Gamelan Malaekatan

Ternyata kuliah kesasar memilih jurusan ada untungnya juga. Memang tidak banyak ilmu yang saya dapatkan. Tapi setidaknya ada beberapa tambahan pengetahuan tentang dunia permusikan dengan segala jenis pisau bedah analisisnya. Iya. Pisau bedah. Begitu dosen saya sering mengungkapkan bagaimana cara kita jika ingin mengetahui ‘daleman’ atau ‘jeroan’ dunia permusikan seantero bumi.

Musik-musik yang dihasilkan di peradaban bumi memiliki keberagaman menyesuaikan dengan para pendukung kebudayaannya. Jawa punya apa. Sunda punya apa. Skandinavia punya apa. Hindustan punya. Mongolia punya apa. Dan segala jenis bentuk musik hasil budaya dari jenis peradaban yang lainnya.

Ketika bicara Jawa, kalau kita melempar pertanyaan kepada siswa-siswi sekolah dasar, mereka akan dengan mudah sekali menjawab, gamelan. Pun begitu dengan saya semasa kecil. Hanya saja, tidak semua anak-anak kecil di Jawa berkesempatan mencicipi bagaimana bermain gamelan. Kalau sekolah-sekolah di sekitar Solo dan Yogya mungkin tidak begitu asing. Tapi begitu masuk wilayah pantai utara Jawa, seperti tempat kelahiran saya di Pati, pembelajaran mengenai gamelan hanya sebatas pengetahuan saja. Kalau  Macapat masih dapat beberapa materi. Tapi untuk gamelan porsi pembelajarannya hampir tidak ada. Paling hafalnya hanya gong, bonang, rebab, dan kendhang. Karena materi itu sering keluar di soal-soal ujian mata pelajaran IPS.

Maka ketika saya harus melaksanakan ujian praktik masuk ke ISI Solo, saya kelabakan. Padahal hanya disuruh memainkan salah satu alat musik dalam perangkat gamelan. Namanya Slenthem. Lebih tepatnya disuruh untuk memukul saja. Tidak sampai tahap memainkan jenis laras dari gendhing tertentu.

“Coba pukul.” Kata dosen penguji. Saya menatap beliau penuh iba.

“Ayo pukul.” Beliau meminta lagi. Tatapan saya semakin nanar. Karena, satu, hati saya terlalu lembut dan tidak tega untuk memukul apapun dan siapapun. Yang kedua, pasti harus ada konsekuensi dari proses memukul itu. Memukul tidak sekedar memukul. Tapi tahu ukuran beserta kaidah memukul yang benar. Kalau dalam tinju, sama-sama memukul tapi memiliki nama karena teknik pukulan dan titik pukulnya berbeda serta efek yang berbeda pula. Misalnya hook dan jap. Begitu juga dengan memukul gamelan.

Dengan penuh keragu-raguan saya ambil thuthuk-nya. Sikap duduk saya betulkan sedemikian rupa hingga membentuk posisi bersila. Sambil menahan nafas, saya pukul satu per satu bilahnya. Saya pukul mulai dari yang terbesar.

Dhung dhung dhung dhung….

“Mas, nuthuk Slenthem ki ora ngana kuwi carane. Dipithet.

Dipithet. Kata ini pun saya tidak mengerti maknanya. Karena meski sama-sama Jawa, antara Pati dan Solo sudah banyak perbedaan penggunaan kata dan struktur kalimatnya. Apalagi ini menyangkut kaidah bermain gamelan. Tambah tidak dhong saya.

Saya hanya terdiam dan tambah kelihatan betapa dungunya saya. Dipithet itu yang bagaimana? Begitu batin saya. Kemudian dosen penguji mendekati saya.

“Gini lho.” Kemudian dosen penguji memberi contoh bagaimana memukul Slenthem yang benar. Bahkan tidak hanya benar. Melainkan juga indah dan baik. Karena beliau memukul nada-nada yang tidak mengganggu dan bisa diterima oleh indera pendengaran saya.

Ternyata dipithet itu seperti menahan atau memegang bilah begitu selesai dipukul. Tujuannya supaya resonansinya berkurang dan tidak meninggalkan dengung yang berkepanjangan. Itu untuk jenis bilah. Kalau untuk pencon seperti bonang ada juga tekniknya. Tetapi tujuan utamanya sama. Supaya resonansinya tidak terlalu panjang.

Bekal musikalitas gamelan yang kurang kuat ternyata tidak begitu berdampak signifikan terhadap keputusan diterima atau tidaknya saya di kampus ISI Surakarta. Karena akhirnya saya diterima menjadi mahasiswa di sana. Mungkin karena jurusan yang saya ambil tidak semata menitik beratkan kepada kemampuan praktikum bermain gamelan. Jadi yang penting pengetahuan dasar soal gamelan tetap harus terus dipelajari. Ben ora ngisin-ngisini nek ketemu niyaga grup karawitan. Mosok lulusan ISI nuthuk Slenthem luput. 

Dari pergaulan dengan kebudayaan gamelan, saya mendapati informasi-informasi yang cukup menarik bagi saya pribadi. Gamelan selain memiliki teknik yang khas ketika memainkannya, ternyata juga memiliki cerita-cerita yang seru yang melingkupinya. Antara lain, alat musik gamelan tidak boleh dilangkahi. Memainkan gamelan tidak boleh asal memainkan, tapi harus dibekali dengan rasa yang kuat tetapi lembut. Kadang kita harus menahan untuk tidak terburu-buru dan terlalu keras memainkannya.

Lalu ada cerita tentang gamelan yang konon bisa berbunyi sendiri padahal tidak ada yang memainkannya. Kemudian ada jenis perangkat gamelan yang hanya boleh dimainkan pada waktu-waktu tertentu saja. Adanya sesaji di sekitar Gong. Atau ada salah satu alat musik dalam gamelan memiliki frekuensi yang bisa menimbulkan ekstase tersendiri bagi manusia. Atau, gamelan menjadi musik terapi untuk para narapidana di salah satu lembaga pemasyarakatan di negara Perancis. Atau gamelan menjadi mata kuliah wajib di beberapa universitas di negeri Kanguru sana. Atau semakin banyaknya orang Amerika yang tergila-gila mempelajari gamelan dari tahun ke tahun. Dan berbagai macam informasi menarik lainnya.

Saya pikir, hal itu dikarenakan gamelan memiliki wilayah frekuensi tersendiri. Yang frekuensi tersebut bisa menembus beberapa dimensi yang ada di Bumi, tidak hanya dimensi manusia saja. Saya sempat tidak percaya dengan hal itu. Karena lebih mirip dongeng belaka. Hingga suatu saat dosen saya bercerita seputar piringan emas yang dibawa oleh pesawat NASA, bernama Voyager 1 dan Voyager 2 pada tahun 1978. Saya yang menyukai dunia per-alien-nan bersorak kencang dan sangat antusias sekali menyimak penuturan dosen saya itu.

Voyager 1 dan Voyager 2 pada awalnya diluncurkan untuk mempelajari keberadaan planet Jupiter dan Saturnus. Namun ada pertimbangan lain, bahwa pesawat atau mereka menyebutnya ‘wahana’ itu juga ditujukan untuk ‘menyapa’ peradaban di luar angkasa. Mereka menyebutnya sebagai si pembawa pesan untuk peradaban ekstraterestrial. Bahasa saya, kula nuwun kalih alien. Siapa tahu ada kehidupan, ada alien.

Nah untuk proses kula nuwun itu maka disertakan pula sebuah piringan emas yang berisi produk-produk budaya peradaban manusia di Bumi. Ada musik, foto, dan suara-suara kehidupan alami maupun buatan, serta beberapa perwakilan kalimat sapaan dari bahasa yang digunakan di bumi. Khusus untuk musik, salah satu musik yang terpilih adalah musik gamelan berjudul gendhing Puspawarna yang liriknya dibuat oleh Pangeran Adipati Mangkunegara IV dan dimainkan oleh Mbah Tjokrowasito, empu gamelan dari Yogya. Gendhing berdurasi empat menitan itu bersanding dengan karya-karya dari Johan Sbastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven. Dan musik gamelan itu mengalun di angkasa luar sana.

Kalau nanti ada UFO mendarat di Jawa kemudian ada alien keluar dari pesawat dengan mundhuk-mundhuk membungkukkan badan dan fasih berbahasa Jawa krama, mungkin dia salah satu penyuka dan sudah terpengaruh oleh frekuensi gendhing Puspawarna yang bermakna dan melambangkan berbagai macam jenis keindahan bunga itu.

Kemudian saya teringat beberapa poin yang ditulis oleh seorang networker kebudayaan dari Solo, Halim HD, dalam tulisannya yang berjudul Fenomena Emha. Salah satunya pengalaman tentang musik puisi Emha Ainun Nadjib dan Karawitan Teater Dinazti. Karawitan Teater Dinazti inilah yang disebut sebagai cikal bakal kelompok gamelan KiaiKanjeng. Salah satu pernyataan yang menarik dari Halim HD adalah,

“Dinazti-Emha, Emha-Dinazti dan puisi mengalir dalam bentuk pementasan musik yang ‘agak liar’, ‘norak’ dan bisa memekakkan telinga mereka yang kurang jembar hatinya. Tak peduli dengan tatanan karawitan yang penting bisa bunyi dan rasanya sreg buat puisi.”

Rasa penasaran saya semakin menjadi setelah Halim HD membandingkan bahwa musik KiaiKanjeng yang sekarang lebih rapi dan tidak ‘norak’ dan sangat mungkin menjadi semakin kaya warna musiknya. Serta terkesan lebih profesional dan beberapa anggota yang baru tidak hanya berbekal semangat tapi juga keterampilan yang lebih memadai. Begitu imbuhnya.

Jika diijinkan berandai-andai, bagaimana kalau saat itu musik yang dikirim ke luar angkasa bersama pesawat Voyager adalah musik puisi Emha-Dinazti sesuai penggambaran Halim HD saat itu? Begitu ada alien datang ke bumi, sekeluarnya dari pesawat, dia tidak membungkukkan badan. Melainkan ngapu rancang malang kerik karo muni-muni,

J*nc*k koen kabeh! Tiwas medhuk nang kene! Tak sawang seka ndukur kayak surga! Bareng medhun jebul nen waduk Kedung Ombo! Sing mbangune gawe soro! Karo padha-padha menuso ae gawe soro. Opo maneh karo aku sing alien ngene iki! J*nc*k!

Untung saja yang dikirim ke angkasa luar bukan musik puisi Emha-Dinazti. Karena mungkin salah satu pendengarnya bukan sejenis alien, tetapi langsung malaikat Jibril yang kemudian melaporkan kepada Tuhan, bahwa ada jenis musik yang sebaiknya dihujani oleh barokah supaya memiliki frekuensi yang bisa menembus langsung ke manah dengan dilengkapi dengan nuansa itiqomah, qanaah, kemampuan mengolah, dan mengetuk pintu jannah, serta bermanfaat untuk ummah.

Maka lahirlah, Gamelan KiaiKanjeng….. gamelan malaekatan, gamelan yang direspon oleh malaikat, karena Tidak, Jibril Tidak Pensiun…..

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image