Gembira Bersama Mbah Nun

Di mana pun, tanpa terasa sesungguhnya Sinau Bareng adalah cara Mbah Nun “memijiti” anak-cucunya dengan teknik pijitan tak terduga.
“Pijitan-pijitan” Mbah Nun membuat enjoy, ceria, dan gembira. Pikiran pun jadi terbuka.
“Pijitan-pijitan” Mbah Nun membuat enjoy, ceria, dan gembira. Pikiran pun jadi terbuka (Foto: Adin).

Di mana pun, tanpa terasa sesungguhnya Sinau Bareng adalah cara Mbah Nun “memijiti” anak-cucunya dengan teknik pijitan tak terduga. Outputnya, mereka dapat masuk ke kegembiraan dan keceriaan yang pada akhirnya membuka pori-pori pikiran supaya ilmu dan cara pandang baru bisa masuk ke dalam diri mereka.

“Pijitan-pijitan” itu zig-zag, ringkas-ringkas, tapi bersifat kunci yang tersemat melalui kalimat-kalimat Mbah Nun. Seperti malam ini, audiens yang tak hanya keluarga besar SMP 1 Dawe Kudus, tetapi juga masyarakat umum, diajak misalnya untuk jangan lengah dari posisi berdiri di “Islam” sebab jika lengah akan lebih mengutamakan “Madzhab atau. golongan”. “Pertama-tama kita itu dadi wong Islam, udu madzhabe”.

Audiens pun diajak untuk siap mengulur kesadaran dalam memahami apapun termasuk agama dan ilmu melalui ungkapan sederhana “ketika makan gethuk harus sadar sampai ke alar ketelanya”. Tidak boleh ingat atau sadar sepenggal saja.

Kemudian, secara bertahap Mbah Nun mulai masuk ke soal pendidikan dalam cara yang sederhana tapi kurang disadari sebagai gambaran ilmu pendidikan: yaitu melalui kehidupan awal manusia atau bayi. Bayi bergerak (amal), lalu berbicara atau mengucapkan huruf-huruf, dan seterusnya, dan itu adalah urutan pendidikan.

Cukup banyak prinsip-prinsip pendidikan disampaikan Mbah Nun, yang diharapkan tidak untuk mengubah kurikulum yang telah berjalan, tetapi memberi pemahaman pemetaan saja yang dipegang para guru. Dari situ saja, akan lahir sesuatu yang berbeda, termasuk kearifan satu sama lain.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image