Daur-II • 023

Firman di Ujung Lidah

“Lho bukan pamer ayat”, jawab Brakodin, “biarkan anak-anak membiasakan diri menemukan peran Tuhan di dalam detil-detil kehidupan. Saya angon irama mereka. Kita ini orang tua. Tidak akan memaksa anak-anak muda untuk menjadi bebek-bebek yang harus memaklumi dan mematuhi penyakit-penyakit jiwa kita.…”

Brakodin melihat mungkin Ndusin sendiri lupa dan tak sengaja banyak muatan pikirannya yang bersumber dari firman-firman. Dia lupa bahwa yang barusan ia khawatirkan, yakni “dibiarkan oleh Malaikat mati menganiaya diri” adalah fenomena yang diinformasikan oleh Tuhan sendiri. Apa Ndusin pikir itu ide eksploratif pikirannya sendiri.

Akhirnya Sundusin tersenyum. “Gini lho Cak Din”, katanya, “saya sudah terlanjur menikmati cerita Sampeyan tentang Cak Sot mulai dijawil-jawil seperti jaman mau Reformasi dulu. Jawilan dari sisi-sisi jala sampai akhirnya mulai pusat jala. Bagaimanapun saya senang dong kalau Cak Sot bisa ikut menyelesaikan masalah bangsa ini”

Brakodin tertawa. “Tidak bisa”, katanya tegas, “Cak Sot tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah bangsa. Orang-orang munafik itu memanggil orang-orang mukmin seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu? Mereka menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu kehancuran, dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu…..”. [1] (Al-Hadid: 14).

“Itu firman tho, Cak Din? Ayat Allah to?”

“Lho mana ada kebaikan yang muncul dari ujung lidah manusia kecuali bersumber dari Allah?”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra