Wedang Uwuh (42)

Gila Akut dan Permanen

Kedaulatan Rakyat, 15 Agustus 2017

“Kalau pada pesta dangdutan atau koplo jenis apapun lantas ada yang berantem dan tawur, saya masih bisa mencari sebab akibatnya”, lanjut si Jerman, “Kalau bentrok antara massa parpol atau ormas atau kelompok-kelompok apapun lainnya, masih bisa ditemukan hulu ledak kultural atau sebab-musabab sosiologisnya. Tapi kalau ada anak-anak remaja membunuh orang tanpa asal-usul, atau remaja putri menyiksa sesama remaja putri sampai tingkat menjejalkan botol ke dalam kemaluannya — sungguh saya tidak pernah mempelajari ilmu yang bisa menjelaskannya.”

“Padahal mereka adalah rakyat Negara Pancasi…la…”, Pèncèng menyela lagi, “Padahal mereka adalah warga dari masyarakat yang relijius. Pengajian diselenggarakan di Masjid, Sekolah, Kantor, teve-teve, lapangan dan di mana-mana. Padahal…”

“Tidak!”, saya memotong, “teman Jerman itu tidak omong sampai nyandhak-nyandhak ke situ”

“Memang saya yang omong sampai ke situ, Mbah, bukan Bulé kenalan Njenengan”, Pèncèng berusaha menjelaskan, “tapi apa mungkin Simbah bercerita tentang dua teman Bulé yang takjub kepada klithih itu dengan menghindarkan pemikiran kita dari Pancasila, Agama atau Pengajian?”

“Pèncèng sabar tho…”, Gendhon merespons, “biarkan dulu Simbah selesai bercerita. Supaya kita tahu kenapa hal itu diceritakan kepada kita”

Saya sangat senang menikmati kerjasama kecerdasan dan kebijaksanaan di antara anak-anak saya ini. Terus terang sebagai rakyat kecil sampai setua ini belum pernah saya mengalami kepemimpinan yang mengelola harmoni antara kecerdasan dengan kebijaksanaan. Antara kekuatan dengan kasih sayang. Antara kehebatan dengan pengayoman. Atau antara kepandaian dengan kearifan.

Kalau orang pinter, biasanya tidak menjadi bijaksana. Kalau kuat, tidak menyayangi. Kalau hebat, tidak mengayomi. Dan kalau pandai, tidak arif. Orang menjadi bijaksana biasanya karena lemah. Dan karena lemah pula maka muncul tema kasih sayang, pengayoman dan kearifan, yang mereka mohonkan, bukan mereka terapkan. Karena kelemahan seseorang tidak membuatnya berposisi menyayangi, mengayomi dan menebar kearifan. Mereka yang justru membutuhkan hal-hal itu. Sementara yang kuat, hebat, pandai dan berkuasa, justru memiliki yang sebaliknya: yakni kesombongan, egosentrisme, subjektivisme, bahkan mbegugug ngutho waton, adigang adigung adiguna.

Saya mengakhiri cerita saya tentang dua Bulé itu dengan pertanyaan: “Jadi menurut kalian, bagaimana menjawab kecemasan dua teman Simbah itu tentang klithih?”

“Wah kalau dicari jawabannya bisa sangat luas, dalam dan berlapis-lapis sebab akibatnya, Mbah”, kata Gendhon, “nanti jadinya omongan kita dakik-dakik…”

“Ya Mbah”, Beruk menambah, “Nanti kalau ada yang dengar kita dianggap sok intelektual, sok filosofis”

“Ya nggak-lah”, Pèncèng membantah, “Memang ini masalah filosofi hidup, soal pertimbangan baik buruk benar salah, soal pendidikan keluarga, Sekolah, masyarakat dan Negara”

“Saya tidak membantah pandangan Pèncèng”, kata Gendhon, “memang ini soal pendidikan dan budaya manusia. Nanti akan sampai pada orientasi hidup keluarga-keluarga. Bahkan sampai ke kurikulum, metode pembelajaran dan budaya mengajar guru-guru. Tapi maksud saya, jangan kedengaran siapa-siapa di sekitar sini”

“Bahkan sampai ke ideologi Negara, pengakuannya yang bertentangan dengan praktiknya. Sampai ke dialektika materialisme, sosalisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme… emang siapa teman atau tetangga yang sudi terdengar di telinganya kata-kata seperti itu”

Pèncèng memanaskan suasana lagi. “Jangan-jangan klithih itu kecenderungan perilaku kita semua secara nasional”, katanya dengan nada keras, “anak-anak SMA hanya ngganthol leher, yang generasi tua ngganthol uang rakyat, ngganthol hak berserikat, ngganthol macem-macem lagi. Jangan-jangan kita semua sebenarnya sudah mengidap penyakit gila akut dan permanen…”

“Pèncèng!”, saya membentak lebih keras dari suara Pèncèng.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image