Gusti Ratu Ibu

(Firman Sepuluh)

Meskipun aku bukan faktor, bukan pemeran apapun, sepenuh-penuhnya hanya rakyat kecil, pun tidak diminta atau dibutuhkan oleh pihak manapun – tetapi karena cinta dan rasa sayang kepada Yogya: maka hal Keraton Yogya, saya menyusun lima tingkat pandangan.

Pertama, tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta apa yang baik dan apa yang buruk. Berdasarkan prinsip nilai, ilmu dan wacana yang diperlukan sesuai dengan spektrum permasalahannya. Kedua, tentang berapa kadar atau prosentase benar salah dan baik buruk pada masing-masing pihak. Berdasarkan fakta sejarah yang rentangnya relevan terhadap yang diperlukan oleh konteksnya.

Ketiga, pandangan tentang formula yang teradil, atau yang paling mendekati keadilan bagi sekurang-kurangnya dua pihak yang bersebarangan, tanpa mencederai amanah nilai-nilai dari para pendahulunya. Keempat, makhraj atau solusi yang bijaksana, atau yang paling mendekati kebijaksanaan, berhubung subjek-subjek dalam permasalahan ini adalah semuanya yang ada di dalam lingkup sejarah Keraton dan Negara Indonesia, termasuk abdi-dalem, para kawula dan rakyat Yogyakarta.

Kelima, tentang bagaimana upaya-upaya yang bisa dilakukan bersama oleh semua pihak yang berada dalam lingkup permasalahan itu, agar terbuka kemungkinan di mana Allah berkenan melibatkan diri. Dengan rahmat-Nya, pertolongan-Nya, hidayah-Nya, peringatan-Nya, ujian-Nya atau hukuman-Nya. Saya bertanya kepada seorang “aktivis” tingkat tinggi Keraton tentang ketetapan Mahkaman Konstitusi, dan beliau menjawab “Kita pasrahkan kepada Mahkamah Konstitusi Langit, karena kalau kita biarkan benturan terjadi, akan bertambah tema masalahnya, dan lebih banyak lagi pihak yang dirugikan”.

Semua itu pasti dengan pengandaian bahwa semua yang berada di lingkup permasalahan itu, pertama, adalah manusia. Kedua, manusia Jawa. Tidak masalah mereka sedang menjalani keindonesiaan dan globalisasi. Mereka semua di Keraton adalah para pemimpin, sehingga diseyogyakan merupakan manusia Jawa teladan. Beliau-beliau mestinya berpengalaman lelaku, misalnya ambil tiga filosofi baku Jawa:

Pertama, “Urip Urap Urup”: saling berbagi keselamatan dan kebahagiaan, dalam keseimbangan roso dan keadilan. Kedua, “Mamayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkoro”: senantiasa bersikap dan berlaku memperindah kehidupan, lebih dari sekadar benar dan baik. Ketiga, “Nglurug Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, Sekti Tanpo Aji, Sugih Tanpo Bondho”: tidak mengutamakan kekuatan fisik, mencapai kemenangan tanpa merendahkan, sakti karena kebijaksanaan, mengerti dan menjalani kekayaan tanpa ketergantungan terhadap harta benda.

Tiba-tiba aku tertawa sendiri. Menertawakan semua yang kutulis itu. Sebab kalau tiga persyaratan dasar itu sudah dipenuhi dan merupakan tradisi budaya para manusia Jawa teladan di Keraton – tentulah tak terjadi apa yang sejauh ini terjadi: konflik, pertentangan, perebutan, pemilikan kekuasaan, pengincaran harta benda, aset dan akses, di wilayah Kerajaan maupun keindonesiaan.

Tetapi ternyata hal itu segelombang dengan dhawuh Gusti Ratu Ibu, yang akhirnya berkenan menerima sowan-ku. Jangan tanyakan bagaimana wajahnya, pakaian atau usianya: aku menundukkan muka setunduk-tunduknya di hadapannya. Aku tidak mengerti dan tidak bisa membayangkan hidupnya. Aku hanya tahu bahwa ia Sepuh, sangat mengerti secara mendalam, luas dan detail tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan, Raja demi Raja dengan semua detail perilakunya, ruang terdalam yang sangat wingit di Keraton, semua tata krama khusus di dalamnya, ragam Pusaka dan kekuatan batinnya.

Yang paling mendasar dan kebanyakan fakta Keraton yang diketahui oleh Gusti Ratu Ibu tidaklah diketahui oleh kebanyakan orang. Dan sebaiknya tidak usah mereka mengetahui itu semua, agar tenteram hidupnya dan tidak patah terkeping-keping hatinya. Banyak kebenaran yang jangan sampai diketahui, kecuali diwadahi oleh kebijaksanaan. Kemudian, jangan pula tanyakan apakah beliau perempuan atau lelaki. Itu pertanyaan terlalu jasmaniah, terlalu materialistik, terlalu hardware. Pola pandang kelamin atau gender sangat menjebak pengetahuan dan ilmu tentang manusia. “Rijal” tidak sama dengan “Dzakar” atau “Mudzakkar”. “Nisa” tidak sama dengan “Untsa” atau “Muannats”. Ibu Pertiwi atau Ibu kota, tanah, Siti, jangan diasosiasikan secara gender. Al-fatihah bukanlah perempuan, meskipun ia Ummul Kitab, Ibunya seluruh isi Al-Qur`an.

Beliau menyampaikan dua hal. Yang pertama semacam informasi. Bahwa ini semua berkepanjangan, nanti akan hadir seorang Satria dari timur lembah sebuah gunung di arah Timur. Ia dahan yang mencabang langsung dari pokok pohon. Nasabnya berasal dari seorang Pahlawan Nasional yang berjuang di sepertiga awal abad 18, yang mengalah dari tengah perebutan kekuasaan, dan minggir ke desa sebelah barat menjadi petani. Tetapi kemudian jubahnya berkibar karena lingsem oleh ketetapan Kolonial, ngendas-endasi, melanggar harga dirinya.

Sebelum aku menemukan suasana yang sopan untuk mengejar lebih lanjut informasi itu, beliau mengakhiri pertemuan, dengan menitipkan selembar kertas yang, kulirik, ternyata berisi 10 firman Tuhan. Dengan agak gugup sebelum pamit kucoba bertanya: “Apakah beliau-beliau percaya dan berkenan menerima ini?”

Gusti Ratu Ibu menjawab: “Apakah ada pilihan lain di luar itu? Apakah ada jalan lain kecuali yang disediakan oleh Sang Pencipta? Untuk apa mereka mau menjadi manusia kalau tidak mau memasuki ruang nilai itu? Ke mana manusia akan pergi kecuali untuk ‘seba’, untuk sowan kembali ke hadapan Allah?”. Kemudian Gusti Ratu Ibu memasuki biliknya. Entahlah. Mungkin bersujud siang malam di ruang yang ia memingit dirinya sendiri, menikmati makanan dan minuman yang disediakan langsung oleh petugas Allah dari langit.

Sesampainya di rumah kubaca firman-firman itu. (1). “Wahai kalian yang percaya kepada-Nya, waspadalah dan pandanglah apa yang akan terjadi di hari esok, kemudian waspadalah. Allah akan membeberkan apa saja yang kalian lakukan”. (2). “Sesungguhnya Ia mengetahui perkataan yang kamu ucapkan dengan terang-terangan dan Ia mengetahui pula apa yang kamu rahasiakan”. Jadilah manusia (3) “yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.

(4) “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (5). “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (6).  “Dan Kami berkehendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka sebagai pewaris”.

(7). “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (8). “Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (9). “Tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidlir menegakkan dinding itu”.

(10). “Bagi yang bertaqwa kepada Allah, Ia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan bagi yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki. Sungguh Allah menetapkan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Tiba-tiba ada bisikan sangat lirih ke telingaku: “He, kalimat-kalimat itu sudah sejak 14 abad yang lalu diturunkan dari langit ke bumi. Kalau ummat manusia mendengarkannya, mempercayai dan mempedomaninya: keadaan dunia sekarang tidak seperti sekarang ini, Indonesia dan ratusan Kerajaannya sudah “toto tentrem karto raharjo”, tak ada yang bodoh berlaku “adigang adigung adiguna” memonopoli hal-hal yang disangka kenikmatan, kesejahteraan dan kemenangan.

Malang, 14 September 2017.

Meskipun aku bukan faktor, bukan pemeran apapun, sepenuh-penuhnya hanya rakyat kecil, pun tidak diminta atau dibutuhkan oleh pihak manapun – tetapi karena…