Founding Father of Human Right

(Syekh Kanzul Jannah)

Jangan sampai ternyata kita ini Iblis, pemimpin kita itu Iblis, sistem yang mengendalikan hidup kita ini Iblis. Perlu diperjelas secara ilmiah apa siapa Iblis.

Mustahil menjalankan Pancasila tanpa mengenali Iblis. Tidak mungkin mengamalkan Ketuhanan Yang Maha Esa tanpa mempelajari Iblis. “Siapa mengerti dirinya, maka mengerti Tuhan-Nya “. Jadi, jelas: siapa tak mengenali Iblisnya, tak mengenali Tuhan-Nya.

Supaya tidak terlalu sukar, lupakan Iblis “as he is”, sebagai eksistensi wujud suatu “diri”. Cukup sementara kita rumuskan Iblis itu potensialitas, frekuensi, energi, arus, atau kobaran api di dalam diri kita sendiri. Demikian juga Tuhan dan Malaikat. Iblis “yuwaswisu fi shudurinnas, minal Jinnati wanNas” – mengipas-ngipasi, membakar-bakar, memprovokasi hati manusia – yang berasal dari area Jin dan dari dalam diri kita sendiri.

Kita membutuhkan Seminar Nasional tentang Iblis. Kita mohon hadir semua Sarjana dan para Pakar yang pernah melakukan penelitian tentang Iblis, pernah mewawancarainya, mendatanya, menganalisisnya kemudian menuliskannya di jurnal-jurnal ilmu, atau diterbitkan sebagai buku-buku.

Aku sangat serius perkara Iblis ini. Sebab aku terlanjur tidak main-main dalam menjalani Pancasila. Di dalam fakta yang saya ketahui tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, ada para Staf-Nya yang jabatannya Malaikat. Dan di antara para Malaikat itu ada satu pembelot yang menolak salah satu Perppu Allah swt, sehingga ia digelari Iblis. Jadi Iblis adalah Malaikat yang makar, radikalis dan intoleran. Iblis itu kalau tidak “PKI”, ya “Islam”.

Kalau ber-Pancasila tanpa Iblis, tidak ada dinamika, dialektika dan pergulatan gelombang-gelombang. Kalau ber-Ketuhanan Yang Maha Esa tanpa casting pemeran Iblis, maka bukan anak-anak Adam pelaku Drama Kehidupan ini. Urusan kita semua sejak era Ibu Hawa, peristiwa Habil dan Qabil, bahkan sejak perdebatan di hulu sejarah tentang gagasan penciptaan Adam, perkara primernya adalah tentang dan dengan Iblis. Baru kemudian para Rasul dan Nabi.

Sepanjang sejarah Indonesia, peran paling favorit yang diambil oleh tokoh-tokohnya adalah Tuhan, Iblis, Malaikat dan Nabi dan Rasul. Banyak pemimpin Indonesia yang ambil peran sebagai Tuhan, kegiatan utamanya mengancam masyarakat akan masuk neraka, serta mengiming-imingi mereka akan masuk sorga. Para pemimpin ini bukan sekadar menjadi tangan panjang Allah swt, tapi langsung berperan sebagai Tuhan: mengharamkan sesuatu, mewajibkan, atau menghalalkan.

Termasuk berbuat semau-maunya, menghabiskan sumber daya alam secara rakus, merusak bumi, menakdirkan rakyat untuk bahagia atau sengsara, termasuk membunuh generasi-generasi manusia, ditikam dengan pedang utang-utang yang tak terbayarkan. Sebab alam dan manusia seluruhnya ini adalah “Milik-Nya”. Tanah, lautan, pepohonan, gunung, air, tambang, bahkan juga rakyat, adalah “Milik-Nya”.

Di antara para pemuka masyarakat Indonesia itu ada juga yang menjadi Malaikat, pekerjaannya memancarkan cahaya, mematikan listrik, atau menjual perusahaan pengolah cahaya kepada Iblis. Yang lain berperan sebagai Nabi sekaligus Rasul. Tidak hanya berpangkat Nabi, tapi juga bikin papan nama sebagai pejabat Rasul. Gerakannya menyusun kurikulum pendidikan kemanusiaan yang adil dan beradab, menyerap wahyu dari langit diekspose menjadi Sabda Raja, atau mengubah fiqih konstitusi Mulukiyah sesuai dengan kepentingan keluarga kecil dan regenerasi kekuasaannya.

Tidak kalah disukai banyak tokoh-tokoh Indonesia adalah peran sebagai Iblis. Bergerak mengeksekusi perjanjiannya dengan Tuhan untuk menyesatkan rakyat, melalui kebijakan-kebijakan, media offline maupun online, sistem politik yang di-make-up, brainwash pola berpikir, mobilisasi budaya yang melabeli kegelapan sebagai cahaya, memitologisasikan cahaya sebagai kegelapan. Penyesatan yang dilakukan oleh para pemeran Iblis Indonesia ini, bukan hanya menggiring rakyat ke jalan sesat, tapi juga menuduh sesat kepada siapapun yang menolak jalan Iblis.

Sedemikian faktualnya realitas Iblis ini, maka demi pengamalan Sila Ke

tuhanan Yang Maha Esa – buku-buku utama di Perpustakaan Indonesia haruslah tentang Tuhan, Malaikat, Iblis, baru kemudian para Nabi dan Rasul. Dan khusus untuk Indonesia, rating tertinggi adalah Iblis. Ia selalu juara, ranking-1. Maka literasi tentang Iblis justru harus diposisikan lebih utama sebelum rak buku-buku tentang Tuhan dan Malaikat.

Apalagi, menurut sejumlah peneliti: pada mulanya sebelum dicap sebagai Iblis ia adalah Malaikat paling senior, paling sepuh, paling tinggi jam terbang ibadahnya kepada Allah. Jibril dan para Malaikat lain kalau berhajat sesuatu kepada Allah swt, seringkali meminta tolong kepada Iblis yang memang lebih akrab hubungannya dengan Tuhan.

Beberapa sejarawan mengabarkan bahwa Iblis pernah tinggal di lapisan langit 6,5,4,3,2 selama 1000 tahun di masing-masingnya. Itu karena Allah memberinya cuti dan bonus karena ibadahnya luar biasa, mengungguli semua Malaikat lainnya. Kemudian sesampainya di bumi, Iblis tak mau kembali ke langit. Iblis mendirikan Kerajaan di bumi sejak ribuan tahun silam. Artinya, Iblis adalah narasumber utama pengetahuan tentang kehidupan di bumi.

Secara objektif-historis, Iblis adalah salah satu Guru Besar yang sangat penting bagi ummat manusia. Maka kita butuh menemui sebanyak mungkin pakar-pakar ilmu, para sarjana, doktor profesor di wilayah ekspertasi apapun, asalkan bisa memberi saya bahan-bahan selengkap mungkin tentang Iblis.

Makhluk istimewa ini sudah dikenal sejak jauh sebelum ada manusia, bahkan ribuan tahun sebelum seluruh Malaikat tercipta. Era peradaban apapun dalam sejarah Ummat manusia sudah mengenal Iblis. Sehingga di abad 21 ini pastilah sudah terbit ribuan atau bahkan jutaan buku tentang Iblis. Tentu juga ada ribuan jumlah Doktor Iblis, Ahli Iblis, Spesialis Iblis, Pakar Iblis. Bahkan mestinya tidak sukar menemukan Perpustakaan yang berisi buku-buku hasil penelitian para Ilmuwan tentang pengalaman panjang Malaikat Izroil mencabuti jutaan nyawa manusia.

Apalagi Iblis adalah “the founding father of human right“. Bapak penemu, pelopor dan aktivis teladan Hak Asasi. Syekh Kanzul Jannah, mantan bendaharawan Sorga itulah yang pertama-tama dengan penuh keberanian mengkritisi Allah, menerapkan Hak Pilih, hak menerima atau menolak. Baginda Al-Khosyi’, Ar-Roki’ dan As-Sajid inilah yang berani menanggung risiko sangat berat dengan menolak ketetapan Allah tentang penciptaan Adam. Apalagi langsung juga dilantik menjadi Khalifah di Bumi.

Yogya, 30 September 2017

Jangan sampai ternyata kita ini Iblis, pemimpin kita itu Iblis, sistem yang mengendalikan hidup kita ini Iblis. Perlu diperjelas secara ilmiah apa siapa…