Gelombang Cinta di Maiyah

Jum’at, 15 September 2017 di pelataran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta diadakan forum rutin bulanan Majelis Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta. Yang setiap kali pertemuannya selalu dipadati banyak orang dari berbagai kota, umumnya di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Jamaah maiyah yang berdomisili di daerah Cikarang Bekasi, yang jaraknya kurang lebih 49 Km dari lokasi acara Kenduri Cinta, turut menghadiri forum, untuk ngàngsù ilmu di dalam kekhusyukan serta kegembiraan.

Kami yang mayoritas kesehariaannya bekerja sebagai buruh pabrik, tentunya momen sebulan sekali inilah yang selalu ditunggu, sekadar hadir menyatu dalam kebersamaan cinta. Beberapa dari kami ada yang berangkat sore, dan ada pula yang berangkat pukul 11 malam seusai bekerja. Yang terkadang masih mengenakan seragam kerja.

Menurut saya, dan beberapa kata yang terucap dari teman-teman, yang mendasari untuk hadir forum Kenduri Cinta adalah recharge. Sangat banyak dimensinya, selain pengetahuan dan ilmu yang didapat, kami merasakan ketenteraman rohani yang cukup mendalam.

Bahkan dari beberapa teman-teman mengatakan sering mendapatkan jawaban-jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Baik ketika melihat persoalaan negara, masyarakat, maupun dalam skala tempat bekerja di perusahaan masing-masing. Walaupun persoalan itu secara lisan tidak ditanyakan secara langsung.

Kurang lebih 1 tahun yang lalu Mbah Nun pernah menyampaikan di forum Kenduri Cinta, bahwasanya yang beliau sampaikan adalah apa yang menjadi isi hati dari jamaah yang sifatnya random, kemudian beliau mencari titik resultannya untuk disampaikan kepada jamaah.

Saya mentaddaburi, mungkin kesadaran pintu, pèlok (biji mangga) itulah yang ditangkap jamaah tentang apa yang disampaikan Mbah Nun. Di mana beliau membukakan pintu atau dengan memberikan pèlok, kemudian jamaah memasuki pintu, atau menerima biji yang diberikan, yang selanjutnya ditanam, diijtihadi hingga jamaah menemukan jawaban atas persoaalan yang dihadapi.

Kenduri Cinta edisi September 2017 waktu itu dipuncaki pada pukul tiga lebih dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mbah Nun, dilanjutkan dengan bersalaman secara bergantian. Waktu itu saya dan jamaah lainnya yang berada di depan panggung membentuk “barisan cinta”, untuk mempermudah jalur akses dalam bersalaman. Jamaah yang akan bersalaman dengan Mbah Nun rela antri berderet-deret.

Yang laki-laki mempersilakan terlebih dahulu yang perempuan ataupun bagi yang sedang menggendong anak untuk bersalaman dengan Mbah Nun. Tidak ada pengamanan khusus, yang ada adalah setiap jamaah mempunyai jiwa mukmin, saling mengamankan satu sama lain.

Tak sekadar bersalaman dan ungkapan terima kasih dari jamaah atas apa yang selama ini diberikan Mbah Nun. Tak sedikit dari jamaah untuk minta didoakan dengan berbagai masing-masing harapan. Tentunya dengan kesadaran Faidza faraghta fanshab, wa-ilaa rabbika farghab, yang hal ini terus disampaikan Mbah Nun di berbagai forum Maiyahan.

Tak jarang dari jamaah ketika mengantri untuk bersalaman sudah meneteskan air mata. Saya melihatnya, hal itu adalah bentuk kerinduan dengan sosok pengayom, orangtua, sekaligus guru yang menerima siapapun dari berbagai elemen masyarakat.

Beberapa dari Jamaah Maiyah yang mengikuti jalannya forum Maiyahan selama kurang lebih 6-8 jam, dari menjelang malam hingga menjelang pagi, pada keesokannya mereka tetap bekerja di tempatnya masing-masing. Sekadar untuk menjalankan skala kepemimpinannya di dalam keluarga; mencari nafkah, memastikan wala tansa nashibaka minaddun-ya.

Pernah saya alami suatu hal yang menarik ketika mengikuti salah satu Pekan Olah Raga Turnamen bulutangkis yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja, dan diikuti oleh beberapa perwakilan dari masing-masing site; Cikarang Bekasi, Jakarta, dan Surabaya.

Saya berkompetisi pada bagian single putra, yang diselenggarakan selama dua hari di salah satu gedung olah raga Jakarta, yang kebetulan hari pelaksanaan turnamen tersebut bertepatan dengan diselenggarakannya forum Kenduri Cinta bulan desember 2015. Saya pun tidak melewatkan momen itu untuk hadir hingga menjelang pagi acara usai dalam gelombang cinta kebersamaan.

Beberapa informasi yang saya dapat, dalam ilmu olah raga bidang mana pun tidak ada anjuran agar sebelum kompetisi olah raga dimulai, peserta pertandingan atau perlombaan tidak tidur dari malam hari hingga menjelang pagi. Yang menurut ilmu kesehatan akan berpengaruh dalam konsentrasi dan stamina.

Namun hal yang saya lakukan bisa dikatakan berlainan dengan itu. Suatu pengalaman pertama dalam pekan olah raga tersebut, saya bisa lolos hingga babak semi final. Di mana waktu pertandingan tersebut saya mengalami cedera bahu kanan, karena saya nekat ndlòsòr melakukan defense ketika lawan melakukan dropshot tepat di dekat net. Yang kurang lebih pada posisi sebelumnya, saya mengembalikan bola ke arah area lawan dengan pukulan forehand, karena saat itu shuttlecock melaju kencang menuju bagian titik belakang sebelah kanan, yang jaraknya cukup jauh dari area depan (net).

Pertandingan pun sempat dihentikan sejenak, karena petugas medis harus memberikan penanganan pada bahu saya. Panitia pun menyarankan agar saya tidak melanjutkan pertandingan karena cedera yang saya alami.

Dari bekal Maiyahan di Kenduri Cinta hingga menjelang pagi sebelum pertandingan pada hari kedua, saya merasakan energi dan spirit yang luar biasa. Saya pun nekat melanjutkan pertandingan hingga akhir long set, walaupun usai pertandingan saya kalah.

Hal itu sudah saya duga sebelumnya, mustahil untuk menang mengingat cedera di bahu yang saya alami. Tapi setidaknya saya sudah mengupayakan daya juang atas bekal energi dan spirit yang saya dapat ketika mengikuti forum Kenduri Cinta pada malam itu.

Maka cukup mengherankan, ketika beberapa jamaah yang mengikuti jalannya forum, paginya mereka tetap bekerja. Saya meyakini itu karena energi yang berpadu dalam cinta yang mereka dapatkan di setiap Maiyahan hingga menemani di setiap langkah.

Bahkan tak jarang dari beberapa jalannya berbagai forum Maiyahan ketika hujan turun, jamaah tetap berada di lokasi. Ada yang tetap duduk dengan keadaan alas yang basah, dan ada yang memutuskan untuk berdiri hingga berjam-jam menikmati jalannya forum. Tentunya bukan hanya sekadar ilmu yang didapat, namun nuansa dalam keindahan juga turut mewarnai dinamika acara.

Inni ja’ilun fil ardli khalifah. Tak kurang-kurangnya Maiyah tetap mencintai Indonesia. Mbah Nun sendiri sampai saat ini terus berkeliling menemani anak-cucu di berbagai daerah hingga luar negeri. Sangat banyak benih kasih sayang yang diberikan Maiyah kepada Indonesia. Hal itu adalah bentuk sedekah Maiyah terhadap bangsa ini, tanpa pamrih keuntungan materi apalagi kekuasaan.

Cikarang – Bekasi, 07 Oktober 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image