Etos ‘InsyaAllah’

Saya sangat bersyukur, dari ribuan orang di negeri ini kok ya saya ikut menjadi bagian dari orang yang diberi kesempatan mengenal ilmu Maiyah. Bagitu banyak cakrawala ilmu Mbah Nun, diantaranya dituangkan dalam Daur.

Membaca Daur, seolah saya merasakan menjadi bagian dari anak-cucu yang sedang dibelai dengan lembut dan penuh kasih sayang oleh Mbah Nun. Seolah saya tidak ingin terlewatkan satu hari pun, saya selalu berusaha menyempatkan menyimaknya setiap hari. Kadang kala saya merasa tak sanggup mencerna, tetapi tak apa, yang penting tetap membacanya. Karena ketika saya terlewat tidak membaca, yang muncul adalah rasa ‘ora kepenak‘ yang demikian sangat.

Kali ini saya ingin mengutip sebuah penggalan di Daur 91Baginda Kharmiyo bin Sulaiman

Kesalahan Baginda Sulaiman adalah tidak mendahului pernyataannya itu dengan kata dan etos ‘insyaallah’. Maka Allah mengkritiknya secara sangat keras dan radikal. Hanya seorang istri yang hamil, itu pun kemudian melahirkan anak yang cacat dan sangat lemah. Baginda Sulaiman lemas badannya di singgasana sambil memandangi bayi cacatnya. Baru kemudian memohon ampun dan bertobat kepada Tuhan.

Wah, begitu dahsyatnya kata dan etos ‘insyaallah’. Sedangkan saat ini kata insyaallah seringkali dipakai sebagai etos menolak ketidaksanggupan misalnya untuk menghadiri suatu acara. Dari pada janji, orang cari aman memilih ber-‘insyaallah’.

Selain makna ‘insyaallah’, makna lainnya yang dapat kita petik dari penggalan Daur tersebut adalah bahwa kita boleh mempunyai seribu keinginan, ingin semua urusan kita beres. Tetapi bagaimanapun, kita tidak bisa memaksakan keinginan kita tersebut.

Seperti misalnya yang saya rasakan saat saya merencanakan pekerjaan saya ketika harus angkut-angkut barang, dari siang menjemput barang lalu esok paginya mengembalikan selekas mungkin. Semua itu sudah saya plan dengan sangat rapi. Tetapi mendadak ternyata, kendaraan yang saya rencanakan akan saya gunakan untuk mengangkut tidak siap. Hati ini terasa mededeg kepada diri sendiri. Bagaimana ini, kok tidak sesuai rencana.

Tetapi kemudian ingat penggalan Daur tersebut, lalu saya maknai saja: “Oh, memang kan saya tidak punya mobil”. Lalu jeda sejenak, saya temukan makna yang lebih tepat menurut saya: “Oh, memang Tuhan maunya seperti ini.”

Saya menemukan makna bahwa etos ‘insyaallah’ adalah sebuah kondisi di mana kita memadukan upaya kita memenuhi janji-janji dan rencana-rencana, dengan kemauan Tuhan. Ketika kita sudah ber-‘insyaallah’ maka lakukanlah semaksimal mungkin sembari di dalam hati kita sandarkan sepenuhnya hasilnya pada kemauan Tuhan.

Karena kita tidak tahu kadar kebenarannya, yang tahu hanyalah Tuhan. Kemauan Tuhan-lah yang benar-benar sebuah kebenaran. Kemauan Tuhan-lah yang benar-benar akan berlaku.