Daur-II • 069

Fithri Seribu Tahun Lagi

Tarmihim pernah memancing definisi, “Cak Sot, sebenarnya bagaimana menjelaskan fithri agar kita utuh memahami dan mengerti?”

Tidak mudah Matkesot dipancing. Tapi kali itu ia menjawab, “Jangan pilih satu huruf kalau kamu tidak bisa menemukan dirimu sepuluh tahun lagi di huruf itu. Jangan ambil satu kata, kalau di dalam kata itu tak ada lagi dirimu seratus tahun lagi. Dan jangan ucapkan satu kalimat kalau seribu tahun lagi di dalam ruh dan substansi kalimat itu tak kau temukan lagi dirimu”

Markesot mengulang lagi firman Allah: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, teguhkan pijakanmu pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. [1] (Ar-Rum: 30).

Markesot menambahkan, “Agama tidak harus terutama pada institusinya atau posisinya sebagai identitas sosial”

Kemudian Markesot berbisik seperti kepada dirinya sendiri, atau mungkin kepada entah siapa yang berada bersamanya dalam sunyi dan rahasianya:

“Andaikan Allah bermurah hati, aku sungguh ingin menjadi pelaku dari yang dikisahkan oleh Allah ini: “Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ Kaum Mukminin itu menjawab: ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu kehancuran kami, dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu’[2] (Al-Hadid: 14).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra