Daur-II • 166

Ghaib dan Ghaib Tidaklah Sama

Pakde Tarmihim terus mendesak: “Kita semua ini bagian dari kebudayaan yang manusianya amat getol menyembah berhala. Baik berhala yang dibikin dari teknologi dan hedonisme, dari politik demokrasi yang cacat. Atau dari tradisi budaya yang menuhankan benda dan keduniaan, maupun dari pola pemahaman dan pemelukan secara berhala terhadap apa yang mereka sebut Agama. Maka pada hakikinya kita tidak punya habitat, tradisi, pelatihan ilmu atau kuasa pengetahuan apapun untuk punya asumi-asumsi terhadap Malaikat Jibril…”

“Kok jadi serius dan melankolik kamu ini, Him”, Pakde Brakodin tertawa.

“Lho tidak ada hubungannya dengan kondisi mental, Din”, Pakde Tarmihim menjawab, “Bab Malaikat saja sudah tidak mungkin terjangkau oleh kita. Apalagi Malaikat Jibril, senior semua Malaikat. Terlebih lagi wajah beliau…”

“Lho yang bilang rupa asli Jibril dilihat oleh Kanjeng Nabi itu Allah sendiri kok”, Pakde Brakodin membela diri, “memang semua itu di luar jangkauan kita. Tapi untuk apa ayat itu difirmakan kalau tidak untuk bersentuhan dengan batin kita dan semua ummat manusia? Untuk siapa firman itu dilimpahkan kalau tidak untuk kita semua? Kanjeng Nabi kan cuma dititipi wahyu. Dan itu untuk kita semua hamba-hamba Allah. Saya menduga Rasulullah sendiri sebenarnya tidak memerlukannya…”

Malah Seger yang menengahi. “Sebenarnya memang membingungkan, meskipun karena iman, kita tidak akan bingung. Allah menyatakan “Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”. [1] (Al-Jin: 26). Jadi, mutlak hanya Allah yang mengerti ghaib dan absolut tidak memperlihatkan kepada siapapun. Tetapi Allah juga memfirmankan: “Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib”. [2] (At-Takwir: 25).

“Berarti ghaib dengan ghaib tidaklah selalu sama”, celetuk Pakde Tarmihim.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra