Falyatanaffas, Falyataglobal

Ketika membaca Daur 115, Jam Terbang Bopo Adam beberapa waktu lalu, tiba-tiba ide ini muncul. Entah mengapa judul tersebut yang terlintas, entah masih terbawa dengan tulisan yang berjudul Falyatalaththof, Falyataletto.

Husnudzon saja kepada Allah bahwa memang ini murni dari-Nya, jika memang karena masih terngiang tentang tulisan Falyatalaththof tadi, maka husnuzonkan memang itu wasilahnya. Tak peduli engkau menyebut ini mencuri ide atau itu kurang kreatif dan sebagainya.

Falyatanaffas disebut di dalam Al-Quran surat Al-Muthaffifin ayat 26, namun ada lanjutannya yaitu “falyatanaffasil mutanaffisuun” terjemahan falyatanaffas sendiri adalah “berlomba-lombalah/bercita-citalah orang-orang yang mau berlomba-lomba/bercita-cita”.  Saya tak akan membahas lebih jauh tentang tafsiran dari ayat ini. Silakan engkau membuka sendiri tafsiran-tafsiran dari berbagai referensi yang engkau punya. Yang dapat ditarik dari kata-kata tersebut adalah memang mengenai berlomba-lomba untuk menggapai sesuatu apapun itu asal untuk kebaikanmu dan kebaikan sosial sekitarmu. Berbagai cara pun bisa kau tempuh untuk menggapai cita-citamu itu, salah satunya melalui sebuah proses pendidikan, baik itu yang kau sebut-sebut –dengan bangganya— sebagai formal maupun yang kau hinakan sebagai pendidikan non formal.

Sedikit menyinggung tentang pendidikan, di Indonesia sendiri sudah lazim kita ketahui bahwa saat ini ada banyak pihak yang menilai tentang kemunduran kualitas pendidikan di Indonesia, lepas dari benar-salahnya penilaian tersebut. Yang jelas saat ini memang Indonesia sedang mengenyam sebuah sistem pendidikan yang agak lepas dari nilai dan kultur pendidikan asli Indonesia. Khusus di tanah Jawa (karena saya seorang Jawa) juga ternyata mbuntut dengan keadaan ini. Saat ini kita sudah tak mengenal lagi siapa Ronggowarsito, sudah tak tahu lagi ilmu falak jawa tentang siklus 5 hari, siklus 6 hari, paringkelan, padangon, dll.

Pemaknaan guru sendiri juga sudah mulai pudar di tanah kita ini. Guru saat ini faktanya sudah mulai melenceng dari cita-cita. Ada sebuah anekdot yang mungkin sering kita dengar “nek bien koperasi soko guru, nek saiki uripe guru soko koperasi” memang secara harfiah dua hal ini adalah wilayah dan pembahasan yang berbeda, namun jika dilihat konteks kekinian, kedua hal tersebut adalah perkara faktual. Kalimat tadi adalah ironi dari keadaan sekarang yang banyak di antara guru-guru yang mengajar hanya karena profesi dan terbeban pada nominal fee yang diterima. Artinya, sudah hampir hilang peran guru yang benar-benar transaksional mengajarnya murni bernilai “tukar-tambah” ilmu pengetahuan.

Dalam hal keindustrian, saat ini kita dihadapkan pada kenyataan yang agak dilematis. Ada sejumlah pihak-pihak yang saat ini meman benar-benar sudah menguasai kunci-kunci industri dunia. Ibarat kata, jika tidak menurut dengan kata mereka, apapun produk yang kita hasilkan bisa jadi tidak akan laku. Ada pangsa pasar yang harus diraih agar mencapai target, ada hawa konsumtif disana yang setiap waktu meningkat dan—menurut pihak-pihak tadi—harus dipenuhi. Yang menjadi titik dilematis adalah, adanya beberapa prinsip-prisip Jawa dan Islam yang terasa—setidaknya bagi saya pribadi—berlawanan. Di Islam kita mengenal puasa atas segala sesuatu, menahan hawa nafsu, tidak boleh berlebihan dalam segala hal. Berbanding lurus dengan prinsip Jawa dimana kita harus nriman, opo onone, ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman dan lain-lain. Dikembalikan lagi kepada diri kita saat ini, bagaimana kita bisa menyikapi keadaan yang sudah sedemikian rupanya? jika meminjam istilahnya Mbah Nun, bagaimana caranya kita berjalan di sela-sela hujan deras?

Saya kira amat sangat tepat jika diistilahkan dengan hujan deras, karena apapun saat ini bisa diindustrikan. Label halal-haram juga tak lebih dari sekedar kebutuhan agar laku industrinya di pangsa pasar muslim, buku-buku yang menyudutkan kelompok lain, tulisan-tulisan yang katanya bernafaskan Islam namun malah mengafirkan golongan Islam yang lain. Bahkan ayat-ayat Al-Qur`an pun bisa diindustrikan saat ini, dipilih ayat mana yang sekiranya arti tekstualnya pas lalu dijadikan alat untuk menghalalkan segala kelakuannya. Ustadz, Kiai, Ulama bukan lagi gelar keramat dan sakral yang dinisbahkan dari masyarakat untuk seseorang yang alim. Namun saat ini orang sudah berani menisbahkan dirinya menjadi Ustadz, Kiai, Ulama dengan mudahnya. Kau bisa dan hafal dua ayat dan dua hadits beserta artinya, kau sudah bisa menjadi Ustadz di televisi dan media lainnya. Industrialisasi Ustadz dan Ulama saat ini juga sangatlah sedemikian parah, kau lebih percaya kepada seorang muallaf yang baru belajar Islam belum ada dua tahun dan sudah sedikit-sedikit bisa ndalil daripada Ulama sepuh yang sejak dia masih kecil hidup di pesantren sudah menjalani laku tirakat bahkan tidak berhenti laku-nya sampai saat ini bahkan sampai meninggal.

Mohon izin untuk sedikit bergeser ke ranah Media Sosial. Beberapa waktu yang lalu, ada tayangan video yang lumayan menjadi viral di beberapa media sosial Isinya tentang ajakan untuk meninggalkan sosial media yang saat ini justru menyita waktu untuk bertatap muka dengan dunia nyata, cenderung mengubah perilaku sosial manusia kepada sekitarnya. Sesuatu yang menarik hal adalah fakta-fakta yang diilustrasikan di video tersebut sangatlah sesuai dengan keadaan sekarang, hal yang sangat mudah kita jumpai saat ini adalah ada sekelompok remaja yang janjian disebuah tempat untuk ngopi bersama, ketika sudah sampai di tempat yang dijanjikan, mereka sangat sedikit ngobrol dan justru malah asik dengan layar HP masing-masing.

Media sosial saat ini memang sedang mengalami golden age. Berbagai macam jenis media sosial hadir mewarnai perjalanan hidup keturunan Adam sesuai dengan fungsinya masing-masing. Ada facebook, twitter, instagram, steller, dll. Positif negatif sudah barang tentu ada, dan kita tidak bisa serta-merta menyalahkan atau membenarkan media sosial. Ibaratnya, media sosial adalah sebuah pisau, pisau bisa bermanfaat jika digunakan untuk mengiris bawang, menyembelih hewan kurban dan akan menjadi sesuatu yang membahyakan jika digunakan untuk membunuh manusia.

Tak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari penggunaan media sosial, mulai dari jual-beli, berbagi ilmu, menyambungkan kembali silaturahmi yang terputus gara-gara tak pernah bertemu lagi, dan lain-lain. Namun, berbanding lurus dengan perkara tersebut, media sosial ternyata memang seolah sudah menjadi realisasi dunia gaib, sehingga lahir istilah dunia maya, dunia yang tidak kasat mata, namun kita yakini kita punya teman banyak didalmnya, punya harta, bahkan punya pasangan didalamnya. Media sosial juga saat ini seolah menjadi sebuah alat perang yang mengerikan, yang bisa meluncurkan “rudal” informasi apapun tanpa diketahui dari mana asalnya. Sudah banyak pertikaian di beberapa skala kecil masyarakat yang disebabkan adanya informasi yang bersifat adu domba dan menyulut permusuhan.

Melihat situasi sekitar yang saat ini sudah semakin carut-marut, kulit disangka isi dan permukaan disangka kedalaman. Pengaruh-pengaruh dari sebuah sistem tatanan baru di dunia yang semakin digemburkan oleh moncong senjata media sosial dan media massa, yang melahirkan generasi-generasi yang manja, yang pengecut dan tak mau belajar dengan laku dalam perjalanan hidupnya. Maka pantaslah Allah memerintahkan manusia dengan falyatanaffas. Bahwa hidup ini memang sebuah trek yang sudah didesain sedemikian rupa oleh Allah sebagai ajang perlombaan setiap manusia. Dan namanya perlombaan pasti ada hadiahnya, dan tentu saja hadiahnya Surga. Namun tidak usah terlalu pusing memikirkan hadiahnya, karena itu sudah barang yang otomatis. Sebaiknya dipikirkan saja bagaimana strategi memenangkan perlombaan ini di tengah situasi yang seperti ini.

Mengaca dari pengistilahan keadaan ini menjadi kosakata globalisasi, dan untuk bisa benar-benar menjalani sebuah mandat agung falyatanaffas, maka saya mohon izin menggunakan istilah falyataglobal (berbuatlah sesuatu yang bersifat global). Tak usah terlalu jauh memikirkan makna global (baik dengan –isasi atau tidak). Bukankah konsep global juga diajarkan di dalam Islam berupa rahmatan lil ‘alamin, yang juga sangat relevan dengan falsafah jawa memayu hayuning bawana? Bahwa perbuatan manusia haruslah bisa menjadi rahmat dalam rangka memayu terhadap ‘alamiin agar supaya tetap terjaga dan terus saling menjaga akan hayuning bawana.

Tidak ada kemampuan pada manusia untuk ‘sampai’, tetapi wajib ada padanya perjuangan untuk ‘menuju’. (Emha Ainun Nadjib)

Selamat berlomba, wahai al-mutanaffisuun.

Blitar, 30 Mei 2016
Muhammad Humaidi,
Jamaah Maiyah Balitar

Ketika membaca Daur 115, Jam Terbang Bopo Adam beberapa waktu lalu, tiba-tiba ide ini muncul. Entah mengapa judul tersebut yang terlintas, entah masih…