Daur-II • 152

Generasi Kintir

“Kita yang sangat minoritas, yang jumlahnya sangat tidak berarti dibanding puluhan juta anak-anak muda segenerasi, tidak bisa saya simpulkan kecuali bahwa Allah sedang menyelamatkan kita. Mohon ampun kepada Allah dan maaf kepada siapa saja kalau kesimpulan saya ini salah”, kata Seger.

“Saya tidak mengatakan bahwa kita yang punya peluang untuk diterima Allah dan dimasukkan ke dalam sorga-Nya”, Seger melanjutkan, “tetapi kita memang sudah lama tidak krasan berada di tengah kebanyakan anak-anak muda yang hidupnya seperti buih dan larahan. Generasi pelengkap penderita. Generasi objek. Generasi robot. Generasi beku. Generasi tanpa kegelisahan. Generasi tanpa pertanyaan dan tanpa jawaban. Generasi yang tidak punya dinamika pikiran untuk mencari siapa mereka, dari mana asal usulnya, ke mana tujuannya, kenapa ia hidup, kenapa ia berjalan menjalani kehidupan. Generasi yang bukan hanya tidak punya kepribadian, tapi juga tidak memperjelas dirinya. Generasi yang sebutannya hebat: Generasi Millenial, dan memang sebutan itu hanya mencerminkan satuan waktu, tetapi tidak mengandung substansi nilai apapun kecuali keterseretan. Generasi Kintir. Generasi kabur kanginan. Generasi tanpa obor…”

“Wah kok kethus banget kamu, Ger”, Junit mengomentari.

“Kethus atau tidak itu hanya nada”, jawab Seger, “nada hanya bersetia kepada yang dinadainya. Tidak ada maksud saya mengecam, mengkritik atau apalagi mengutuk dan membenci mereka. Saya ini sedih dan prihatin, bukan kethus…”

Toling yang terpaku diam selama penuturan Pakde Brakodin, sekarang terdengar suaranya. “Seger itu peneliti yang tekun. Bukannya ia berprofesi sebagai Peneliti, tapi naluri dan tradisinya adalah meneliti. Di pojok-pojok catatannya banyak ia tulis: “Sesungguhnya makhluk yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”. [1] (Al-Anfal: 22).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra