Garuda Menebus Ibu Pertiwi

Tengah-tengah asyik aku menulis puisi “Indonesia Bukanlah, Bukanlah Indonesia”, mendadak hatiku menghentikan pikiranku yang sedang bekerja. Aku bertanya ada apa, ia menjawab dengan pertanyaan: “Mana anak-anakmu yang berjanji menuliskan hasil pembelajarannya tentang Pancasila Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika?”

“Kita perlu sabar menunggu”, aku menjawab, “kita tidak boleh memaksakan kemauan kita, setidak sabar apapun suasana batin kita”.

Tetapi hatiku tak bisa ditawar. Ia mendesak terus dan tidak memberi ruang sedikitpun kepadaku untuk menyelesaikan puisiku tentang “Anak Asuh yang Bernama Indonesia” itu.

Kalau tentang Pancasila, lumayan meskipun sangat sedikit aku sudah invest wacana dan menabung referensi, sebelum pada akhirnya semoga ada kesempatan untuk menguraikannya selengkap dan sekomprehensif mungkin. Misalnya bahwa tidak mungkin Pancasila lahir kalau para penggali dan penyusunnya tidak dibesarkan oleh budaya dan kependidikan Agama, utamanya Islam. Pengetahuan bahwa Tuhan itu Maha Esa, mungkin bisa diaspirasikan sendiri oleh pencarian akal dan hati manusia, tetapi hanya karena “ditanda-tangani” oleh ketegasan konsep “Tauhid” dalam Islam, maka mereka menjadi yakin.

Apalagi jelas ada 6 (enam) kata dengan muatannya yang Pancasila menggali dan mengambilnya dari khazanah Islam: adil, adab, hikmat, musyawarah, wakil dan rakyat. Keenamnya ini justru merupakan titik berat muatan filosofi dan prinsip nilai Pancasila. Sehingga kalau dalam aplikasi pengelolaan Negara di lapangan tiba-tiba muncul atmosfer berpikir yang mempertentangkan Pancasila dengan Islam, yang melebar ke polarisasi Nasionalis versus Islamis. Termasuk terpelesetnya, tidak matang dan tidak jernihnya kalimat “Ini Negara Pancasila, bukan Negara Islam”.

Tapi hatiku tak sabar sebelum anak-anakku setor kepadaku uraian tentang Garuda dan Bhinneka Tunggal Ika. Kemarin mereka bercerita panjang kepadaku tentang dua pusaka Nusantara itu. Aku ini jadul, bagian dari generasi yang terselip di selubung gelap masa silam. Ketika mendengar kisah itu aku sangat terpesona, tapi sama sekali kelabakan untuk merumuskannya kembali. Sehingga pikiranku tidak mampu mentransfer pengetahuan itu kepada hatiku.

Aku hanya ingat sekilas-sekilas. Bahwa Bhinneka Tunggal Ika itu campuran antara Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. “Bhinna” itu Sanskerta, “Tunggal” dan “Ika” itu Jawa Kuno. Mirip Bahasa Arab “Bina`” yang artinya bangunan, membangun, mendirikan. Bhinna bermacam-macam bangunan, beragam-ragam pendirian, berjenis-jenis susunan. Ika bukan kata benda. “Ika” bukan “satu”, bukan pula “tunggal”. Tidak ada “Tuhan Yang Maha Ika”. Ika ditransfer oleh sejarah panjang di masyarakat Jawa Timur menjadi “Iko”. Artinya: Itu. Atau Bahasa Jawa Tengahnya: “Kuwi”.

Bhinna Ika artinya “yang bermacam-macam itu” Tunggal. Satu. “Itu” memberi dua kali tekanan. Satu, Bhinna Ika. Dua, Tunggal Ika. Itu yang berbagai-bagai, itu Satu. Besok anak-anakku harus menguraikannya berdasar lingkungan dan alur teks panjang dari mana Bhinneka Tunggal Ika diambil. Aku orang tua durhaka. Seharusnya aku yang menguasai pengetahuan tentang itu, kemudian aku regenerasikan kepada anak-anakku. Tetapi ini terbalik. Aku orang tua renta mengemis belajar kepada mereka.

Apalagi hal Garuda. Anak-anakku berkisah tiga episode panjang tentang perjuangan Garuda, tapi aku sudah terlalu pikun untuk menatanya dalam memori berpikirku. Mengingat sekedar beberapa namapun dari kisah itu tak mampu pikiranku merekamnya. Pantas dulu aku tak pernah tak dikeluarkan dari Sekolah yang kumasuki, diusir dari Pesantren yang aku nyantri padanya. Lulus SMA karena Guru-guru mempertimbangkan “daripada kita semua susah dan repot satu tahun lagi, lebih baik anak ini diluluskan saja, meskipun semua nilainya di bawah 5, pelajaran apapun”.

Kuambil Episode ketiga saja intinya. Alkisah Garuda itu bukan jenis burung, melainkan nama Burung. Burungnya Ulung, atau Elang atau Rajawali. Ia putra dari seorang Ibu yang menderita hidupnya karena diperbudak oleh Kakak kandungnya. Mereka berdua menempuh sayembara di antara mereka berdua untuk menebak apa warna kuda yang sedang berlari kencang di gigir cakrawala. Sang Kakak mengatakan: “Hitam”. Adiknya yakin “Putih”. Kalau tebakannya salah, maka ia menjadi budak dari yang tebakannya benar. Harus patuh disuruh apa saja.

Ketika saatnya tiba, ternyata memang ekor Kuda itu berwarna putih. Kakaknya tidak mau kalah. Ia punya peliharaan dan bersahabat dengan puluhan Naga. Maka ia minta Naga-Naga itu menyembur atau menyemprotkan ludahnya ke ekor kuda agar hilang warna putihnya. Singkat kata akhirnya ekor kuda itu cenderung hitam dibanding putih. Maka sang Adik kalah dan menjadi budak Kakaknya sendiri.

Sampai suatu hari sang Adik mempunyai anak yang ia namakan Garuda. Bayi ini kekasih para Dewa, di dalam dirinya diisikan berbagai keistimewaan dan kesaktian. Dan Sang Ibu memang tahu bahwa putranya itulah yang kelak akan memerdekakannya dari perbudakan.

Singkat cerita, Garuda bertapa dan mendapatkan petunjuk bahwa untuk membebaskan Ibunya, ia harus menemukan Air Amerta. Melalui perjuangan yang sangat gigih dan benar-benar pantang mundur, akhirnya Garuda diperkenankan oleh Dewa untuk menemukan air itu di sebuah pulau terpencil. Kakaknya panik, karena berarti ia harus membebaskan adiknya.

Sang Kakak secara brutal mencoba merebut kantung Air Amerta, sampai sobek dan airnya tercecer menciprati rerumputan tinggi, yang kemudian diberi nama Alang-alang. Karena dengan ia dibasahi oleh Amerta, maka ia memiliki kekuatan langit untuk menolak bala dan bencana. Itulah sebabnya ia bernama Alang-alang, karena ia mampu menjadi penghalang bencana.

Alang-alang adalah rakyat kecil yang dipandang remeh, diinjak-injak, direndahkan dan dianggap tak berguna. Tetapi sepanjang kurun waktu tidak pernah Alang-alang diberitakan mati. Yang selalu akhirnya mati adalah Penguasa yang menginjak-injaknya.

Jelas juntrung sejarahnya sekarang. Ibu Pertiwi yang disandera dan diperbudak oleh saudaranya sendiri sesama manusia, sedang menantikan perjuangan Garuda untuk membebaskannya dari perbudakan yang bagai tak ada habisnya.

Surabaya, 18 Juni 2017. 

Ika bukan kata benda. “Ika” bukan “satu”, bukan pula “tunggal”. Tidak ada “Tuhan Yang Maha Ika”. Ika ditransfer oleh sejarah panjang di masyarakat Jawa…