuk melihat sisi-sisi peran dan pergerakan Cak Nun di masyarakat. Ia pun lalu mengenal Maiyah. Sesuatu yang membuatnya tak sekadar melihat dan menemukan Cak Nun lewat tulisan belaka, tetapi menemukannya dalam peran, kiprah, dan kontribusi bagi masyarakat. Sekalipun sampai saat ini Cak Nun tetap tak berhenti menulis.

Pemuda ini menyimak dari dulu pemikiran dan kiprah Cak Nun. Ia mencermati perilaku dan lelaku Cak Nun dengan tidak mengambil apa-apa dari keadaan dan peluang politik yang ada kala itu hingga saat ini. Ia membaca Cak Nun. Tak hanya aksaranya, tapi juga tindakan dan respons-responsnya terhadap keadaan, termasuk sikap-sikap Beliau kepada orang-orang yang datang kepadanya.

Putrajaya Malaysia, 4 Maret 2017⁠⁠⁠⁠

Sejak itu, ia mencari buku-buku lain dari Emha Ainun Nadjib dan mengikuti tulisan-tulisannya yang hadir di banyak media. Buku-buku yang diborongnya itu…